Sekjen PBB Kecewa Distribusi Vaksin COVID-19 di Dunia: 'Cabul' dan Tak Beretika

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Foto: Maxim Shemetov/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Foto: Maxim Shemetov/REUTERS

Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan pidato dalam sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat. Ia menyinggung masalah distribusi vaksin COVID-19 di dunia.

Guterres tak mampu menyembunyikan kekecewaannya terhadap distribusi vaksin. Ia bahkan menegur beberapa negara di dunia karena distribusi vaksin COVID-19 tidak adil.

Bahkan, Guterres menganggap distribusi vaksin saat ini sebagai tindakan 'cabul' dan memberi dunia nilai 'F' dalam masalah etika.

"Ini adalah dakwaan moral dari keadaan dunia kita. Ini adalah kecabulan. Kami lulus ujian sains. Tapi kami mendapatkan nilai F dalam etika," kata Guterres dikutip dari Reuters, Rabu (22/9).

Salah satu kotak berisi vaksin Moderna disiapkan untuk dikirim di pusat distribusi McKesson, Olive Branch, Mississippi, Amerika Serikat. Foto: Paul Sancya / Pool / REUTERS

Guterres menjelaskan, sebagai bukti nyata, saat ini negara kaya di dunia ada yang mampu memvaksinasi penduduknya mencapai 90 persen.

Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa negara di Afrika yang bahkan belum menerima satu dosis pun vaksin COVID-19. Sebab, dari 5,7 miliar dosis vaksin COVID-19 yang diberikan di seluruh dunia, hanya 2 persen ada di Afrika.

Oleh sebab itu, Guterres mendorong rencana global untuk memvaksinasi 70 persen populasi dunia pada paruh pertama 2022.

Petugas kesehatan memberikan vaksin Sinovac untuk anak-anak dan remaja di Afrika Selatan, di Pretoria, Afrika Selatan. Foto: Siphiwe Sibeko/REUTERS

Lebih lanjut, dalam pidatonya Guterres menyinggung masalah hubungan AS dan China yang semakin tidak menentu.

Ia khawatir, buruknya hubungan kedua negara ini akan memicu masalah besar bagi dunia.

"Saya khawatir dunia kita bergerak menuju dua perangkat aturan ekonomi, perdagangan, keuangan dan teknologi yang berbeda. Dua pendekatan yang berbeda dalam pengembangan kecerdasan buatan dan pada akhirnya dua strategi militer dan geo-politik yang berbeda," kata Guterres.

"Ini adalah masalah. Ini akan jauh lebih sulit diprediksi daripada Perang Dingin," tutup Guterres.