Saiful Mujani Menerka Skenario Pilpres 2024, Mungkin Bisa Hadir 3 Paslon
·waktu baca 5 menit

Pemilihan presiden (pilpres) masih berlangsung tiga tahun lagi, tapi bursa calon presiden (capres) terus memanas. Nama-nama seperti Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, hingga Muhaimin Iskandar adalah sekian dari petinggi parpol yang telah 'tancap gas' dari sekarang.
Namun, jika dilihat dari aturan presidential threshold yakni ambang batas pencalonan presiden minimal 20 persen suara nasional dari pileg, hanya PDIP yang bisa mencalonkan capresnya sendiri.
"Yang bisa mencalonkan pasangan presiden - wakil presiden hanya partai politik atau koalisi partai politik hasil Pemilu 2019 yang mendapat kursi 20 persen di DPR atau 25 persen suara pemilih nasional. Yang memenuhi syarat itu hanya PDIP. Partai-partai lain harus koalisi," jelas Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani, dalam rilisnya, Sabtu (6/11).
"Karena syarat batas minimal partai untuk bisa mencalonkan sangat tinggi, maka hanya PDIP yang bisa mencalonkan tanpa koalisi. Karena itu, jumlah calon maksimal hanya 4 atau 3," lanjut dia.
Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting ini juga menyoroti apakah Puan Maharani berpeluang dicalonkan sebagai capres. Menurutnya, sejauh ini sosialisasi Puan sudah cukup masif dan masih berpeluang untuk dicalonkan. Namun, ia masih akan melihatnya dua tahun ke depan.
Lantas, bagaimana dengan petinggi-petinggi partai lainnya?
Ia merinci survei kelima petinggi partai yang masih didominasi oleh Prabowo diikuti AHY. Sementara elektabilitas Puan, Airlangga dan Muhaimin masih jauh di bawah dua nama tersebut. Apakah ini pertanda Prabowo dan AHY jadi capres 2024?
"Partai mana yang mau gabung dengan Prabowo atau AHY? Atas dasar bacaan terhadap elite partai, PDIP sudah hampir dipastikan tidak ke AHY. NasDem kemungkinan tidak ke Prabowo. PDIP dan NasDem mungkin tak bersama-sama lagi. NasDem ke AHY? Mungkin. Partai lain? Golkar?" ucap Saiful Mujani.
"Golkar bisa bersama dengan Prabowo maupun AHY, tergantung Airlangga dapat posisi nomor 1, nomor 2, atau tidak? Tergantung siapa yang memiliki peluang lebih baik untuk menang, Prabowo atau AHY? Kalau Puan berpasangan dengan Prabowo, maka Golkar mungkin tak ke Prabowo. Bila kans AHY baik, Airlangga bisa bersama AHY. Prabowo-Puan vs AHY-Airlangga? Dilihat dari kursi mereka di DPR, sudah cukup," imbuhnya.
Bagaimana dengan parpol lainnya? Saiful Mujani menilai belum ada partai yang memiliki tanda-tanda terkait siapa yang akan diusung sebagai capres. Termasuk juga nama Muhaimin Iskandar yang belum terlihat akan mengungguli Prabowo maupun AHY.
Selain sosok Prabowo dan AHY sebagai ketua partai politik yang berpeluang, mungkinkah ada calon alternatif lain di luar parpol?
Ia menyebut kepala-kepala daerah yang juga kerap nangkring di posisi teratas elektabilitas di berbagai survei, seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, dan Khofifah Indar Parawansa memiliki kesempatan untuk dicalonkan. Dalam berbagai survei, Ganjar unggul cukup jauh dan berpeluang dicalonkan.
"Ganjar bisa mengalahkan semua calon lain. Kalau PDIP tidak mencalonkannya karena memasangkan Puan dengan Prabowo, mungkin Ganjar tidak maju. Kalau Ganjar tidak maju lalu siapa? Mungkin Anies, Ridwan, atau Khofifah. Sementara, Anies berpeluang unggul atas Prabowo dan AHY," tuturnya.
