Sekelumit Cerita Tsunami Mentawai dan Padang 1797 di Zona Megathrust
·waktu baca 3 menit

Rentetan gempa di jalur megathrust Siberut-Mentawai, Sumatera Barat, membuat masyarakat panik. Ini memang bukan kali pertama terjadi peristiwa serupa.
Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi kisah tsunami yang melanda kawasan Mentawai dan sekitarnya pernah terjadi. Dan tentunya masyarakat harus waspada.
Jauh sebelum ini misalnya, terdapat peristiwa gempa memicu tsunami yang bersejarah pada tahun 1797. Kala itu tsunami diawali gempa dahsyat yang diperkirakan berkekuatan 8,4 magnitudo.
Dikutip dari situs BNPB, Selasa (29/8), gempa tersebut terjadi pukul 22.00 WIB. Sama seperti gempa kemarin, guncangan kala itu terjadi di zona megathrust.
Tsunami 1797
Tidak banyak catatan tersisa akan dampak dari gempabumi tersebut dan tsunami yang menyertainya. Database tsunami global mencatat hanya 2 pengamatan tsunami akibat kejadian tersebut: satu di Kota Padang yang berjarak 184 km dari sumber gempa 1; dan di Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan (antara Siberut–Nias) yang berjarak 60 km dari sumbergempa 2.
Di Padang, tsunami menghantam dengan dahsyat, lalu air laut surut sedemikian rupa hingga Sungai Batang Arau menjadi kering olehnya; sebelum kedatangan tsunami berikutnya.
Rangkaian tsunami ini terjadi hingga 3 (tiga) kali; menyebabkan Kota Padang terendam; permukiman di Air Manis luluh lantak; ±300 jiwa meninggal dunia, sebagian ditemukan bergelantungan tersangkut di cabang pepohonan; dan ada kapal yang terbawa jauh ke daratan hingga 5.5 km [2]. Sementara di Pulau Batu, tidak disampaikan laporan detail dampak gempabumi dan tsunami, selain bahwa tsunaminya “considerable”.
Segmen Mentawai Megathrust
Survei kelautan tahun 2008 mengindikasikan bahwa tsunami 1797 tersebut mungkin disebabkan oleh sumber lokal akibat longsoran bawah laut, atau dari back thrust [3]. Tsunami 1797 di Padang justru lebih tinggi dibandingkan 36 tahun setelahnya saat gempa 1833 yang secara magnitude lebih besar, namun ketinggian tsunami di Padang nya justru lebih kecil (2–3 meter).
"Dengan laju pergeseran Segmen Mentawai Megathrust yang mencapai 57mm per tahun, pergeseran kerak bumi telah mencapai ±12.7m selama 225 tahun ini; dan akumulasi energinya telah mencapai 8.8 M [4]; yang kurang lebih mendekati kekuatan gempabumi pada tahun 1797 tersebut; atau gempabumi rangkaiannya pada tahun 1833 dengan magnitude 9," tulis Feri Irawan dari BNPB.
Adapun energi yang dilepaskan akibat gempa 8.9 M adalah ±6 kali lipat dari gempa 8.6 M sebagaimana terjadi di Nias tahun 2005; atau ±12 kali lipat dari gempa Bengkulu September 2007 dengan skala 8.4 M yang dirasakan sedemikian kuatnya bahkan oleh warga Mentawai. Atau ±39 kali lipat dari gempa 7.5 M yang menimbulkan Tsunami Palu 28 September 2018; atau ±10.5 kali lebih kecil dari gempa 9.15 M yang menimbulkan Tsunami Aceh 26 Desember 2004.
Gempa Bengkulu 8.4 M pada September 2007 belum sepenuhnya melepaskan akumulasi energi yang terkumpul sejak lepas pada tahun 1797 dan 1833 tersebut. Bila sebelumnya gempa 1797 di Segmen Siberut diikuti dengan gempa 1833 di Segmen Enggano; kali ini sepertinya berkebalikan: gempa Bengkulu 2007 menjadi pre-cursor untuk gempa di Segmen Siberut.
"Februari 2019 lalu, serangkaian gempa juga terjadi di Segmen Sipora yang bisa jadi merupakan pre-cursor sebelum gempa utama di Segmen Siberut," kata BNPB.
