Sampah di Depan SD di Tasik Numpuk dan Bau Busuk, Murid Belajar di Musala
ยทwaktu baca 4 menit

Murid-murid di SDN Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, terpaksa belajar di musala karena bau busuk menyengat yang menyeruak di seluruh ruang kelas.
Bau tersebut berasal dari tumpukan sampah yang membusuk di tempat pembuangan sampah (TPS) yang letaknya persis di depan sekolah.
Tidak hanya bau, lalat juga beterbangan hingga ke sekolah. Akibatnya, para siswa dan guru yang melaksanakan proses belajar mengajar terpaksa harus sering menutup hidung agar tidak mencium bau sampah.
Menyiasati hal ini, pihak sekolah lalu memindahkan kegiatan belajar mengajar (KBM) ke musala.
Seorang siswi kelas IV SDN Argasari yang diwawawancarai wartawan mengaku sudah bertahun-tahun mencium bau tersebut. Namun, yang sekarang sudah tidak tertahankan.
"Ya, bau mengganggu saat belajar di kelas ini. Belajar sementara di musala dulu," kata pelajar itu kepada wartawan, Rabu (22/2).
Menurutnya, baru kali ini bau busuk yang tercium di dalam kelas sangat menyengat. Ditambah lagi hujan terus mengguyur dan membuat sampah semakin lembab.
"Pak Wali Kota, saya hanya minta saat belajar tak diganggu oleh bau sampah. Saya ingin seperti sekolah lainnya, belajar itu tak ada bau sampah. Itu saja kami, mah," ucap gadis cilik ini.
Siswa Tutup Hidung
Jenal Ismail, salah satu guru SDN Argasari, menuturkan, sampah yang menumpuk di TPS itu karena belum diangkut armada ke tempat pembuangan akhir (TPA) Ciangir. Sehingga bau menyengat tercium di seluruh lingkungan sekolah sampai mengganggu KBM.
Selama ini, kata Jenal, para siswa selalu menutup hidung saat menjalani proses KBM di kelas akibat bau sampah sampai tembus masker.
Sampai akhirnya para siswa mengeluh dan ingin pindah kelas belajar sampai memilih musala sekolah yang jaraknya agak jauh dari tempat penumpukan sampah.
"Beberapa permasalahan terjadi terutama para anak-anak ingin pindah kelas dan sebagian keluar dari ruang kelas hingga menjauhi ruang kelas. Apalagi kalau hujan, bau sampahnya semakin menyengat," ucapnya.
Pihak sekolah sudah beberapa kali melakukan audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan warga sekitar lokasi, namun belum ada tindakan.
"Selama ini permasalahan sampah selalu timbul gara-gara di depan sekolah ada TPS sebetulnya sudah lama. Namun, Pemkot Tasikmalaya belum memberikan jalan keluarnya seperti apa," kata Jenal.
"Kami sudah beberapa kali audiensi dengan Dinas LH, warga, dan guru, tapi tidak ada tanggapan terus dipindahkan," imbuhnya.
Tutup Resmi TPS
Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akhirnya mengambil langkah dengan menutup resmi TPS di Jalan Bantar yang terletak di depan sekolah. Penutupan dilakukan usai kasus ini ramai pada Rabu (22/2) sore.
Kepala DLH Kota Tasikmalaya Deni Diyana mengatakan, langkah itu diambil untuk kelancaran para siswa agar tak bau sampah saat aktivitas KBM.
"Ya, ini sebenarnya masalah berulang. Saya juga mohon maaf kepada warga, terutama pihak sekolah yang terganggu aroma tidak sedap dari tumpukan sampah ini," kata Deni kepada wartawan, Kamis (23/2).
Menurut Deni, tumpukan sampah ini bukan disengaja.
"Ini bukan disengaja dan tidak ada upaya, tapi memang kondisi seperti ini. Karena itu, kami akan uji coba menutup TPS ini," katanya.
Pembuangan sampah yang biasa ke TPS ini akan dialihkan ke Depo Mayasari. Selama ini, sampah di TPS di depan sekolah berasal dari warga sekitar dan warga daerah lainnya.
"Sampah yang biasa ke sini dialihkan ke Depo Mayasari. Paling tidak kami mengurai konsentrasi dari dua titik ke satu titik. Kami akan tugaskan pengawas khusus karena di Depo Mayasari pasti akan terjadi lonjakan timbunan sampah," kata Deni.
Mobilitas pengangkutan ke Depo Mayasari juga akan ditambah. Jangan sampah terlambat mengangkutnya menuju ke TPA Ciangir dan terjadi penumpukan.
Selama ini, pihaknya kesulitan dalam membuka TPS baru karena di wilayah tersebut sangat padat permukiman. Pihaknya juga sedang mengembangkan teknologi tepat guna dengan alat pembakar sampah.
"Mudah-mudahan bisa jadi solusi di beberapa wilayah. Kalau wilayah yang tidak ada TPS, kami fasilitasi bak sampah yang lebih kecil. Ketika penuh, langsung diangkut. Kami akan pararel melakukan upaya pembersihan jalan tertutup sampah di Ciangir," pungkas Deni.
