Salam dari Anies di Hari Minggu: Baca Buku How Democracies Die

kumparanNEWSverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tiba di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto terbaru di Instagram dan Twitter resminya, Minggu (22/11). Dalam foto tersebut, Anies menyapa warganet sambil berpose tengah membaca buku berjudul How Democracies Die.

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," tulis Anies.

instagram embed

Unggahan Anies ini sontak menarik perhatian masyarakat. Bahkan, banyak yang berasumsi, foto tersebut sengaja diunggah Anies sebagai bentuk protes keras.

"Luar biasa. Kode keras," tulis @akbar_salam1.

Bahkan, unggahan Anies ini juga ikut menarik perhatian sutradara muda Indonesia, Timo Tjahjanto. Ia menyebut, demokrasi mati saat sebuah daerah tidak bisa memisahkan antara agama dengan pemerintahan.

X post embed

Sebenarnya, buku apa yang dibaca Anies?

kumparan post embed

Buku setebal 320 halaman itu merupakan buah karya profesor Ilmu Politik Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, yang terbit pada 2018 lalu. Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang bagaimana pemimpin terpilih memiliki sumber daya dan akses untuk mengubah demokrasi.

Menurut Levitsku dan Ziblatt, pemimpin terpilih bisa mengubah demokrasi untuk memperkuat kekuasaannya secara perlahan. Salah satunya dengan membuat sebuah sistem yang memperlemah kelompok lain atau oposisi.

Sebenarnya, buku ini keluar dari hasil penelitian keduanya atas polemik di Pilpres AS 2016 hingga awal pemerintahan Presiden Donald Trump. Lantas, apakah foto buku ini adalah bentuk kode keras Anies?