Sejarawan Minta Pemerintah Turun Tangan Perbaiki Makam Cut Meutia

Pahlawan Nasional Cut Meutia merupakan pahlawan perempuan yang memiliki andil besar dalam merebut kemerdekaan dari tangan pejajah Belanda. Namun sayangnya, perjuangan itu tak setimpal dengan penghargaan yang diberikan. Kondisi makam terbengkalai bahkan tak ada akses jalan yang bagus untuk menziarahi makamnya di pedalaman Aceh Utara, Aceh.
Dosen sejarah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Mawardi, melihat tanggung jawab terhadap perawatan makam pahlawan ini tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat saja. Meski Cut Meutia telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional, semestinya pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten juga ikut menjaganya.
“Saya kira jangan berharap pada pemerintah pusat saja, mestinya pemerintah daerah juga ikut menjaga. Jangan ketika sudah menjadi pahlawan nasional malah kita yang orang Aceh sendiri lepas tangan,” ujar Mawardi kepada kumparan Jumat (9/11).
Menurut Mawardi, akses jalan merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperbaiki. Sebab kata dia, sejauh apa pun lokasi makam jika akses jalan bagus pasti bakalan ada peziarah yang berkunjung ke sana untuk menikmati wisata sejarah makam pahlawan.

Karena itu, ia meminta kepada pemerintah setempat untuk turun tangan dan lebih memperhatikan makam Cut Meutia.
“Bagaimana kita mau mempromosikan Cut Meutia, menanamkan nilai perjuangannya kepada generasi muda, sedangkan akses ke sana saja susah. Contohnya seperti anak-anak sekolah mereka pasti mau berkunjung ke sana untuk studi wisata sejarah ini. Nah, kalau aksesnya sulit yang penting pun menjadi enggak penting lagi,” tuturnya.
Mengenai akses jalan ini saya kira sangat penting. Jangan kita lepas tangan karena ini sudah jadi pahlawan nasional. Cut Meutia ini pahlawan kebanggaan kita (Aceh) saya kira terutama pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten perlu turun tangan
Pesan Untuk Generasi Muda
Mawardi kemudian menceritakan masa hidup Cut Meutia yang rela menceraikan suami pertamanya lantaran sang suami terlalu pasif (bersahabat) dengan kolonial Belanda.
Ideologi kuat dan darah perjuangan yang mengalir di tubuhnya menumbuhkan semangat jiwa pantang menyerah demi membela agama dan negara. Cut Meutia gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timur, Aceh Utara.
“Nilai yang bisa kita petik, yaitu jiwa patriotismenya dia tidak pernah menyerah dan mudur melawan Belanda. Sebenarnya dia itu seorang bangsawan, artinya ada pilihan kalau mau berteman dengan Belanda, maka dia bisa dapat jabatan atau tunjangan,” kata Mawardi, saat menceritakan Sosok Cut Meutia.

Dia tidak mau dan memilih tetap berperang, tidak perlu hidup enak yang penting harga diri. Kepada generasi saat ini jangan menggadaikan harga diri demi uang, tetapi mengorban harga diri demi agama dan bangsa
Untuk itu, Mawardi mengajak para generasi muda untuk memperdalam ilmu tentang sejarah agar mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan atau sejarah secara umum.
“Mereka rela berjuang demi agama, meninggalkan rela hilang kekuasaan, hidup enak yang penting harga diri bisa terjaga meski akhirnya harus gugur. Meski dunia saat ini serba instan, untuk generasi sekarang harus punya idealisme dan jati diri yang kuat,” pungkasnya.

