Satpol PP dan Preman di Pasar Tanah Abang

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pasar Tanah Abang (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Tanah Abang (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

"Mundur..!! Mundurr..!!" teriak dua orang Satpol PP menghalau pedagang yang berjualan di trotoar Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (25/11).

Beringsut si pedagang merapikan lapaknya, pedagang dengan gerobak juga memindahkan gerobaknya. Lalu sekitar 50 meter petugas berseragam itu berlalu, para pedagang dadakan itu kembali menggelar lapaknya. Si petugas dari jauh menengok ke belakang, tapi begitulah mungkin seharusnya.

Denyut perekonomian di pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara ini memang sedang bertaruh dengan rencana gubernur dan wakil gubernur DKI menata Pasar Tanah Abang yang sudah sekusut benang layang-layang itu.

Entah dari mana solusi efektif itu mesti dimulai: Menertibkan PKL lebih dulu? Menyiapkan tempat terbaru untuk PKL? Menertibkan lalu lintasnya? Mendisiplinkan Satpol PP? Menangkap lebih dulu premannya, atau mulai dari mana? Karena diakui atau tidak, pendekatan itu sudah dilakukan oleh gubernur sebelumnya, termasuk era Jokowi yang menyediakan Blok G atau Ahok yang tegas terhadap pelanggar ketertiban.

"Ini kita kan dulu kebanyakan jualan di dalam sono, bang, tapi kuranglah pendapatannya. Kalau di sini kita bisa gampang nawarinya kan, banyak yang lalu lalang," tutur pedagang bernama Rusnaidi.

video youtube embed

Trotoar memang menjadi tempat berdagang paling efektif. Pakaian, sepatu, minuman, hingga buah-buahan, memadati trotoar mulai dari pintu keluar KRL Stasiun Tanah Abang ke Jalan Jati Baru Raya, hingga ke Blok A. Padahal, sebagian trotoar itu baru saja ditata untuk pejalan kaki.

"Ini mah belum terlalu ramai hari ini bang, kalau Senin sama Kamis pasar dan trotoar ini padat karena ada Pasar Tasik," imbuh Rusnaidi.

Pasar Tasik merujuk pada pasar dadakan setiap Senin dan Kamis yang biasanya terletak di depan Stasiun Tanah Abang dan Blok F Pasar Tanah Abang. Sesuai namanya, mayoritas pedagang di pasar ini berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat

Depan Stasiun Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Depan Stasiun Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Kembali soal Satpol PP tadi, pantauan kumparan (kumparan.com) sejak sekitar pukul 08.45 WIB hingga pukul 18.00 WIB sepanjang Sabtu kemarin, Satpol PP di Pasar Tanah Abang menyebar di beberapa titik, namun mereka cenderung hanya duduk di pos masing-masing.

Sesekali memantau dan mengarahkan PKL tidak berjualan di trotoar, tapi beberapa menit kemudian setelah pengarahan dan penghalauan, para PKL itu kembali berjualan di trotoar. Beberapa Satpol PP yang kumparan temui, menolak diwawancarai.

kumparan lalu menghubungi Iwan Siregar, Satpol PP yang kabarnya paling ditakuti di Pasar Tanah Abang. Namun dia mengaku sedang tidak bertugas Sabtu kemarin.

"Senin saya masuk. Kalau soal itu langsung kepimpinan aja lae, soalnya belum ada perintah operasi, yang ada hanya penghalauan. Makanya saya dah enggak terlalu dilibatkan lagi di sana," kata Korlap Satpol PP Jakpus itu, kepada kumparan.

Sementara Kasie Operasi Satpol PP Jakpus, Santoso, tak merespons saat dikonfirmasi.

Blok A Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Blok A Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Temuan Ombudsman

Laporan Ombudsman RI pada Jumat (24/11), menyebut ada maladministrasi yang dilakukan oleh oknum Satpol PP di Pasar Tanah Abang. Ombudsman melakukan investigasi pada Oktober lalu dan mendapati ada oknum Satpol PP yang kongkalikong dengan preman untuk mengatur jadwal penertiban. Preman dan oknum itu menerima uang dari PKL.

