Sabrina Pasterski, Millennial Jenius Berdarah AS-Kuba

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sabrina Pasterski (Foto: www.softrevolutionzine.org)
zoom-in-whitePerbesar
Sabrina Pasterski (Foto: www.softrevolutionzine.org)

Setelah Donald Trump terpilih, anggapan bahwa masyarakat Amerika Serikat hanyalah sekelompok orang bodoh yang kebetulan tinggal di negara adikuasa, bagi sebagian orang makin terasa benar.

Tapi tunggu dulu. Dengarkan cerita ini.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya 12 Februari 2007, selembar sertifikat terbang pesawat rakitan diterbitkan oleh Federal Aviation Administration Amerika Serikat. Pesawat tersebut menggunakan mesin tunggal, sebuah Continental O-200 berpendingin udara, memiliki empat silinder, dan mampu mengeluarkan 90-100 tenaga kuda.

Pesawat dengan fixed-wing yang dibuat selama satu tahun itu mampu mengangkut dua orang penumpang. Pesawat itu didaftarkan dengan nama pabrikan Sabrina Aircraft Manufacturing.

Saat itu sang pembuat pesawat terbang, seorang perempuan muda, berdiri di kejauhan, dengan pakaian musim dingin untuk melawan suhu nyaris beku Massachusetts.

Saat tanda “OK” dibubuhkan pada sertifikat izin terbangnya, si perempuan tersenyum. Terbang bukan hal baru baginya.

Setahun sebelumnya, ia terbang solo di Kanada. Dunia penerbangan memang menjadi minatnya, dan ketertarikan itu ia tuntaskan dengan menjadi seorang penerbang sampai berhasil membuat satu pesawat rakitan dengan tangan sendiri.

Judul pabrikan Sabrina Aircraft Manufacturing berasal dari namanya sendiri. Ia seorang perempuan menawan berdarah Amerika-Kuba, bernama lengkap Sabrina Pasterski.

Catat ini, saat sertifikat itu diterbitkan, Sabrina masih berusia 14 tahun. Seorang millennial yang luar biasa.

Sabrina Pasterski (Foto: Ozy.com)
zoom-in-whitePerbesar
Sabrina Pasterski (Foto: Ozy.com)

Saat ini Sabrina tengah menuju umur 24 tahun. Jagat penerbangan tradisional tak lagi menjadi ketertarikannya yang utama. Ia terbang lebih tinggi lagi.

Sabrina kini menjelajah isu-isu paling kompleks dan maju dalam dunia fisika, seperti yang dipelajari Stephen Hawking dan Albert Einstein di awal karier cemerlang mereka.

Riset Sabrina menyentuh perhitungan tentang lubang hitam, fitrah dari gravitasi, dan ruang-waktu. Ia secara khusus mencoba memahami soal gravitasi kuantum.

Sabrina berharap bisa menemukan penjelasan soal fenomena gravitasi dalam konteks mekanika kuantum --cabang dasar fisika yang menggantikan mekanika klasik pada tataran sistem atom dan subatom

Penemuan yang berhasil di bidang mekanika kuantum akan benar-benar mengubah cara pandang manusia tentang sistem kerja alam semesta.

Dengan minat dan kemampuannya, Sabrina menjadi incaran banyak perusahaan dan lembaga. Namanya dicatat oleh Badan Antariksa Nasional AS atau National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Sabrina juga sangat dinanti oleh Jeff Bezos, penemu Amazon.com sekaligus ilmuwan pengembang aerospace di Blue Origin --perusahaan dirgantara dengan moto mengembangkan transportasi angkasa dan meluncurkan sistem untuk memertahankan keberadaan manusia di jagat raya.

Istimewanya lagi, NASA dan Blue Origin telah menawari Sabrina pekerjaan. Dan Sabrina enteng saja menggantungkan pinangan-pinangan tersebut.

video youtube embed

Sabrina juga anak emas dari generasi fisikawan muda AS. Dari 7.329 sarjana fisika AS tahun 2013, Sabrina lah yang paling mencuat. Nima Arkani-Hamed, profesor di Princeton University dan pemenang Fundamental Physics Prize di AS tahun 2012, mengatakan telah mendengar banyak “hal fantastis” tentang Sabrina.

Dikutip dari Ozy, Nima mendengar nama Sabrina dari seorang Profesor Harvard, Andrew Strominger. Strominger bukan orang sembarangan. Tahun lalu ia menerbitkan paper berjudul Soft Hair on Black Holes bersama Stephen Hawking yang masyhur itu.

Sabrina juga menerima ratusan ribu dolar beasiswa dari Hertz Foundation, Smith Foundation, dan National Science Foundation.

Meski millennial, Sabrina justru tak tenggelam dengan apa yang biasanya dilakukan kaum millennial. Ia tak punya Facebook, LinkedIn, ataupun Instagram. Bahkan, setidaknya hingga 2016, ia tak punya ponsel pintar!

Bagaimanapun, Sabrina memiliki website pribadi bernama PhysicsGirl. Website ini berisi deretan pencapaian serta dokumentasi publik yang diraih Sabrina. Di situ ada kisah tentang bagaimana ia mendapatkan kualifikasi A di program kandidasi PhD Harvard yang sampai saat ini ia ikuti; ada juga penjelasan bahwa indeks prestasi (IP) Sabrina mencapai 5 dari maksimal 5 saat ia menempuh sarjana di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2010-2013.

Pada website itu tertulis pula pencapaian Sabrina yang meraih penghargaan untuk 30 orang terbaik di bawah umur 30 tahun versi Majalah Forbes; juga diceritakan bagaimana Sabrina masuk daftar Young Women's Honors Education/Genius Award tahun ini.

Singkatnya, website tersebut seperti curriculum vitae digital Sabrina agar orang-orang mengetahui apa saja yang telah ia raih dan lakukan.

Jelas, Sabrina amat memahami kemampuan dan talentanya.

Hopefully, I'm known for what I do and not what I don't do.

Selamat Hari Perempuan Internasional!