kumparan
29 Oktober 2019 17:31

Sejarah Makam Hitam di Yogyakarta dan Batu Gunung Merapi

Sasono Loyo Puluh Dadi
Sasono Loyo Puluh Dadi yang letaknya tak jauh dari Jalan Seturan Raya, Kabupaten Sleman. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Sebuah cerita horor di Yogyakarta viral di Twitter oleh akun @choco0pie. Cerita dengan judul 'Horor Story Mbak Yushicus di Jogja' itu menyoroti sebuah makam hitam di wilayah Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Utas yang menceritakan kisah horor sekelompok wisatawan dari Jawa Timur selama di Yogyakarta tersebut telah direetweet 34 ribu kali dan disukai 76,9 ribu kali oleh pengguna twitter. Belakangan kicauan itu sudah dihapus.
Singkat cerita, sekelompok wisatawan perempuan tersebut menginap di sebuah apartemen yang menghadap langsung ke arah kuburan. Diceritakan pula mereka mengalami kejadian yang menyeramkan.
“EH TRS AKU KAGET DONG DI BAWAH BALKON TERNYATA KUBURAN DAN KUBURANNYA HITAM SEMUA 😭😭😭KAGET BANGET”, begitu bunyi tangkapan layar yang disebarkan lewat utas tweet.
Kepala UPT Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sleman, Suhardono pun angkat bicara. Dia mengatakan mayoritas makam tradisional di Yogyakarta utara termasuk Sleman memang banyak menggunakan batu Gunung Merapi yang memang berwarna hitam. Penggunaan batu tersebut secara tradisi memang telah dilakukan sejak zaman dahulu.
ADVERTISEMENT
"Kemungkinan kalau pakai nisan hitam karena batu tersedia dari Gunung Merapi dan masih kental dengan budaya Hindu mirip candi," kata Suhardono kepada kumparan, Selasa (29/10).
Dia juga mencontohkan bagaimana makam tradisional atau lama di Jawa Timur banyak yang menggunakan nisan kayu. Menurutnya itu terjadi sesuai adat dan kondisi wilayahnya, di mana kayu jauh lebih mudah ditemui di Jawa Timur.
Sasono Loyo Puluh Dadi
Suasana di Sasono Loyo Puluh Dadi yang letaknya tak jauh dari Jalan Seturan Raya, Kabupaten Sleman. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
"Daerah Jawa Timur pakai kayu nisannya sesuai adat dan kondisi wilayahnya. Kayu mungkin mudah di Jawa Timur carinya," kata dia.
Dia mengatakan makam-makam tersebut dikelola sendiri oleh desa karena merupakan makam leluhur.
"Kalau makam TPU milik Pemda Sleman pusara pakai cor dan namanya ditulis marmer sesuai Perda dan Perbup," ujar Suhardono.
ADVERTISEMENT
Suhardono menjelaskan, di makam kampung atau tradisional kini masyarakat mulai banyak beralih ke nisan keramik lantaran lebih murah. Namun tetap masih ada masyarakat yang mempertahankan tradisi dengan menggunakan nisan batu Merapi.
"Tapi sekarang sudah banyak yang pakai keramik kalau di pedesaan. Biaya murah dan pemasangan lebih mudah tidak terlalu berat. Kecuali yang Kejawen (pakai nisan batu)" ujar dia.
Sasono Loyo Puluh Dadi
Sasono Loyo Puluh Dadi yang letaknya tak jauh dari Jalan Seturan Raya, Kabupaten Sleman. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Fitri salah seorang warga Yogyakarta justru heran dengan unggahan viral tersebut, pasalnya nisan bewarna hitam sangat umum di Yogyakarta. Dia menjelaskan nisan berwarna hitam itu berbahan batu dari Merapi dan semen.
"Dari batu terus diukir kaya di Muntilan itu banyak pinggir jalan. Batu Merapi dipotong kotak diukir. Perekatnya biasanya semen," kata Fitri, Senin (28/10).
ADVERTISEMENT
Untuk membeli nisan seperti itu mudah ditemui di Muntilan, Jawa Tengah. Di situ banyak pengrajin batu yang biasa menjual nisan-nisan di pinggir Jalan Magelang-Yogyakarta. Di rumahnya di Seyegan, Kabupaten Sleman, nisan berwarna hitam juga umum digunakan.
"Daerah di Seyegan juga hitam seperti itu. Bentuk kepalanya seperti kucup kembang. Ada (berbahan) marmer juga, dulu orang tertentu tokoh masyarakat zaman saat itu," kata dia.
kumparan juga telah menelusuri keberadaan makam yang dimaksud dalam tweet viral tersebut Makam tersebut adalah Sasono Loyo Puluh Dadi yang letaknya tak jauh dari Jalan Seturan Raya, Kabupaten Sleman, letaknya memang tak jauh dari sebuah apartemen.
Memasuki makam, tak ada yang aneh dari makam tersebut. Nisannya sama dengan kebanyakan kuburan yang ada di Yogyakarta. Di situ nisan makam juga tak hanya berwarna hitam tapi juga berwana putih, biru, dan merah.
ADVERTISEMENT
Yani salah seorang warga yang membuka jasa laundry tak jauh dari makam mengatakan tidak ada hal yang angker dari makam tersebut. Menurutnya makam tersebut biasa-biasa saja seperti makam lain. Dia mengakui jalan di sekitar makam cenderung ramai karena merupakan jalan pintas.
“Nggak ada yang angker. Justru tempat kita ramai banget soalnya itu tembus Selokan (Selokan Mataram),” kata Yani, Senin (28/10).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan