Sejumlah Nakes Mundur Tangani Pandemi: Pasien Melonjak, Insentif Terhambat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
18
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) bersiap merawat pasien di rumah sakit darurat penyakit virus corona (COVID-19), di Jakarta, Indonesia, 17 Juni 2021. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) bersiap merawat pasien di rumah sakit darurat penyakit virus corona (COVID-19), di Jakarta, Indonesia, 17 Juni 2021. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters

Beban tenaga kesehatan (nakes) di masa pandemi corona ini begitu berat. Apalagi belakangan ini kasus harian melesat tajam.

Selain beban berat, jumlah mereka dengan pasien tak seimbang. Hal itu yang disampaikan oleh Ketua Dokter Indonesia Bersatu, dr Eva Sri Diana Chaniago.

"Jumlah pasien yang jauh meningkat malah diimbangi dengan jumlah nakes yang jauh berkurang tentunya membuat pelayanan tidak bisa maksimal sesuai yang seharusnya," kata Eva kepada kumparan, Jumat (16/7).

Ia menambahkan, belum lagi pasien yang datang ke RS kebanyakan gejalanya sudah berat akibat isolasi di rumah terlebih dulu. Sehingga penanganan terlambat.

"Pasien dengan gejala berat apalagi kritis butuh layanan ekstra daripada pasien biasa. Untuk pasien kritis idealnya ditangani oleh satu perawat," ungkapnya.

Sejumlah perawat mengenakan alat pelindung diri beristirahat di instalasi gawat darurat khusus penanganan COVID-19 di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Riau, 5 Juni 2020. Foto: FB Anggoro/ANTARA FOTO

Hal ini kemudian menjadi ironi bagi nakes. Eva pun mengungkap, sudah mulai ada nakes-nakes yang mengundurkan diri dari profesinya.

"Jadi adalah sulit mengharapkan idealis jika jumlah pasiennya sudah 50-an, jika nakesnya saja misal hanya 6-8 orang. (Mereka) Resign karena merasa risiko kerja tidak sebanding yang fee yang dihasilkan," paparnya.

"Ketakutan jadi korban atau karena tidak sanggup lagi sudah terlalu lelah, dilarang keluarga, ada juga yang beralasan ingin melanjutkan studi," sambung dia.

Seorang petugas kesehatan merawat pasien COVID-19. Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Yang krusial berikutnya adalah masih adanya keterlambatan insentif seperti yang dijanjikan. Hal ini membuat nakes yang mengundurkan diri tersebut tak punya pilihan.

"Keterlambatan insentif, juga bahkan gaji yang kecil bagi pegawai tetap/PNS RS. Ini juga menjadi sebab utama nakes sehingga terpaksa resign," jelas Eva.

"Terutama biasanya relawan, karena mereka hanya mengharapkan insentif, tanpa gaji, tunjangan, apalagi THR," tutup dia.