Sayap Kanan Jerman Serukan Boikot Toblerone Halal: Islamisasi di Eropa

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Toblerone. (Foto: Shutter Stock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Toblerone. (Foto: Shutter Stock)

Label halal yang baru disematkan untuk produk cokelat Toblerone membuat kelompok sayap kanan di Eropa marah. Mereka mengkampanyekan boikot Toblerone halal karena dinilai bentuk Islamisasi di Benua Biru.

Diberitakan ABC News pekan ini, sebenarnya sertifikasi halal untuk produk Toblerone Eropa telah dikeluarkan sejak April tahun ini. Namun hal ini baru ramai belakangan setelah dikomentari oleh juru bicara kelompok sayap kanan ekstrem Jerman, Alternatif untuk Jerman atau AfD.

Lalu muncul tandapagar #BoycottToblerone di Twitter, tersebar ke para pengikut kelompok sayap kanan di berbagai negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, dan Belanda.

Ilustrasi Toblerone. (Foto: Twitter/@DINE_HALAL)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Toblerone. (Foto: Twitter/@DINE_HALAL)

Menurut juru bicara AfD Jörg Meuthen di akun Facebooknya, label halal pada cokelat adalah bentuk Islamisasi di Eropa. Kelompok ini juga yang selalu menentang kedatangan imigran Timur Tengah di negara mereka dan mendorong larangan burqa.

"Islamisasi tidak punya tempat, baik di Jerman atau di Eropa," kata dia.

X post embed
X post embed

Tapi tidak sedikit juga netizen yang mempertanyakan ujaran boikot terhadap Toblerone.

X post embed
X post embed

Perusahaan pemilik Toblerone Mondelez International yang berbasis di Illinois, Amerika Serikat, mengatakan cokelat mereka di Eropa diproduksi di pabrik di Bern, Swiss.

Sebenarnya, kata pernyataan Mondelez International, sertifikat halal hanya pelabelan saja karena sejatinya bahan-bahan yang digunakan dalam Toblerone sepenuhnya telah halal. Sehingga sertifikasi halal tidak akan berpengaruh terhadap komposisi Toblerone.

Menurut Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) seruan boikot produk halal selalu menjadi bentuk dari Islamofobia di mana pun berada.

"Makanan adalah sesuatu yang universal dan itulah mengapa haters menggunakannya. Makanan menyentuh semua orang dan mereka (sayap kanan) melihat ini sebagai kendaraan yang produktif bagi kebencian mereka," kata Hooper.