kumparan
27 Januari 2019 9:58

Salam Jokowi untuk para Muslimat NU

Harlah Muslimat NU, Ke-74, Stadion Utama Gelora Bung Karno, GBK, Jokowi
Presiden Jokowi memberikan sambutan di Harlah Ke-73 Muslimat NU, doa bersama untuk keselamatan bangsa, dan maulidrrasul, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Presiden Jokowi hadir dalam dalam perayaan Hari Lahir Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno,  Jakarta Pusat, Minggu (27/1). Seperti biasa,  Jokowi tak hadir begitu saja, dia turut memberikan sambutan di hadapan ribuan tamu undangan yang didominasi kelompok ibu-ibu. 
ADVERTISEMENT
Jokowi membuka pidatonya dengan menyapa para peserta yang datang dari berbagai daerah. Dia sempat mengucapkan salam dalam bahasa Sunda, bahasa Batak, dan bahasa daerah lainnya. Jokowi ingin menunjukkan bahwa para muslimat NU adalah gambaran kemajemukan Indonesia.
Harlah Muslimat NU, Ke-74, Stadion Utama Gelora Bung Karno, GBK, Jokowi
Presiden Jokowi hadir di Harlah Ke-73 Muslimat NU, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Dengan menunjukkan perbedaan itu, Jokowi kemudian mengajak para peserta untuk memikirkan kembali soal merawat persaudaraan.
"Bahasa kita berbeda-beda. Inilah negara kita Indonesia kita dianugerahi berbeda-beda, bermacam-macam, beda-beda semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa bangsa kita beda- beda," kata Jokowi yang mengenakan sarung dan jas di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1).
Harlah Muslimat NU, Ke-74, Stadion Utama Gelora Bung Karno, GBK, Jokowi
Harlah Ke-73 Muslimat NU, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Di hadapan puluhan ribu peserta hari lahir Muslimat NU, Jokowi juga mengajak para peserta agar tidak terbelah karena urusan politik. Apalagi sampai tidak bertegur sapa dan saling tolong menolong.
ADVERTISEMENT
“Saya mengajak pada bapak ibu smuanya khususnya ibu ibu muslimat NU untuk bersama- sama menjaga persatuan. Kita merawat dan menjaga persaudaraan kita, menjaga kerukunan kita,” sambungnya.
Harlah Muslimat NU, Ke-74, Stadion Utama Gelora Bung Karno, GBK
Peserta dari Muslimat NU membaca al-quran ketika mengikuti Harlah Ke-73 Muslimat NU, doa bersama untuk keselamatan bangsa, dan maulidrrasul, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/Pras)
Menyambung pidato Ketua Umum PBNU KH Said Aqil sebelumnya, Jokowi menegaskan soal nilai toleransi yang harus selalu dijaga. Selain itu, Jokowi juga mengamini pernyataan Said Aqil soal islam yang lebih moderat.
“Juga tadi disampaikan islam moderat tidak yang radikal, tidak ekstrim," ujarnya.
Harlah Muslimat NU, Ke-74, Stadion Utama Gelora Bung Karno, GBK
Peserta dari Muslimat NU mengikuti Harlah Ke-73 Muslimat NU, doa bersama untuk keselamatan bangsa, dan maulidrrasul, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Berdasarkan situs nu.or.id, Muslimat NU lahir pada 29 Maret 1946. Sejak saat itu, NU punya organisasi perempuan yang mempunyai struktur kepengurusan sendiri yang dipimpin oleh Ny Chadijah dari Pasuruan.
Jokowi Nyanyi 'Ya Lal Wathan'
Tak hanya pidato, Jokowi juga sempat ikut bernyanyi bersama para Muslimat NU. Dia ikut menyanyikan 'Ya Lal Wathan', lagu kebangsaan masyarakat NU yang bertema patriotik.
ADVERTISEMENT
Video
Yenny Wahid sebagai ketua panitia acara mengatakan, tak heran kalau Jokowi fasih menyanyikan lagu tersebut. Menurutnya, Jokowi dan keluarganya memang dekat dengan NU sejak lama.
“Bapak Presiden kita jelas ibunya dari dulu sampai sekarang ikut pengajian Muslimat NU di Solo. Makanya enggak heran Presiden begitu fasih ikut bernyanyi hisbun waton bersama-sama,” ucap Yenny.
Dalam acara tersebut turut hadir, Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, Menteri Agama Lukman Hakim, Menteri KKP Susi Pudjiastuti hingga Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan