Sebut Masyarakat Harus Kerja Bagai Kuda, Calon PM Jepang Dikritik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sanae Takaichi. Foto: YUICHI YAMAZAKI/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sanae Takaichi. Foto: YUICHI YAMAZAKI/AFP

Calon Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dikritik karena pernyatannya yang meminta masyarakat harus "bekerja bagai kuda pekerja". Masyarakat memintanya untuk menarik pernyataannya itu, dan memintanya menarik pernyataannya yang terkait work-life balance.

Dikutip dari The Mainichi, Sabtu (11//10), kelompok pengacara yang mewakili korban "karoshi" atau kematian akibat bekerja berlebihan mengatakan pernyataan Takaichi tidak membantu negara yang memiliki budaya jam kerja panjang dan berlebihan.

Pernyataan kontroversial itu keluar setelah Takaichi terpilih jadi presiden Partai Demokratik Liberal (LDP) pekan lalu. Ia mengalahkan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi dalam putaran kedua.

Jepang saat ini kekurangan banyak tenaga kerja di berbagai sektor, sebagian besar karena penurunan angka kelahiran.

"Saya akan membuat semua orang bekerja seperti kuda pekerja," kata Takaichi dalam pernyataannya.

"Saya sendiri akan membuang gagasan work-life balance. Saya akan bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja," katanya lagi.

Ilustrasi pekerja di Jepang. Foto: Shutterstock

Kelompok pengacara itu mengkritik Takaichi karena menilai pernyataannya mencoba menggagalkan upaya pemerintah untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dan malah menghidupkan kembali mentalitas yang sudah ketinggalan zaman.

Para birokrat di Jepang khususnya dikenal bekerja berjam-jam, utamanya saat Parlemen dalam masa sidang. Sebab, mereka perlu mempersiapkan pernyataan untuk dibacakan oleh anggota kabinet dalam menanggapi pernyataan dari anggota parlemen dalam puluhan rapat komite.

Pernyataan Takaichi itu juga membuat keluarga dari mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi yang meninggal akibat bekerja berlebihan pada 2014 lalu marah dan meminta Takaichi minta maaf.

"Kami sangat marah. Dia tidak memahami perasaan orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarga karena kelebihan bekerja. Dia harus minta maaf," kata keluarga dalam pernyataan terpisah.

Saat kasus itu ditetapkan sebagai kematian karena bekerja berlebihan, Takaichi menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada 2019.