Saat Ragunan Jadi Pilihan Pasutri Asal Bogor Nikmati Malam Minggu
·waktu baca 3 menit

Langkah ribuan pengunjung datang bersama keluarga, teman, atau pasangan untuk menjajal wisata malam perdana di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10).
Dari arah pintu utara, tampak sepasang muda-mudi berjalan pelan sambil bergandengan. Fera (21) dan Turmuji (24), pasangan suami istri asal Bogor, menjadi satu dari sekian banyak pengunjung yang datang karena rasa penasaran.
“Iseng aja sih sebenarnya, mau main malam minggu terus tahu katanya Ragunan tuh buka malam, jadi pengen tahu ternyata kayak gini gitu,” ujar Fera sambil tersenyum.
Malam itu, mereka baru saja tiba dan mulai berkeliling di area depan kebun binatang. Cahaya lampu taman cukup menerangi jalur pedestrian, meski semakin ke dalam, suasana makin temaram.
“Belum lama sih, baru jalan aja baru mutar-mutar dikit,” katanya.
Fera, yang kini tengah hamil muda, memilih datang bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Bogor. Keduanya tidak punya target khusus selain menikmati suasana malam di kebun binatang. “Bawa motor aja sih, boncengan nih, iya,” ucapnya ringan.
Meski Ragunan baru saja membuka wisata malamnya, Fera menilai ide tersebut menarik, selama dilakukan secara bijak.
“Kalau enggak tiap hari sih, enggak masalah sih kayaknya. Cuma kayaknya kalau tiap hari ngeganggu si hewannya enggak sih kalau sampai malam, berisik, kasihan buat waktu istirahat. Kayak kita aja manusia kalau keganggu,” tuturnya.
Ia menambahkan, penerangan di jalur jalan kaki sudah cukup, meski area kandang hewan terasa gelap.
“Kalau penerangan sih kalau buat ngelihat hewan kan emang enggak kelihatan, mungkin sengaja ya. Tapi kalau buat jalan-jalan kaki di jalanannya udah cukup sih,” ujar Fera.
Fera mengaku, dirinya dan Turmuji akan kembali pulang jika mereka sudah lelah.
“Sampai capek sih. Kalau udah pegel, udah sakit perut, pulang aja. Jalan kaki sehat buat bumil,” ucap Fera sembari tertawa kecil.
Selain suasana malam yang baru, alasan sederhana juga jadi pertimbangan mereka datang.
“Iya karena emang masih murah sih. Mungkin kalau harganya naik ntar mikir lagi,” katanya.
Dari Jogging hingga Cari Teman Baru
Tak jauh dari mereka, dua pengunjung lain tampak bercakap di tepi jalur pejalan kaki. Raihan (19) dan Kiki (27), yang ternyata baru saling kenal di Ragunan malam itu.
“Enggak (kenal) baru ketemu di sini tadi,” kata Kiki sambil tertawa kecil.
Raihan menimpali, “Awal ceritanya gara-gara bawanya e-money. Sama satpam enggak boleh. Katanya pakai kartu Bank DKI, jadi cari teman.”
Keduanya memang datang untuk berolahraga pada malam hari. Selain itu, juga karena hari ini, program ‘Night at the Ragunan Zoo’ perdana dilaksanakan.
“Karena perdana. Iya, coba pengen lihat gimana sih keadaan Ragunan kalau dibuka malam hari,” kata Raihan.
Namun, ada sedikit kekecewaan dari keduanya. Trek jogging yang biasanya jadi favorit masih ditutup.
“Disayangin banget sih ya. Soalnya trek larinya itu kan bener-bener enak buat lari. Pas ditutup, juga sedikit kecewa sih,” kata Kiki.
Meski begitu, mereka tetap memanfaatkan lintasan yang tersedia. Hanya saja, menurutnya, penerangan masih perlu diperbanyak.
“Ya, harus dikembangkan setiap jalan dari pencahayaan. Setiap pencahayaannya masih kurang,” tandasnya.
Meski ada catatan soal penerangan, baik pasangan asal Bogor maupun dua pelari malam itu sama-sama sepakat: wisata malam Ragunan menawarkan pengalaman yang berbeda.
