Saat KPAI Minta Dedi Mulyadi Evaluasi Program Barak Militer untuk Pelajar

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra. Foto: Indtagram/ @jasraputra
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra. Foto: Indtagram/ @jasraputra

Komisioner KPAI, Jasra Putra, mengungkapkan hasil temuan pihaknya terkait program siswa di Jawa Barat yang bermasalah, dididik ke barak militer.

Apa saja yang jadi sorotan KPAI?

Berikut kumparan rangkum, Sabtu (17/5):

  1. Belum Ada Standar Baku

Jasra mengatakan, dari pengawasan KPAI belum terdapat standar baku dalam penyelenggaraan program seperti belum ada panduan, petunjuk teknis, standar operasional prosedur. Hal itu, kata dia, mengakibatkan adanya perbedaan pola pelaksaan 2 yang dikunjungi baik Purwakarta, Lembang.

"Dan perbedaan tersebut mencakup struktur program, ketersediaan sarana prasarana, rasio antara peserta dan pembina serta metode pengajaran mata pelajaran sekolah yang tidak seragam meskipun berasal dari jenjang kelas dan jurusan yang berbeda," kata Jasra dalam konferensi pers hasil pengawasan KPAI terkait pelaksanaan program pendidikan karakter Pancawaluya yang digelar secara virtual, Jumat (16/5).

"Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu hasil dari program secara keseluruhan," sambungnya.

  1. Sebagian Tak Tahu Alasan ke Barak

Lebih lanjut, dia mengatakan latar belakang siswa yang mengikuti program di dua barak militer di Lembang dan Purwakarta faktor penyebab utamanya adalah kebiasaan merokok, disusul perilaku sering membolos dan keterlibatan dalam tawuran.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampaikan LPKJ 2024 dalam rapat paripurna di gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (21/3/2025). Foto: Humas Pemprov Jabar

"Selain itu sebanyak 6,7% siswa menyatakan tidak mengetahui alasan mereka mengikuti program. Temuan ini menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap ketepatan sasaran peserta dalam pelaksanaan program," kata dia.

Jasra juga mengatakan, peserta program tidak ditentukan berdasarkan asesmen psikolog profesional, melainkan hanya rekomendasi guru BK.

"Bahkan ada ancaman bahwa siswa yang menolak mengikuti program bisa tidak naik kelas," tuturnya.

  1. Minta Dedi Mulyadi Evaluasi

KPAI meminta Pemprov Jawa Barat khususnya Gubernur Dedi Mulyadi mengevaluasi menyeluruh dalam merumuskan program siswa dididik ke barak militer.

"Program pendidikan karakter pancawaluya Jawa Barat istimewa yang telah berjalan saat ini cukup dilakukan untuk satu tahap saat ini," kata Jasra.

"Dan tahap selanjutnya perlu dilakukan evaluasi menyeluruh untuk merumuskan model program serta standar yang sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan anak," ujarnya.

Jasra mengatakan, Pemprov Jawa Barat juga perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terkait perubahan perilaku peserta program selama proses pendidikan dan setelah mengikuti program secara berkala.

"Pemerintah daerah perlu mempersiapkan peran orang tua, sekolah, dan lingkungan untuk mendukung berkelanjutan perubahan perilaku anak pada fase reintegrasi sosial," ujarnya.

"Pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan evaluasi kinerja lembaga layanan perlindungan anak di wilayah masing-masing," tambahnya.