Sandiaga Kenang Pilgub DKI: Model Kampanye Dicontoh Negara Lain

10 Agustus 2020 21:46 WIB
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sandiaga Uno menunjukkan buku #kamioposisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sandiaga Uno menunjukkan buku #kamioposisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
ADVERTISEMENT
Sandiaga Uno mengenang masa saat masih bertarung bersama Anies Baswedan di Pilgub DKI 2017. Saat itu, pasangan Anies-Sandi dinyatakan sebagai gubernur-wakil gubernur terpilih setelah menjalani pemilihan sebanyak dua putaran.
ADVERTISEMENT
Sandi mengungkapkan cara mereka berkampanye mengumpulkan dukungan masyarakat bukan hal yang mudah. Namun melalui kampanye tatap muka dan media sosial, Anies-Sandi bukan hanya meraup suara mayoritas, tapi sistem tersebut juga disebut banyak ditiru oleh negara lain.
"Model management kampanye di Jakarta ini sekarang sudah menjadi model bukan hanya di Indonesia, tapi di beberapa demokrasi negara lainnya," kata Sandi dalam webinar 'Indonesia Leaders Talk', Senin (10/8).
"Karena banyak sekali researcher dari luar negeri datang untuk mewawancarai saya dan model campaign management yang walaupun enggak akan sama di mana pun, tapi ini menjadi satu catatan untuk kita dan kita merasa sebagai bagian daripada proses pematangan demokrasi kita," sambungnya.
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno Foto: Amanaturrosyidah/kumparan
Sandi menyebut bukan hal yang mudah berjuang di Pilgub DKI, ketika dia dan Anies sama sekali tidak dipertimbangkan sebagai penantang serius. Meski begitu, dia terus berupaya menjalankan usahanya dengan satu tujuan, untuk membawa Jakarta menjadi kota yang maju dan bahagia warganya.
ADVERTISEMENT
"Suatu memori yang tak terlupakan bagi saya waktu Pak Mardani memulai sesi, kita masih di rangking ketiga waktu itu bahwa kita harus merendahkan hati, mencerdaskan akal, dan meluruskan niat. Itu yang selalu disampaikan Pak Mardani," ungkap Sandi.
Sandi bahkan mengungkapkan ibundanya pernah suatu kali mempermasalahkan mengapa putranya harus mengunjungi belasan titik setiap harinya. Sandi menjelaskan hal itu sebagai terobosan yang dipikirkannya bersama tim, tidak hanya untuk meraup suara, tetapi juga untuk mendengarkan simpul permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat perkotaan.
"Ibu saya pernah komplain kenapa anak saya dikirim ke 15 titik, 17 titik. Memang benar saya yang minta karena keterbatasan segala hal banyak seperti memasang iklan, spanduk, atribut, dan sebagainya. Kita ubah strateginya untuk bisa menjangkau teritori dan simpul itu dengan kunjungan, dan ternyata kunjungan itu membangkitkan semangat anggota tim saya. Masih ingat 267 kelurahan 44 kecamatan di seluruh wilayah Jakarta," beber Sandi.
ADVERTISEMENT
"Proses bagaimana kita mengelola isu secara disiplin, program disampaikan, kampanye gigi 1, gigi 2, gigi 3 itu bagaimana dipersiapkan dengan baik dan dieksekusi dan ini menginspirasi kita semua," pungkasnya.