kumparan
search-gray
News7 Oktober 2019 17:24

Salam Cinta Susi untuk Natuna dan Monumen Kapal China

Konten Redaksi kumparan
Kepulauan Natuna
Monumen Kapal China di Kepulauan Natuna. Foto: Indra Subagja/kumparan
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menyampaikan pesan khusus untuk warga di Kepulauan Natuna, Kepri. Di atas panggung di depan warga Natuna, Susi mengungkapkan rasa cintanya untuk warga dan Kepulauan Natuna.
ADVERTISEMENT
“Saya jatuh cinta dengan Natuna,” kata Susi saat meresmikan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Natuna, Senin (7/10).
Entah ini menjadi salam perpisahan sebagai menteri atau bukan, Susi menyampaikan apresiasinya atas penerimaan masyarakat Natuna untuk dirinya.
“Ini kunjungan kerja terakhir sebagai menteri hingga 20 Oktober mendatang. Terima kasih atas kepada jajaran bupati Natuna atas keramahtamahannya, kerja sama dan dukungannya,” urai Susi yang disambut tepuk tangan.
Susi melanjutkan, dia berharap masyarakat Natuna bisa sejahtera dan bangga sebagai warga di Kepulauan terdepan Indonesia.
Susi juga mewanti-wanti aparat penegak hukum agar tetap konsisten dan tegas kepada pencuri ikan di Laut Natuna.
Susi lalu berkisah bagaimana dahulu para pencuri ikan bertebaran di Laut Natuna. Mereka menciptakan seperti kota di tengah laut.
ADVERTISEMENT
Susi kemudian menunjuk dua kapal milik China yang ditangkap karena mencuri ikan di Laut Natuna. Kapal itu disandarkan di pelabuhan.
“Kapal ini sebagai monumen. Ini loh kapal yang mencuri ikan di Indonesia. Ini sebagai pengingat, jangan beri kompensasi kepada mereka yang mencuri ikan. Aparat penegak hukum harus keras dan tegas serta menjaga integritas terhadap pencuri ikan,” beber Susi.
Susi Pudjiastuti resmikan SKPT Natuna
Susi Pudjiastuti resmikan SKPT Natuna. Foto: Indra Subagja/kumparan
Dengan ditindak tegasnya kapal pencuri ikan di Laut Natuna, ekonomi rakyat bertambah sejahtera. Harga jual ikan juga meningkat harganya. Para nelayan yang hadir di acara itu juga mengungkapkan dukungannya untuk menindak tegas pencuri ikan.
Dahulu mereka menjual murah gurita hanya di bawah Rp 10 ribu per Kg, kini bisa sampai Rp 50 ribu.
ADVERTISEMENT
Susi juga berpesan kepada nelayan Natuna agar menangkap ikan dengan alat yang ramah lingkungan. Tidak menggunakan sianida, bom ikan, jaring yang menangkap ikan-ikan kecil dan lainnya.
“Setuju?” kata Susi menanyakan ke nelayan soal penggunaan alat ramah lingkungan.
“Setuju,” jawab mereka.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white