Saut Situmorang: Isu Taliban di KPK Childish

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eks Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang saat konferensi pers KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Eks Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang saat konferensi pers KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

KPK tengah mendapat sorotan lantaran 75 pegawai dinonaktifkan usai tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Namun TWK tersebut disinyalir sebagai alat untuk menyingkirkan pihak-pihak tertentu di KPK. Sebab materi TWK dinilai janggal seperti munculnya pertanyaan "sudah umur segini, kok, belum menikah?" hingga "salat subuhnya pakai qunut?".

Terlebih sebagian dari 75 pegawai yang tak lolos sebelumnya telah diserang dengan isu taliban sejak revisi UU KPK bergulir. Mantan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, menegaskan tak ada taliban di KPK. Ia menilai penggunaan isu taliban untuk menyerang KPK merupakan sikap kekanak-kanakan.

"There is no taliban at all, no talibanisasi in KPK, not at all. Kalau diukur dari variabel-variabel enggak penting (seperti) celana cingkrang, jenggot, jidatnya segala macam, aduh itu childish, kekanak-kanakan itu," ujar Saut dalam diskusi virtual yang digelar ICW pada Senin (17/5).

Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: Shutterstock

Saut pun mengingatkan apabila ada pihak-pihak yang tidak sependapat dengan langkah KPK lebih baik mengajukan upaya hukum, bukan mengembuskan isu taliban.

"Jadi challenge penegak hukum dengan hukum kalau kita penindakannya salah. Saya sudah di dalam 4 tahun, cukuplah (isu taliban)" ucapnya.

Sementara itu Mantan Wakil Ketua KPK, M Jasin, menyatakan serangan isu taliban atau radikalisme tak hanya terjadi di KPK. Saat menjadi pimpinan KPK jilid II, Jasin mengaku pernah melakukan sidak di Bea Cukai bersama pimpinan lain, Chandra Hamzah.

Ilustrasi KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Ketika itu, Jasin menemui 7 pegawai Bea Cukai yang tidak mau menerima amplop dari pihak ekspedisi maupun importir disebut sebagai taliban. Sehingga ia menilai isu taliban sengaja diembuskan kepada pegawai yang jujur.

"Istilah itu menjadi istilah ringan dan guyonan, justru orang yang baik dituduh orang taliban. Padahal konteksnya berbeda dengan taliban aslinya," ucapnya.

Adapun eks Ketua KPK, Agus Rahardjo, menilai isu taliban membuat dukungan masyarakat kepada KPK menjadi terpecah.