Saleh Daulay soal Kemenag Hadiah untuk NU: Sebaiknya Gus Yaqut Minta Maaf

25 Oktober 2021 14:26
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Saleh Daulay soal Kemenag Hadiah untuk NU: Sebaiknya Gus Yaqut Minta Maaf (257902)
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi IX DPR, Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay. Foto: Dok. Pribadi
Ketua Fraksi PAN DPR, Saleh Daulay, menilai pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut yang menyebut Kemenag merupakan hadiah untuk NU menimbulkan polemik dan kontroversi. Menurut dia, pernyataan itu tidak sepantasnya disampaikan oleh pejabat negara.
ADVERTISEMENT
"Kalau disebut hadiah bagi NU, terkesan bahwa Gus Yaqut ingin mengatakan bahwa Kementerian Agama hanya milik NU saja. Kelompok lain hanya pelengkap dan bagian yang diatur. Tidak memiliki peran dan partisipasi apa pun dalam konteks membangun kehidupan umat beragama di Indonesia," kata Saleh, Senin (25/10).
Ia menuturkan, selain tidak memiliki landasan historis yang benar, pernyataan itu dapat menimbulkan sikap eksklusivitas di tengah masyarakat. Hal ini dikhawatirkan akan mendorong munculnya sekelompok orang tertentu yang merasa lebih hebat dari kelompok lainnya.
"Faktanya, ada banyak ormas dan elemen umat Islam yang sama-sama ikut berjuang untuk kemerdekaan, untuk persatuan Indonesia. Sejatinya semua kelompok itu sama di mata hukum dan pemerintahan. Termasuk dalam hal ini seluruh umat beragama yang ada di Indonesia. Mereka adalah bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Indonesia," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Karena itu, eks Ketum PP Pemuda Muhammadiyah ini berharap Presiden Jokowi dapat memberikan teguran dan peringatan. Sebab, pernyataan-pernyataan seperti ini dapat menjadi preseden buruk di kemudian hari. Jika itu terjadi, akan menyisakan banyak persoalan kebangsaan yang tidak mudah diselesaikan.
Saleh Daulay soal Kemenag Hadiah untuk NU: Sebaiknya Gus Yaqut Minta Maaf (257903)
zoom-in-whitePerbesar
Menag Yaqut Cholil Qoumas saat memimpin upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-75 Kemenag di Kantor Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (5/1/2021). Foto: Dok. Kementerian Agama RI
"Bisa saja akan muncul elemen dan ormas lain yang mengeklaim mendapat hadiah kementerian lain. Misalnya, mendapat hadiah Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan lain-lain," kata anggota Komisi IX DPR ini.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Dengan begitu, persoalan akan menjadi pelik dan runyam. Karena itu, klaim-klaim seperti ini harus dihentikan agar semua pihak merasa nyaman dan tidak terganggu. Harus dipastikan bahwa Kementerian Agama adalah milik semua rakyat," lanjut Saleh.
Untuk mengakhiri polemik ini, Saleh menuturkan sebaiknya Gus Yaqut menyampaikan permohonan maaf atau meluruskan mispersepsi yang sempat muncul di tengah masyarakat. Menurutnya, itu adalah sikap terbaik yang perlu dicontohkan oleh para tokoh dan pejabat kita.
ADVERTISEMENT
"Sebaiknya minta maaf saja. Atau meluruskan mispersepsi yang ada. Itu tidak akan mengurangi apa pun. Justru bisa menaikkan wibawa dan sikap kenegarawanan," kata dia.
Saleh pun meminta Gus Yaqut untuk fokus bekerja mengurus persoalan umat. Ia menyebut akan lebih produktif jika energi yang ada dipergunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan agama, kualitas pelayanan haji, peningkatan toleransi dan hubungan antar/intra umat beragama, dan banyak lagi aspek kehidupan keagamaan lainnya.
"Pejabat publik semestinya menghindari wacana, narasi, dan perdebatan yang tidak perlu. Sebaliknya, para pejabat publik harus berdiri di barisan terdepan untuk merangkul seluruh komponen anak bangsa," tutup Saleh.
----------
Jangan lewatkan informasi seputar Festival UMKM 2021 kumparan dengan mengakses laman festivalumkm.com. Di sini kamu bisa mengakses informasi terkait rangkaian kemeriahan Festival UMKM 2021 kumparan, yang tentunya berguna bagi para calon dan pelaku UMKM.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020