Sayap Patah Bidadari dan Penggalan Kisah Museum Prasasti

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tangan Patung yang patah di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tangan Patung yang patah di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Berkunjung ke museum merupakan salah satu alternatif yang sudah lama dipilih oleh masyarakat untuk belajar dan menggali pengetahuan. Kali ini saya mengunjungi Museum Taman Prasasti yang berada tepat di sebelah Kantor Walikota Jakarta Pusat. 

Museum ini merupakan salah satu jenis museum outdoor atau museum dengan atap terbuka (open air), di mana segala bentuk dan rupa yang dipamerkan berada dalam konsep terbuka di luar ruangan.

Pengunjung cukup membayar tarif sebesar Rp 5.000 untuk masuk ke museum. Jika perlu pengunjung dapat meminta jasa pemandu tanpa dipungut biaya sepeserpun untuk bernostalgia ke masa kolonial Belanda.

Hari itu, Selasa (1/1) museum buka seperti biasa. Tak banyak yang berkunjung ke sana tetapi di dalamnya tampak sekali para pengurus sedang memotong rumput-rumput yang mulai liar tumbuh, hingga merapikan prasasti yang kotor tertutup debu.

Kondisi patung bidadari di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi patung bidadari di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Perjalanan saya ditemani oleh Eko Wahyudi (33). Yudi merupakan pemandu museum yang sudah sejak tahun 2004 setia menemani pengunjung yang membutuhkan jasanya.

Di tengah-tengah perjalanan dengan Yudi, pandangan kemudian tertuju pada patung-patung bidadari yang menghiasi kuburan ini. Ternyata kondisinya cukup memprihatinkan. Apa yang kamu pikirkan setelah menemui peninggalan-peninggalan indah yang kamu harapkan namun kondisinya rusak?

Di taman prasasti terdapat ratusan makam dan patung-patung prasasti. Semuanya tampak terawat, tersusun rapi di setiap tempat. Setelah dilihat lebih dekat ternyata keindahan dan kekaguman akan sejarah itu tak seutuhnya terpuaskan di benak saya.

Bidadari-bidadari itu tangannya buntung. Sayapnya patah, ada yang lengannya hilang entah ke mana. Patung-patung bidadari ini sebagian besar sengaja dibuat. Tradisi makam Katolik pada era penjajahan Belanda memiliki ciri khas patung di atasnya yang kemudian dibawa ke nusantara pasca pendudukan VOC.

Tradisi Katolik dari Eropa ini masuk ke Batavia pasca dominasi VOC, memasuki Era Hindia Belanda. Hal ini ditandai dengan dibangunnya Gereja Katedral tahun 1890 di Waterlooplein (Kini Lapangan Banteng). 

Sayap patung bidadari patah di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sayap patung bidadari patah di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Imbasnya, batu-batu nisan ini berangsur berubah, orang-orang Belanda tak lagi menggunakan batu nisan jenis heraldik yang berciri khas batu andesit dengan gelang dan motif sulur daun akantus yang melambangkan keabadian di sudut-sudut nisan seperti orang-orang protestan di masa VOC tahun 1800an ke bawah, melainkan marmer dan patung-patung bidadari, peri atau Yesus Kristus.

"Yah namanya minim pengawasan dulu itu. Yang patah-patah itu banyak," sesal Yudi.

Tidak hanya patung itu saja yang kondisinya tak sempurna. Salah satu nisan dari makam marmer Johannes Jacobus Luuten menjadi korban vandalisme tangan-tangan tak bertanggungjawab. Nisan Marmer abu-abu tersebut rusak akibat goresan-goresan tangan jahil para pengunjung.

Yudi sudah 13 tahun menjadi pemandu di sini. Berbagai pengalaman pun sudah banyak dialaminya. Yudi nampak fasih menjelaskan tiap-tiap makam. Sepanjang perjalanan dirinya terus menyebutkan siapa pemilik makam ini sebelum dipindah ke beberapa tempat pemakaman umum di penjuru Jakarta. 

Makam ohannes Lacobus Luuten di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Makam ohannes Lacobus Luuten di Museum Prasasti (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Mulai dari prasasti pencetus STOVIA Dr. H.F. Roll, aktivis Soe Hok Gie yang meninggal yang apinya dilempar di Lembah Mandalawangi di mana Gie bisa merasakan kedamaian jauh dari hiruk pikuk politik di ibu kota, hingga prasasti makam istri Thomas Stammford Raffles, Olivia yang menyimpan cerita terus bersikeras ingin dimakamkan di sebelah sahabatnya Leyden.

Sebelum pemugaran rutin beberapa tahun terakhir, Museum Prasasti ini saban hari disambangi oleh remaja-remaja yang ingin melakukan tindakan asusila. Beruntung Yudi dan teman-temannya kemudian menyambut baik pemerintah untuk merenovasi, meninggikan tembok hingga memasang CCTV di sudut-sudut museum.

Prasasti Soe Hok Gie di Museum Prasasti. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Prasasti Soe Hok Gie di Museum Prasasti. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

"Sekarang sih udah nggak ada karena temboknya tinggi dan transparan (berbentuk pagar) di atasnya. Beda dengan dulu yang bertembok tinggi di mana tak ada yang bisa melihat," ujarnya. 

Di akhir perbincangan, Yudi sempat menyesalkan tak adanya dokumentasi sisa-sisa makam di lokasi museum prasasti ini sebelum diresmikan 9 Juli 1977 silam. "Awalnya pemerintah berpikir bahwa ini tak akan dijadikan museum. Sayang sekali banyak orang-orang yang penting yang luput dari dokumentasi," tutupnya penuh sesal.

Eko Wahyudi, pemandu di Museum Prasasti. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Eko Wahyudi, pemandu di Museum Prasasti. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)