Saat Jokowi Diajari Bahasa Sabang, Dayak, dan Merauke oleh Mahasiswa

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila (Foto: Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila (Foto: Biro Pers Setpres)

Pada setiap kesempatan, Presiden Joko Widodo selalu memberikan hadiah sepeda kepada masyarakat. Hal tersebut juga ia lakukan di acara peluncuran Program Penguatan Pancasila di Istana Bogor.

Acara yang diinisiasi oleh Unit Kerja Presiden bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) ini mengundang 540 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan dari 110 perguruan tinggi negeri dan swasta.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi pun sempat meminta dua orang mahasiswa yang berasal dari Sabang dan Merauke untuk maju ke depan. "Di sini ada yang dari Sabang? Ada yang dari Merauke?" tanya Jokowi di Istana Bogor, Kompleks Istana Kepresidenan, Jawa Barat, Sabtu (12/8).

Kemudian dua mahasiswa yang merasa berasal dari dua daerah yang disebutkan oleh Jokowi pun berdiri. Jokowi kemudian meminta keduanya untuk maju.

"Coba dari Merauke sini. Kenalkan," pinta Jokowi.

"Perkenalkan nama saya Ruvinus Kaimbe," jawab seorang mahasiswa asal Merauke.

Kemudian Jokowi meminta mahasiswa yang dari Sabang untuk memperkenalkan diri. "Perkenalkan nama saya Dedi Iskandar, saya dari Kota Sabang, Aceh," terang kata dia.

Jokowi lalu menerangkan bahwa dirinya sudah tiga kali ke Merauke, ke Sabang satu kali, dan Aceh berkali-kali.

Ia lantas meminta agar kedua mahasiswa ini bercerita apa saja, namun dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. "Kalau ngomong di Merauke gimana? Coba, pakai bahasa daerah. Ngomong saja. Saya ingin ngomong kok. Ngomong saja bahasa Merauke," kata Jokowi.

Ruvi, panggilan akrab mahasiswa asal Merauke pun berbicara. Ia berkata "Izakod Bekai Izakod Kai".

"Satu hati, satu tujuan," ujar dia mengartikan.

Mendengar perkataan Ruvi, spontan Jokowi mengingatkan.

"Jangan diterjemahkan dulu. Ngomong saja pakai bahasa Merauke. Ngomong saja bahasa Merauke. Bicara saja apa itu," tegas Jokowi.

Ruvi pun lalu menjawab kalau ia pakai bahasa Merauke tidak ada yang tahu peserta. Namun ia pun kemudian mengulang kembali perkataannya.

"Izakod bekai izakod kai," ucap Ruvi.

Merasa perkataan itu diulang Ruvi, Jokowi meminta ia bercerita apa saja asalkan menggunakan bahasa Merauke.

"Cerita dari Merauke ke sini naik apa. Tapi pakai bahasa sana," jelas Jokowi.

Ruvi lalu mengulang pertanyaan Jokowi. Sehingga Jokowi merasa heran.

"Ini jangan-jangan bahasa daerahnya sudah lupa," ucap Jokowi.

"Enggak pak, paket langsung dari kampung. Asli pak?" jawab Ruvi.

Ruvi lalu bercerita perjalanannya dari Merauke ke Jakarta menggunakan bahasa daerah. Kemudian Jokowi mengartikannya.

"Ya sudah, ya sudah. Saya terjemahkan ya. Saya dari Merauke ke Makassar, baru ke Jakarta, dan langsung ke Bogor. Gitu ya?" jawab Jokowi.

Mendengar Jokowi mengartikan ucapan Ruvi, peserta yang hadir saat itu kemudian bertepuk tangan. Ruvi pun hanya mengangguk bahwa apa yang diartikan Jokowi betul.

Jokowi lalu minta Dedi untuk menceritakan perjalanannya dari Aceh ke Bogor menggunakan bahasa daerah. Namun kali ini, Jokowi mengaku tidak bisa mengartikannya.

"Saya pernah tinggal di Aceh 2,5 tahun. Tapi enggak bisa menterjemahkan yang ini," kata Jokowi.

Setelah selesai Ruvi dan Dedi bercerita menggunakan bahasa daerah masing-masing, Jokowi kemudian meminta salah satu mahasiswa yang berasal dari Dayak untuk maju.

Sama seperti sebelumnya, Jokowi meminta mahasiswa itu untuk memperkenalkan diri dan bercerita menggunakan bahasa daerahnya. Selesai mahasiswa asal Dayak itu bercerita, Jokowi lalu bertanya ke peserta.

"Kamu bisa menerjemahkan enggak? Enggak kan? Itulah perbedaan kita. Dayak sendiri juga bukan hanya satu. Ada berapa? Banyak sekali juga. Namanya siapa?" terang Jokowi.

"Seba," jawab mahasiswa itu.

Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila (Foto: Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila (Foto: Biro Pers Setpres)

Jokowi kemudian memberikan pertanyaan kepada Seba.

"Hafal Pancasila tidak?" tanya Jokowi.

"Hafal," jawab Seba.

Lalu Seba menyebutkan sila-sila di Pancasila. Di akhir, Seba kemudian meneriakkan yel-yel mahasiswa.

"Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat!," sahut Seba lantang.

Mendengar hal itu, Jokowi pun memberi komentar.

"Ini yang saya tunggu. Ini yang saya tunggu," kata Jokowi.

Tepuk tangan pun kemudian membahana di Istana Bogor. Terakhir Jokowi lalu memberikan hadiah sepeda kepada ketiga mahasiswa yang sudah maju ke depan.

"Karena sepedanya enggak ada di sini, bisa saya kirim langsung ke rumahnya masing-masing. Nanti ditinggalkan alamatnya di ajudan," kata Jokowi.