Saat Napi Kasus Narkoba Dilatih Jadi Peternak Ayam hingga Penjahit

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Kesan menyeramkan tak lagi nampak dari narapidana yang berada di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta. Di sana, mereka dilatih dengan berbagai kemampuan, mulai dari beternak ayam hingga menjahit pakaian.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Syarpani, mengatakan pihaknya tengah mendorong transformasi pembinaan melalui program “Dari Binaan Menjadi Entrepreneur”.

“Lapas Narkotika Jakarta baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan mitra-mitra kerja, akan menjadikan motto kami dari binaan menjadi entrepreneur,” kata Syarpani di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5).

Menurut dia, program tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang menempatkan lapas sebagai ruang pembinaan, termasuk dalam aspek kemandirian ekonomi.

“Salah satu pembinaannya adalah kemandirian. Bagaimana menciptakan warga binaan setelah bebas mempunyai keterampilan dan ada yang menampung di luarnya dengan kita bermitra,” ujarnya.

Aktivitas warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Salah satunya, para narapidana ini dilatih menjadi penjahit untuk bekerja di sektor garmen. Syarpani menjelaskan, untuk unit garmen, lapas bekerja sama dengan pihak ketiga yang menyediakan bahan baku, pelatihan, serta jalur pemasaran.

“Ada kami garmen yang menerima pesanan pakaian narapidana seluruh lapas dan rutan seluruh Indonesia. Serta ada Ramayana juga memesan dengan kami,” katanya.

Selain produksi garmen, lapas juga memiliki sejumlah unit pembinaan lain seperti budidaya ayam petelur, perikanan, pembuatan roti, kerajinan kayu, seni, hingga layanan cukur rambut.

Aktivitas warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Aktivitas warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
Aktivitas Warga Binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Untuk peternakan ayam, lapas saat ini mengelola sekitar 1.700 ekor ayam dengan hasil produksi sekitar 1.500 butir telur per hari saat masa panen.

Tak hanya membekali keterampilan teknis, warga binaan juga mendapatkan sertifikat kompetensi resmi sebagai modal saat kembali ke masyarakat.

Yayasan Qudwah Al Barosiyah menjadi salah satu mitra yang melaksanakan pembinaan bagi para napi. Pimpinan yayasan itu, Dewi Rahmawati, menjelaskan kerja sama pembinaan telah berjalan sejak 2005.

“Antusiasme warga binaan terhadap pelatihan kemandirian cukup tinggi. Mereka sangat menikmati seluruh pembelajaran yang disampaikan oleh instruktur. Selain itu, mereka juga mendapatkan sertifikat kompetensi resmi dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi,” kata Dewi.

Menurut dia, peserta pelatihan dipilih melalui asesmen minat, lalu dibekali keterampilan teknis serta materi pembentukan karakter setiap hari.

“Setiap pagi kami juga memberikan materi character building. Jadi mereka tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga pembinaan karakter,” ujarnya.

Ia menegaskan, tujuan akhir dari pembinaan tersebut adalah menyiapkan warga binaan agar mampu mandiri secara ekonomi setelah bebas.

“Tujuannya agar ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya memiliki kemampuan kerja, tetapi juga siap menjadi entrepreneur atau wirausahawan,” katanya.

Napi Bebas Akan Diberi KUR

Aktivitas Warga Binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Untuk mendukung keberlanjutan usaha setelah bebas, Lapas Narkotika Jakarta juga menggandeng sejumlah lembaga eksternal, salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Bank ini akan membuka akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi warga binaan yang telah menyelesaikan masa pidana.

Selain itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) juga dilibatkan untuk memberikan pelatihan kewirausahaan dan membuka peluang jejaring usaha.

“Nanti Hipmi dan Kadin akan membantu menyalurkan atau menerima usaha-usaha apa saja yang dimiliki oleh warga binaan,” ujar Syarpani.

Upaya ini diharapkan bisa memberikan kesempatan kedua bagi para napi untuk kembali menjalankan kehidupannya setelah bebas.