Sekeluarga di Malang Bunuh Diri Tinggalkan Seorang Anak, Begini Kondisi Si Anak
·waktu baca 2 menit
Catatan Redaksi: Bijaksanalah membaca konten ini. Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan!

Sekeluarga di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, bunuh diri pada Selasa (12/12).
Yang tewas adalah Wahaf (suami, 44 tahun), Sulikah (istri, 40), dan anak bungsu perempuan yang berusia 12 tahun.
Mereka meninggalkan anak sulung perempuan (sebelumnya disebut laki-laki) yang merupakan kembaran si bungsu.
Bagaimana kondisinya?
"Relatif stabil, tentunya kemarin pada saat kami datangi juga masih sedih tentunya namun relatif stabil karena anaknya ini tergolong anak yang berprestasi," kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Gandha Syah Hidayat, Rabu (13/12), kepada kumparan, Rabu (13/12).
"Sesuai informasi yang kami terima juga masuk SMP 3, kalau enggak salah SMP 3 itu lewat jalur prestasi," kata Adnan.
Motif bunuh diri itu adalah utang. Lantas, kenapa istri dan anak mesti ikut meninggal? Apakah dipaksa suami?
"Itu yang perlu kami dalami. Mengerucut ke dua, antara pemaksaan atau tipu muslihat. Namun, berdasarkan fakta Olah TKP dan fakta autopsi, bukti-bukti untuk perlawanan atau pemaksaan itu tidak ada," ujar Gandha.
Soal utang itu, menurut Gandha, diakui sejumlah saksi.
"Bapak W (Wahaf) sempat memberi tahu bahwa 'Sepertinya saya tidak bisa mengembalikan'," kata Gandha. Ucapan Wahaf itu kira-kira sepekan lalu.
Gandha enggan menyebut lebih detail soal utang itu: Berapa nominalnya, ke siapa utang itu. Yang jelas, itu bukan pinjaman online.
"Sementara, (utang ke) perseorangan. Tidak ada keluarga terdekat atau rekan kerja yang diteror SMS atau WA yang identik dengan pinjaman online," kata Gandha.
Wasiat untuk Si Sulung
Mereka tewas di satu kamar. Terdapat cermin di meja rias di kamar itu yang ditulisi spidol dengan pesan:
'Kakak Jaga Diri
Papa, Mama, Adik pergi dulu
Nurut Uti, Kung, Tante dan Om
Belajar yang Baik
Uang Papa Mama untuk pemakaman jadi satu love you kakak-Papa'
