Sejumlah Warga Kehilangan Bansos, Pemkot DIY Segera Perbaiki Desil

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti ditemui usai acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9/2026). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti ditemui usai acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9/2026). Foto: Panji/kumparan

Sejumlah warga tidak mampu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kehilangan bantuan sosial (bansos) setelah desilnya naik dari 1-4 ke desil 6-10.

Pemda DIY berharap perbaikan desil bisa dilakukan dengan cepat karena hal ini berkaitan dengan akses bansos.

"Ini data atau sesuatu yang kemudian harus kita lihat kembali," kata Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti ditemui usai acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9).

"Sedangkan kecepatan juga kita lihat, oke boleh diperbaiki, tapi kita harus bicara tempo. Karena di sini ada implikasi ketika data itu tidak cepat disesuaikan akan berimplikasi kepada supporting atau bantuan yang diterima oleh mungkin masyarakat yang di desil 1 sampai 5 yang kemudian mungkin berubah ke atas gitu ya," tegasnya.

Menurut Made, perbaikan desil ini harus ada batas waktunya.

"Dan itu kapan? Harus ada batas waktunya. Karena ketika kita bicara mungkin dia dapat bantuan sosial, dia dapat keringanan UKT (uang kuliah tunggal) waktu pendidikan atau hal-hal lain yang mempermudah masyarakat kita di desil 1 sampai 5, itu kan juga ada batasan waktunya. Enggak bisa menunggu lama," tegasnya.

Made bilang data dari BPS ini digunakan oleh pemerintah daerah. Sementara pemerintah daerah tidak bisa mengintervensi data tersebut.

Ilustrasi Desil. Foto: Website Kemensos
Ilustrasi Desil 10 Foto: Istimewa

"Kami yang menggunakan, tapi kan kami tidak bisa istilahnya mengintervensi data. Tapi kami cuma minta bahwa apa yang data yang kemudian disepakati dan keluar bagian dari data DTSEN misalnya. Karena kan apa pun itu, desil tetap menjadi parameter, acuan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, kasus warga miskin naik desilnya dan kehilangan bantuan sosial (bansos) banyak terjadi di Kota Yogyakarta.

Baru-baru ini kasus ini terjadi pada Yoyok Sunaryo (67), lansia sebatang kara yang tinggal di sebuah kontrakan di Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta.

Yoyok tak lagi mendapat bansos beberapa bulan terakhir. Setelah dibantu cek oleh tetangga, ternyata desil Yoyok naik dari 1 atau 2 ke desil 6-10.

Sakit komplikasi yang dialami Yoyok juga membuatnya tidak bisa beraktivitas fisik berat.

"Saya tinggal sendirian," kata Yoyok.

Yoyok mengatakan dahulu dia mendapat berbagai bansos termasuk makanan tetapi sekarang sudah tidak.

"Sekarang nggak (dapat). Dulu (dapat) buah-buahan, telur. Saya kena alergi telur sama mi instan," ujarnya.

Yoyok mengatakan sekarang dirinya jarang bekerja. Paling sesekali dia diminta saudara untuk bantu bersih-bersih di rumahnya.

"Bersih-bersih," ujarnya.