Sahroni soal Konvoi Moge: Jalan Milik Bersama, Harus Saling Menghormati

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Geng Motor Foto: Reuters/David Gray
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Geng Motor Foto: Reuters/David Gray

Kasus pengeroyokan anggota TNI oleh pengemudi motor gede (moge) yang sedang konvoi di Agam, Sumatera Barat menuai sorotan publik. Pengawalan konvoi di jalan oleh aparat pun menuai kritik.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, memberi kritik pada pengawalan yang selama ini dilakukan oleh Polisi Lalu Lintas (Polantas). Menurutnya, pengawalan bukan berarti anggota konvoi bisa berkendara sesuka hati.

"Soal pengawalan polisi untuk konvoi, saya rasa memang polantas tidak boleh asal membuka jalan saja. Tapi harus menjaga semua anggota konvoi di dalam jalur, kecepatan, dan perilaku berkendara yang benar," kata Sahroni saat dimintai tanggapan, Senin (2/11).

Wakil Ketua Komisi III DPR F-NasDem Ahmad Sahroni. Foto: DPR

Sebagaimana diketahui, insiden pengeroyokan anggota TNI oleh pengemudi moge di Sumbar juga karena tercecer dari rombongannya.

Ketika melewati anggota TNI, pengemudi moge tersebut menggeber motornya, tak terima, anggota TNI itu lalu menyusul, lalu terjadilah aksi pengeroyokan oleh sejumlah anggota Moge.

"Jangan mau asal gampang buka jalan saja. Idealnya memang untuk rombongan yang cukup besar, pengawalan harus dilakukan di depan dan belakang," tutur politikus NasDem itu.

Lebih lanjut, legislator dapil Jakarta yang juga penghobi otomotif itu menegaskan pentingnya kesadaran bahwa jalan raya adalah milik bersama.

"Jadi memang perlu kesadaran dan edukasi lebih bahwa jalan ini milik bersama. Saling menghormati, saling menjaga keselamatan," tegas Sahroni.