Satgas COVID-19: BOR di Wisma Atlet Turun 73%, Kini 17,60%

Penambahan kasus harian COVID-19 di DKI Jakarta dan sekitarnya kini mulai menurun. Penurunan kasus harian berdampak baik terhadap kapasitas tempat tidur atau Bed Occupancy Ratio (BOR) di fasilitas isolasi terpusat.
Rumah Sakit Darurat COVID-19 atau RSDC Wisma Atlet Kemayoran hampir terisi penuh pada saat puncak kasus pada Juli lalu. Kini BOR di Wisma Atlet mulai turun.
Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan kini BOR di Wisma Atlet kini berada di bawah 20 persen. Bahkan, penurunan ini terjadi lebih dari 70 persen pada saat puncaknya di akhir Juni lalu.
"Per 18 Agustus tadi pagi sudah di atas 17,60%. Dari 90% ke 17% ini penurunannya absolut sekitar 73,19%," kata Dewi dalam dialog bertajuk 'Covid-19 Dalam Angka: Perkembangan Kondisi Fasilitas Kesehatan Selama PPKM' yang ditayangkan melalui YouTube BNPB, Rabu (18/8).
Menurut Dewi, kondisi ini dipengaruhi penerapan PPKM sejak Juli lalu. Sebelumnya, Wisma Atlet sampai harus terus menambah kapasitasnya hingga 1.900 tempat tidur untuk menampung lonjakan pasien.
"Jadi total untuk menghadapi kenaikan kasus kemarin di RSDC Wisma Atlet itu 1.900 tempat tidur yang ditambahkan. Dan itu masih kena puncak di 30 Juni 90 persen. Jadi benar-benar hampir penuh. Karena Juli sudah diterapkan PPKM, mobilitas ditekan akhirnya angkanya turun ke bawah," ucap Dewi.
Melihat kondisi BOR per hari ini, setidaknya butuh waktu sekitar 1,5 bulan untuk BOR Wisma Atlet menurun hingga 70 persen dari puncaknya.
Jika dilihat data BOR pada fasilitas tersebut, selama setahun terakhir, BOR terendah tercatat pada 18 Mei 2021 atau sebelum lonjakan terjadi yaitu 15,02 persen. Artinya, BOR sudah hampir mendekati saat lonjakan tinggi belum terjadi.
Lebih lanjut, Dewi menyampaikan setiap daerah harus memperhatikan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan lonjakan kasus selanjutnya. Terutama dalam menambah kapasitas tempat tidur bagi pasien COVID-19.
"Pemerintah daerah punya peran besar sekali untuk mengantisipasi faskesnya, RS rujukan, konversi tempat tidur, RS darurat, RS lapangan untuk penopang jika ada pasien dengan gejala," pungkas Dewi.
