Saling Serang Imam Nahrawi dan Sesmenpora Dipicu Insiden di Istana

Tersangka korupsi sekaligus eks Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membantah seluruh kesaksian dari Sesmenpora Gatot S Dewa Broto. Kesaksian Gatot, balik diserang oleh Imam di hadapan para hakim saat sidang di PN Jakpus, Rabu (4/3).
Imam membantah pernah meminta Gatot mundur dari jabatannya sebagai Sesmenpora karena kesal tidak mendapat peran saat upacara pelepasan kontingen Indonesia untuk Asian Para Games 2018 di Istana negara, 2 Oktober 2018.
Berdasarkan kesaksian Gatot, Imam kecewa karena tidak menjadi penerima bendera merah putih dari Presiden Jokowi. Gatot pun dianggap bodoh.
Imam pun menepis kesaksian Gatot. Dia tidak membantah soal pernah meminta Gatot mengundurkan diri, tapi kata dia, bukan kesal alasan utamanya.
“Sebetulnya itu adalah akumulasi dari banyak hal termasuk saat di Istana Negara. Bapak tidak melaporkan ke saya tugas saya apa dan ketika saya sampai Istana negara. Bapak enjoy ngobrol dengan pejabat lain padahal bapak adalah Sesmenpora. Yang mestinya memberi tahu tugas saya tugas saya apa di sana, dan bapak tidak melaporkan itu,” ujar Imam.
“Tidak pernah, saya mengingat betul laporan bapak itu setelah acara, dan itu pun setelah saya tegur karena memang kedekatan bapak dengan pejabat dan bahkan melupakan menterinya sendiri. Dan itu juga jadi penilaian saya,” kata Imam.
Imam juga beralasan perintah untuk mengundurkan diri dikeluarkan karena Gatot tidak menjalankan tugasnya. Misalnya seperti tugas Gatot untuk menjalankan TVPORA.
“Saya mengangkat juru bicara juga tidak difungsikan, tapi bapak menjadi juru bicara terus-menerus. Dan bahkan beberapa hal yang masih dirapatkan di Istana Negara yang tidak boleh diumumkan oleh siapa pun bapak mengumumkan sendiri,” kata Imam.
“Bapak tidak izin ke saya tapi setelah rapat baru memberi tahu ke saya. Apakah begitu etika birokrat?,” ujar Imam.
Selain itu, Imam juga mempersoalkan perilaku Gatot yang tinggal di kantor Kemenpora bersama istrinya. Imam menyebut hampir 3 tahun Gatot dan istrinya tidur di lantai 3 karena rumahnya tengah direnovasi.
Soal masalah tinggal di kantor ini, Gatot mengaku terpaksa melakukannya dalam rangka membantu Imam.
“Saya sudah 3 tahun menginap di lantai 3, menginap juga dalam rangka membantu Pak Imam. Saya rada emosi soal ini, memang pembekuan PSSI yang menghadapi media siapa, dan yang berurusan FIFA siapa. Beliau jarang berurusan dengan media lihat saja, harus ribut gontok-gontokanan dengan PSSI saya sendiri,” kata Gatot.
“Selesai itu, saya harus bantu Asian Games. Jadi poinnya itu terpaksa saya lakukan jadi kalau disuruh milih, lebih pilih maghrib pulang ke rumah di Bintaro lebih enak,” sambungnya lagi.
Perdebatan keduanya tak berhenti di situ. Imam kembali menyerang Gatot dengan menuduhnya sejak awal menginginkan jabatan sebagai Menpora.
“Dan akhirnya itu terkuak agenda yang sebenernya ada di benak bapak. Bahwa setelah saya mundur, 2 menit dari Menpora bapak langsung jumpa pers dan mengatakan saya siap sebagai PLT menpora,” ujar Imam.
“Kemudian bapak di ruang kerja lantai 3 selamatan dengan tumpeng, dan semua saya rekam statement bapak,” kata Imam.
Tuduhan itu pun dibantah Gatot. Dia mengaku tidak memiliki ambisi untuk mengisi posisi menteri, apalagi merayakannya dengan potong tumpeng.
“Semoga Tuhan memaafkan beliau. Saya tidak ada tumpengan, kebetulan ulang tahun saya 31 Oktober, (Imam) ditetapkan tersangka 18 September, ulang tahun saya 31 Oktober nggak nyambung,” kata Gatot.