Maladministrasi Satpol PP didefinisikan Ombudsman sebagai praktik menerima uang, diskriminasi, pembiaran, hingga ketidakpantasan sebagai aparat pemerintah berhubungan dengan preman, lalu menerima uang dari masyarakat/PKL.

“Tentu kita berpikir enggak mungkin PKL melakukan pelanggaran begitu saja. Tentu semua itu bergantung kepada aparatnya. Kalau aparatnya tegas, konsisten menjalankan aturan, tentu PKL sebenarnya akan taat,” ujar Komisioner Ombudsman Adrianus Meilala, Jumat (24/11).

Antara beberapa ratus ribu sampai jutaan per bulan (setoran dari PKL ke oknum preman/satpol PP).

Ombudsman merilis cuplikan video investigasi mereka yang menggambarkan ada praktik kongkalikong preman dan Satpol PP yang diwarnai suap. Sehingga pedagang tahu kapan razia atau penertiban itu akan digelar.

Itu pula mungkin jawaban mengapa PKL bisa tenang berjualan dan membuat Pasar Tanah Abang semrawut. Tapi tak mudah mencari sosok preman di Tanah Abang yang dimaksud Ombudsman.

video youtube embed

Kasatpol PP DKI, Yani Wahyu, saat dikonfirmasi, berjanji akan menginvestigasi temuan Ombudsman tersebut. "Saya lagi investigasi, nih. Saya kan sudah bentuk tim investigasi untuk menindaklanjuti hasil temuan, hasil investigasi Ombudsman. Ini saya lagi di investigasi," ucap Yani, Jumat (24/11).

Sementara, Wakasatpol PP Hidayatullah memilih membantah laporan Ombudsman itu. Menurutnya, Satpol PP hanya difitnah terus-terusan atas kesemrawutan Pasar Tanah Abang. "Belum ada. Enggak ada. Cari, kita sudah cari. Jadi difitnah terus kita Satpol PP ini," ujar Hidayatullah.

Depan Stasiun Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Depan Stasiun Tanah Abang. (Foto: Soejono Eben Ezer Saragih/kumparan)

Beberapa toko di Pasar Tanah Abang mulai tutup saat hari beranjak gelap sekitar pukul 18.00 WIB. Para PKL yang memadati trotoar pun mulai berbenah merapikan dagangan, tapi bagi PKL tampaknya ini hanya shift berdagang. Trotoar seolah-olah punya jatah masing-masing.

Saat penjual pakaian, buah-buahan hingga sepatu meninggalkan tempat, trotoar itu digunakan lagi giliran dengan penjual makanan, jam tangan hingga minuman. Petugas Satpol PP pun mulai meninggalkan pos masing-masing.

"Kalau Satpol PP dari pukul 05.00 WIB pagi sudah ada di sini untuk kontrol, terus kadang sudah pulang pukul 16.00 WIB sore atau magriblah. Tapi kalau ngangkut mah sekarang udah agak jarang ya, kalau dulu saya pernah sampai 3 kali gerobak saya diangkut," tutur pedagang bernama Nardi.

Untuk diketahui, tak banyak pedagang mau diwawancarai mengenai kondisi Tanah Abang yang saat ini makin semrawut. Apalagi yang jelas-jelas menghambat lalu lintas hingga pejalan kaki.

Pengujung hari menyisakan sampah di bahu jalan dan trotoar. Bahkan menghalangi laju kendaraan karena ditumpuk di pinggir jalan.

Sampah berserakan di pasar Tanah Abang (Foto: Soejono Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sampah berserakan di pasar Tanah Abang (Foto: Soejono Saragih/kumparan)

Bukkk..!!! Tiba-tiba botol minuman berisi air beku melayang kencang mengenai punggung saat kumparan masih berbincang dengan salah satu pedagang di tepi jalan. Si pelempar botol ternyata dua orang yang mengendarai motor matik dan melaju kencang ke arah Blok G.

"Begitulah, Bang," sahut si pedagang.

Lalu kapan Pasar Tanah Abang akan tertib?

Reporter: Soejono Saragih