Sedot Tumor Otak lewat Hidung di RS Sardjito Capai Pasien Ke-50

9 September 2025 14:08 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sedot Tumor Otak lewat Hidung di RS Sardjito Capai Pasien Ke-50
RSUP Dr Sardjito selama dua tahun ke belakang mulai menerapkan metode operasi Endoscopy Transnasal Transsphenoidal Hypophysectomy (ETTH) untuk mengangkat tumor otak kelenjar hipofisis melalui hidung.
kumparanNEWS
Dr. Rachmat Andi Hartanto, Sp.BS(K), Dokter Divisi Neuro Onkologi RS Sardjito. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dr. Rachmat Andi Hartanto, Sp.BS(K), Dokter Divisi Neuro Onkologi RS Sardjito. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito selama dua tahun ke belakang mulai menerapkan metode operasi Endoscopy Transnasal Transsphenoidal Hypophysectomy (ETTH) yakni prosedur bedah minimal invasif untuk mengangkat tumor otak kelenjar hipofisis melalui hidung.
ADVERTISEMENT
Metode ini menggunakan endoskop untuk melihat dan mengangkat tumor di dasar otak. Hari ini pasien ke-50 telah dioperasi di RSUP Dr Sardjito.
Ini merupakan lompatan teknologi di dunia medis. Sebelumnya, operasi tumor otak konvensional dilakukan dengan tindakan membuka tempurung kepala.
"Istilahnya teknik transnasal artinya melalui lubang hidung. Kita tidak membuat lubang baru dari luar," kata dr. Rachmat Andi Hartanto, Sp.BS(K), Dokter Divisi Neuro Onkologi RS Sardjito, di RSUP Dr Sardjito, Selasa (9/9).
Dari bagian dalam rongga hidung ada jalur menuju ke area tumor. Tetap ada luka pada pasien, tetapi luka di dalam rongga hidung.
"Kecil lukanya sekitar 1 cm di dalam saluran rongga hidung menuju ke area tumor otak," katanya.
Ilustrasi operasi. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
Teknik ini ditujukan untuk tumor yang ada di dasar tulang otak terutama yang di garis tengah. Perkembangan berikutnya bisa dikembangkan dari berbagai akses dengan prinsip lukanya tetap minimal.
ADVERTISEMENT
Andi menyebut dari 50 operasi ini tingkat keberhasilannya sangat baik. "Hasilnya insyaallah paling tidak penglihatan tidak bertambah menurun. Yang sebagian besar adalah terjadi perbaikan penglihatan maupun klinis dari tumornya," terangnya.
Prosedur tindakan ini juga tergolong cepat. Hanya sekitar 1,5 sampai dua jam. Sementara tindakan konvensional dengan membuka tempurung kepala minimal membutuhkan waktu empat jam.
Demikian pula untuk pemulihan metode sedot melalui hidung jauh lebih cepat dibanding tindakan bedah membuka tempurung yang paling tidak perlu perawatan seminggu sampai 10 hari. Pembiayaan juga jauh lebih efisien.
"Dua sampai tiga hari pulang," bebernya.

Inovasi Operasi Dalam Kondisi Sadar

Ilustrasi operasi. Foto: jomphong/Shutterstock
Inovasi selanjutnya kata Andi adalah operasi dalam kondisi sadar. Ini mulai dilakukan 10 sampai 11 September.
ADVERTISEMENT
"Kegiatan besar berikutnya mulai besok sampai tanggal 11 adalah operasi dengan teknik pembiusan pasien dalam keadaan tetap sadar pada kasus tumor otak," jelasnya.
Andi menjelaskan ini ditujukan untuk tumor otak yang lokasinya perlu dievaluasi dalam kondisi sadar.
"Karena fungsi otak sangat spesifik. Contohnya tumor yang tumbuh di otak yang pusat bicara. Itu biasanya di bagian depan," bebernya.
Operasi itu punya risiko terjadi gangguan bicara maupun motorik. Pada area yang penting ini, perlu operasi pasien dalam kondisi sadar.
"Perlunya kita evaluasi waktu operasi. Sambil operasi kita ajak bicara. Mengangkat tangannya. Sehingga risiko-risiko itu bisa kita minimalisir," bebernya.
Inovasi-inovasi ini merupakan kerja sama Sardjito bersama sejumlah rumah sakit seperti Rumah Sakit National University Singapore, didukung Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, hingga Rumah Sakit Siloam Universitas Pelita Harapan.
ADVERTISEMENT
— — —
#JagaIndonesiaLewatFakta kumparan mengajak masyarakat lebih kritis, berperan aktif, bijak, dan berpegang pada fakta dalam menghadapi isu bangsa, dari politik, ekonomi, hingga budaya. Dengan fakta, kita jaga Indonesia bersama.