Saat Skatepark Slipi Jadi Rumah Kedua: Tempat Melepas Penat-Bertemu Kawan Baru

Suara roda bergesekan dengan lantai berpadu dengan bunyi papan skateboard yang sesekali menghantam besi. Di bawah Flyover Slipi, Jakarta Barat, ruang itu menjadi tempat anak-anak muda menghabiskan waktu dengan cara mereka sendiri.
Mereka membawa skateboard dan juga sepatu roda sembari bergantian menggunakan alat rintang (obstacle) yang tersedia. Ada yang mencoba trik baru, ada pula yang jatuh lalu bangkit lagi.
Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin hanya sebuah skatepark. Namun bagi mereka yang rutin datang, Skatepark Slipi punya arti yang lebih jauh, bahkan lebih dari sekadar tempat olahraga.
Salah satunya Rizal (29), pria asal Jakarta yang sudah mengenal skateboard sejak berusia 17 tahun. Namun karena bekerja, ia kini hanya sempat datang ke Skatepark Slipi sekitar sekali dalam sepekan.
“Paling seminggu sekali aja sih, karena kerja juga,” ujar Rizal saat ditemui kumparan di lokasi, Sabtu (12/9).
Ia mengenal Skatepark Slipi dari seorang teman ketika tempat tersebut mulai dibuka. Sejak itu, ia sesekali datang untuk bermain. Bukan sekadar belajar trik baru, Rizal datang untuk mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan.
“Melepas stres aja sih dari beban pekerjaan, kadang kayak gitu. Terus ya buat fun-fun aja, ngisi waktu kosong sama buat ya sempatin berkeringatlah,” ungkap dia.
Menurut Rizal, fasilitas yang tersedia di Skatepark Slipi juga menjadi alasan tempat tersebut nyaman digunakan untuk bermain.
“Fasilitas mendukung banget sih buat skatepark-nya dan proper banget untuk obstacle-obstacle-nya,” jelasnya.
Di tempat yang sama, pemain berpengalaman seperti Rizal juga berbaur dengan mereka yang baru mengenal skateboard. Salah satunya Sambo (18), pemuda asal Palmerah yang baru dua bulan menekuni olahraga tersebut.
Berbeda dengan Rizal yang sudah bermain selama bertahun-tahun, Sambo justru langsung menjadikan Skatepark Slipi sebagai tempat belajarnya sejak pertama mengenal skateboard.
“Baru dua bulan, Bang,” kata Sambo
Dalam sepekan, ia bisa datang tiga hingga empat kali jika ada waktu luang. Kadang ia datang bersama teman, tetapi tidak jarang pula datang seorang diri. Bagi Sambo, Skatepark Slipi terasa sebagai tempat yang nyaman untuk belajar.
“Tempatnya lebih enak lah buat belajar daripada di tempat-tempat lain,” ungkapnya.
“Sukanya sih ya banyak teman-teman, Bang, di sini. Bisa kenal orang baru juga, diajarin,” lanjut Sambo.
Dua bulan belajar skateboard tentu bukan perjalanan tanpa jatuh. Sambo mengaku sudah berkali-kali terjatuh saat mencoba berbagai gerakan. Namun, dukungan dari teman-temannya membuat ia kembali mencoba.
“Di-support sama teman, disemangatin. Yang tadinya niatnya kayak udah enggak mau, udahan, kayak jatuh cedera gitu kayak jadi disemangatin teman, Bang. Jadi main lagi, gitu,” tuturnya.
Bagi Sambo, dukungan itu membuat skatepark bukan sekadar tempat berolahraga. Ketika bosan berada di rumah atau sedang menghadapi masalah dengan orang tua, ia memilih datang dan bermain.
“Menurut saya sih iya sih. Karena saya kalau kayak bosan di rumah, enggak tahu mau ngapain, ya saya main skate," kata Sambo.
Tak Hanya untuk Skateboard, tapi Juga Sepatu Roda
Di bawah flyover itu pula, skateboard bukan satu-satunya olahraga yang mengambil ruang. Para pemain sepatu roda turut menggunakan fasilitas yang tersedia. Fajar (28), perantau asal Bandung yang bekerja di Jakarta, menjadi salah satu pemain sepatu roda yang memanfaatkan tempat tersebut.
