Said Aqil: Khotbah Bukan NU Khawatir Radikal, Provokasi, dan Caci Maki

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua PBNU Said Aqil (Foto: Antara/Zabur Karuru)
zoom-in-whitePerbesar
Ketua PBNU Said Aqil (Foto: Antara/Zabur Karuru)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menolak meminta maaf apalagi menarik ucapan soal seruan agar warga Nahdlatul Ulama (NU) menguasai masjid-masjid, Kementerian Agama, hingga KUA.

Soal masjid, Said Aqil mengklaim penceramah NU paling tertib. Dia khawatir apabila khatib atau penceramah tidak berasal dari NU, akan menyebarluaskan paham radikalisme hingga memprovokasi, dan mencaci maki.

“Kalau imamnya bukan dari NU, dikhawatirkan radikal khotbahnya, provokasi, mencaci maki,” kata Said usai acara Rakornas Lembaga Dakwah Nahdahtul Ulama (LDNU) se-Indoesia di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (28/1).

Said yakin, anggota NU tidak akan menyalahgunakan ceramah untuk memprovokasi, apalagi menyebarkan paham radikalisme. “Yakin kalau begitu itu bukan NU itu. Saya jamin yang khotbah seperti bukan NU, khotbah NU tidak ada seperti itu,” ujarnya.

Peserta memanjatkan doa ketika mengikuti Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/1/2019).  (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Peserta memanjatkan doa ketika mengikuti Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Bukan hanya soal materi debat yang dikhawatirkan berbau radikal, Said menjelaskan penyampaian khotbah juga memiliki adab dan tata cara tersendiri. “Khotbah itu kata kitab kuning sebaiknya jangan panjang-panjang, salatnya yang panjang,” jelas Said.

“Secara alami saja orang itu akan tahu kalau yang jebolan pesantren mengerti itu, syaratnya gimana, ada adabnya, ada rukunnya, ada etikanya. Jangan panjang-panjang, jangan provokasi, jangan nyebut nama itu batal,” sambungnya lagi.

Menurut Said, khotbah merupakan bagian dari ibadah umat Islam yang sakral. “Jadi harus sakral, khotbah itu jangan caci maki atau kampanye,” pungkasnya.

Presiden RI Joko Widodo Pada Acara Harlah Muslimat NU di GBK, Minggu (27/1). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden RI Joko Widodo Pada Acara Harlah Muslimat NU di GBK, Minggu (27/1). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Sebelumnya, Said Aqil menyerukan agar warga NU menguasai masjid-masjid, kementerian agama, termasuk KUA. Ucapan itu menuai kritik lantaran dianggap jadi ancaman terhadap persatuan. Namun Sang Kiai bergeming.

"Imam masjid, khotib-khotib, KUA-KUA, Kemenag, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU salah semua, nanti banyak bid'ah kalau selain NU," kata Said Aqil saat peringatan Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (27/1).