"Bila Anies unggul atas Prabowo, apakah PDIP akan tetap mencalonkan Prabowo? Apakah Golkar akan tetap mendukung AHY? Golkar mungkin memasangkan Airlangga dengan Anies, dan partai-partai lain mungkin akan mendukung Anies-Airlangga melawan Prabowo-Puan: PDIP-Gerindra vs. the rest," lanjut Saiful Mujani.
Lebih lanjut, jika skenario capres-cawapres diisi oleh Prabowo-Puan dan Anies-Airlangga --opsi lain Airlangga diganti dengan Emil, Khofifah, atau AHY-- maka Anies dinilainya lebih berpeluang menang. Menurutnya, yang bisa menghentikan Anies sejauh ini hanya Ganjar.
Maka yang menentukan kemudian adalah apakah PDIP akan tetap dukung Prabowo lawan Anies karena ingin Puan jadi wapres Prabowo padahal Prabowo akan kalah sama Anies sehingga target Puan tak tercapai?
Saiful Mujani
Atau jika Puan digabungkan dengan Anies untuk melawan Prabowo, hal tersebut menurutnya mungkin saja. Sebab, selama ini manuver Anies rasional dan bukan ideologis seperti Prabowo. Anies dan Prabowo pun sama-sama bisa diterima ormas seperti FPI.
Namun, apabila duet Anies-Puan jadi, maka kemungkinan besar Partai Demokrat dan NasDem tidak akan mendukung, begitu juga dengan Golkar karena Airlangga tidak mendapat posisi. Apalagi PKS yang selama ini sudah berkoalisi dengan PDIP, namun bisa bergabung ke Prabowo.
"Bila ini yang terjadi, maka mungkin ada tiga pasangan calon, dari PDIP vs Gerinda-PKS vs Golkar-Nasdem-Demokrat. PKB, PAN, dan PPP bisa ikut salah satu dari tiga poros itu. Capresnya? Prabowo vs Anies vs …. (AHY, Ridwan, atau Khofifah dan wakilnya Airlangga). Tiga poros ini punya peluang cukup imbang," tutur dia.
Namun, apabila PDIP tetap ingin menjalankan tradisi rasional dengan mencalonkan kadernya sebagai capres, seperti Ganjar, maka Puan tidak dipaksakan harus jadi wapres.
"Bila ini yang terjadi, maka capresnya mungkin Prabowo (Gerindra/…) vs Ganjar (PDIP, Golkar, PKB) vs Anies (PKS, Nasdem, Demokrat): Prabowo-…vs Ganjar-Airlangga (Khofifah) vs Anies-AHY (Ridwan Kamil). Dalam keadaan demikian, mungkin saja Prabowo tidak dapat menarik partai lain untuk bergabung. Dia tidak bisa mencalonkan diri," tegas Saiful Mujani.
Dan apabila Prabowo tidak jadi mencalonkan diri karena parpol tak ada yang mau mencalonkan, dan posisi Gerindra sendirian, maka kemungkinan besar Pilpres 2024 akan diisi oleh nama-nama dari generasi baru. Saiful Mujani bahkan menyebut regenerasi politik pun terjadi secara alamiah dan politik.
"Bila Prabowo tak bisa nomor 1, mungkin nomor 2 juga diterima. Berpasangan dengan Ganjar, Anies, AHY, Ridwan, atau Khofifah. Atau mempersilakan kader Gerindra yang lain untuk maju," ucap dia.
"Sandiaga Uno adalah kader paling kompetitif di antara kader Gerindra setelah Prabowo. Sandi punya peluang untuk nomor 1 ata pun nomor 2. Dia mungkin lebih flexible. NasDem dan Demokrat pun kemungkinan menerima untuk nomor 1 atau pun nomor 2," pungkasnya.