Ia baru sekitar lima bulan menekuni sepatu roda. Awalnya, ia hanya mencari kegiatan untuk mengisi waktu setelah pulang bekerja. Sebagai perantau, ia tak ingin waktu luangnya hanya dihabiskan di kamar kos.
“Awal mulanya pengin ada kegiatan di Jakarta ini karena kan setelah pulang kerja bingung mau ngapain gitu. Lagian orang ngerantau juga kan, di kos juga gabut kan,” kata Fajar.
Fajar mengetahui keberadaan Skatepark Slipi dari media sosial. Setelah melihat orang-orang bermain sepatu roda di tempat tersebut, ia pun mencoba datang. Dia pun cukup terkesan saat pertama kali bermain di Skatepark Slipi.
“First impression-nya sih emang favorit, favorit orang-orang gitu. Saya juga merasanya sudah mah luas gitu. Kita juga di sini sharing juga sama anak-anak pemain skateboard,” ungkap Fajar.
Sebagai pemain yang masih pemula, Fajar sempat merasa takut mencoba berbagai rintangan. Namun, kondisi tempat membuatnya berani mencoba.
“Bagi saya yang pemula sih agak takut-takutan juga, tapi karena si tempatnya bersih, nyaman, terus mulus juga, jadi nyoba-nyoba dan dapat feel-nya sih gitu. Enak aja sih, enak banget gitu. First impression-nya enak banget, kayak gitu,” katanya.
Ada satu hal lain yang menurut Fajar membuat Skatepark Slipi terasa berbeda dibandingkan tempat lain, yaitu lokasinya yang berada di bawah flyover.
“Kelebihannya di Slipi Park ini sih dia karena di bawah kolong jembatan flyover ya. Nah, ini tuh jadi lebih adem aja gitu. Enak, terus anginnya sepoi-sepoi, sejuk, jadi enggak panas,” ungkapnya
Di tempat itu pula Fajar melihat bagaimana pemain dari berbagai jenis olahraga berbagi ruang. Menurutnya, tidak ada persoalan berarti antara pemain skateboard dan sepatu roda. Mereka saling menghormati ketika menggunakan obstacle.
“Enggak ada masalah. Tadi juga sama-sama respect kayak gantian pakai obstaclerings-nya kalau enggak salah tiangnya gantian. Tadi enak sih, maksudnya pada respect juga gitu. Terus yang jatuh juga kayak disemangatin, kayak gitu sih,” kata Fajar.
Bagi tiga orang dengan latar berbeda itu, Skatepark Slipi memiliki alasan masing-masing untuk didatangi. Namun, mereka bertemu pada satu hal: keinginan untuk tetap menjaga ruang tersebut.
Menjaga Skatepark Bersama
Rizal menilai kondisi skatepark sebenarnya sudah sangat baik. Ia hanya berharap para pengguna lebih peduli terhadap kebersihan.
“Kalau untuk diharapkan paling apa ya? Kebersihan sih sebenarnya. Kebersihan kadang ketika sampai itu, sampah-sampah itu berserakan,” tutur Rizal.
“Dan mungkin lebih kayak ke yang pada mainnya aja sih lebih aware untuk jaga kebersihan aja sih. Sebenarnya kalau untuk skatepark-nya udah bagus, udah bagus banget. Tinggal kita aja yang menjaga skatepark ini,” lanjutnya.
Fajar memiliki harapan serupa. Ia ingin fasilitas yang ada dapat dikembangkan, tetapi pada saat yang sama para pengguna juga ikut merawatnya.
“Untuk ke depannya mungkin bisa ditambah lagi si obstacle-nya dan luasnya gitu ya. Emang sudah luas sih, sudah enak juga. Cuman kalau bisa ya mungkin lebih ditambah lagi aja, dibangun lagi gitu,” kata Fajar.
“Jangan buang sampah sembarangan gitu. Sama-sama menjaga agar nyaman dan tetap bersih gitu,” tambahnya.
Di bawah Flyover Slipi, papan skateboard dan sepatu roda mungkin hanya menjadi alat untuk bergerak. Tetapi bagi mereka yang datang, ruang itu menawarkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih berarti.
Bagi mereka, tempat tersebut telah menjadi lebih dari sekadar ruang untuk meluncur. Akan tetapi, menjadi semacam rumah kedua, tempat untuk melepas penat, menemukan kawan, hingga kembali mencoba setiap kali jatuh.
