News
·
3 Oktober 2019 18:49

Sekaten di Yogya Tahun Ini Tanpa Pasar Malam

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sekaten di Yogya Tahun Ini Tanpa Pasar Malam (2191)
Abdi dalem dan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Solo membawa gamelan sekaten Kiai Guntur Madu dan kiai Guntur Sari saat kirab menuju Masjid Agung Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/11/18) Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
Setiap tahunnya atau tepat pada tanggal 6 hingga 12 Maulud berdasarkan Kalender Jawa Sultan Agungan, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Sekaten atau biasa disebut Sekaten. Selama Sekaten berlangsung biasanya diadakan pula pasar malam di Alun-alun Utara Kota Yogyakarta. Namun tahun ini, pasar malam tersebut dipastikan ditiadakan.
ADVERTISEMENT
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, menjelaskan ditiadakannya pasar malam saat Sekaten atas perintah Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Itu memang dawuh Dalem sebenernya. Jadi Ngarso Dalem memang sempat dawuh kalau alun-alun itu, kalau setiap tahun dipakai pasar malam itu tidak akan pernah bisa bagus,” katanya saat jumpa pers Pameran Sekaten 2019 di Bale Raos, Yogyakarta, Kamis (3/10).
Mantu Sultan tersebut menjelaskan setiap digunakan pasar malam, rumput Alun-alun Utara kondisinya tak keruan. Selain itu juga kondisi alun-alun menjadi kotor. Kemungkinan pasar malam akan diadakan tahun depan atau tahun depannya lagi.
“Kemungkinan dua tahun sekali. Karena dawuh Dalem yang saya tahu sendiri itu adalah supaya kondisi alun-alun supaya terlihat bagus. Kalau setiap tahun ditempati rusak, berarti kemugkinan dua tahun sekali. Kalau tahun depan kondisinya tidak pulih mungkin tidak ada, dipindah, atau gimana. Yang jelas tahun ini break pasar malam,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, Notonegoro juga menjelaskan sejarah pasar malam yang bukan merupakan bagian dari Sekaten. Dia mengatakan pasar malam dahulu digagas Belanda untuk memecah perhatian masyarakat. Pasalnya Sekaten berisi syiar agama dan perjuangan.
“Itu kan pasar malam perayaan tapi bukan untuk merayakan Sekaten, bukan bagian Sekatennya itu sendiri. Jadi kita coba mengembalikan ke semangat Sekaten, mumpung kesempatan sekalian ini juga untuk kondisi alun-alun supaya lebih baik,” katanya.
Sempat terhenti, pasar malam mulai ada di perayaan Sekaten sekitar 30 tahun lalu. Notonegoro mengatakan pasar malam yang kemudian berkembang dirasa tidak selaras dengan perayaan Sekaten yang bermakna syahadatain (dua kalimat syahadat). Untuk hiburan rakyat, seperti zaman dahulu yaitu gamelan Sekaten itu sendiri.
ADVERTISEMENT
“Kalau terus berkembang-berkembang (pasar malam) sempat menjadi dangdut juga itu bukan perkembangan yang harus dipertahankan. Saya tidak ada masalah dengan dangdut, tapi kan tidak cocok dengan temanya. Ini kan Sekaten dari kata syahadatain nah itu mari kita coba merasakan Sekaten pada waktu dulu,” katanya.
Di Sekaten, makanan-makanan tradisional seperti endog abang (telur merah) dan sego gurih (nasi gurih) masih tetap bisa ditemui masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman. Selain itu di Pagelaran Keraton juga tersedi stan-stan makanan.
“Alun-alun kosong. Stan makanan untuk yang pameran ada di Pagelaran Keraton tapi makanan yang khas Sekaten itu memang biasanya ada di pelataran masjid kauman. Karena zaman dulu seperti itu orang datang menonton, mengaji, nunggu di situ cemilan dan segala macam ada di situ. Endog abang, sego gurih itu ada di situ,” urainya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengamini pernyataan sang kakak. Bahwa ditiadakannya pasar malam pada perayaan Sekaten kali ini untuk mengembalikan semangat awal Sekaten yang mulai dilupakan masyarakat.
“Intinya kita mengembalikan semangat Sekaten dan makna dari Sekaten itu sendiri, karena sekarang orang sudah mulai melupakan keaslian grebeg Sekaten sendiri,” ujarnya.
Bendara juga menjelaskan selain sederet prosesi dari miyos gangsa hingga kondur gangsa dalam perayaan Sekaten juga ada Pameran Sekaten dengan tema besar berkaitan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pada tanggal 1-9 November di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Sitihinggil Keraton Yogyakarta akan dipamerkan sejumlah koleksi yang berkaitan dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
ADVERTISEMENT
Topik pameran akan meliputi biografi, peran, karya, obyek, dan anugerah pahlawan kepada Sri Sultan HB I.