Saat RI Era SBY Turun Tangan Bantu Selesaikan Konflik Thailand-Kamboja
ยทwaktu baca 3 menit

Pemerintah Indonesia mengatakan akan memantau dengan saksama dalam merespons konflik perbatasan Thailand-Kamboja yang kembali memanas. Dahulu Indonesia lebih aktif dalam menengahi konflik ini.
Menurut catatan kumparan, peran aktif Indonesia terjadi pada 2011 atau pada periode kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Terutama setelah kedua pasukan negara bertetangga tersebut bentrok pada awal 4-7 Februari 2011--sebanyak 7 orang disebut tewas.
Peristiwa ini bermula ketika PM Kamboja saat itu Hun Sen meminta bantuan kepada Dewan Keamanan PBB membantu penanganan konfliknya dengan Thailand. DK PBB merespons positif lalu menunjuk Indonesia, yang sedang menjadi Ketua ASEAN, untuk turun tangan.
Dalam pertemuan di DK PBB itu, perwakilan Indonesia adalah Marty Natalegawa yang kala itu menjabat Menteri Luar Negeri. Dari sana ketiga negara melakukan pertemuan non-formal di Jakarta tepatnya pada 22 Februari 2011.
Hasil pertemuan itu salah satunya adalah Kamboja-Thailand sepakat untuk menempatkan 30 observer Indonesia di wilayah perbatasan yang disengketakan.
Ketiga negara kemudian kembali duduk bersama di Istana Bogor pada 7-8 April 2011. Rapat itu bertajuk the Joint Border Committee (JBC) Meeting diawali oleh masing-masing perwakilan Kementerian Luar Negeri: Indonesia Marty Natalegawa, Kamboja Hor Namhong, dan Thailand Kasit Piromya. Usai pertemuan tingkat menteri, keesokan harinya pertemuan dilanjutkan di tingkat kepala negara.
Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin rapat yang diikuti oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva.
Ada dua elemen kunci yang dibahas dalam pertemuan yang berlangsung tertutup itu. Yakni, bagaimana memastikan gencatan senjata yang berkelanjutan dan menghindari konflik bersenjata di wilayah perbatasan.
Hasil dari pertemuan itu tidak memberikan dampak yang signifikan dan harapan berlanjut ke ASEAN Summit.
"Pertemuan di Bogor pada Kamis dan Jumat lalu dilanjutkan dengan pertemuan tidak resmi keesokan harinya antara Indonesia, Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong, dan Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya, sebagai bagian dari upaya penyelesaian diplomatik," ujar Marty dikutip dari Antara edisi 4 Mei 2011.
Namun hingga ASEAN Summit pada Mei 2011, solusi tidak kunjung tercapai untuk menyelesaikan konflik perbatasan kedua negara. Bahkan, Thailand, khususnya pihak militer, menolak solusi observer Indonesia di perbatasan dengan dalih tidak diperlukan lagi, meski sebelumnya sempat sepakat.
Alhasil, lantaran prinsip non-intervensi yang dianut ASEAN, ide itu tak bisa dilaksanakan. Tim observer dari Indonesia tetap di Jakarta dan baku tembak hingga bentrokan di perbatasan masih terus terjadi pada 2011 lalu.
Konflik di perbatasan itu kini memanas kembali. Thailand meluncurkan 6 jet tempur F-16 guna membalas serangan roket Kamboja usai baku tembak pecah di perbatasan mereka pada Kamis (24/7/2025) pagi.
Sedikitnya 16 orang dari kedua negara tewas akibat saling serang di perbatasan yang menjadi titik didih sengketa kedua negara.
