Sekjen PBB Sebut Tak Pernah Lihat Pembantaian Iklim Seperti Banjir di Pakistan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekjen PBB Antonio Guterres. Foto: Pedro Nunes/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen PBB Antonio Guterres. Foto: Pedro Nunes/REUTERS

Sekjen PBB Antonio Guterres pada Sabtu (10/9) mengatakan "tidak pernah melihat pembantaian iklim" dalam skala seperti itu ketika mengunjungi titik-titik terdampak banjir di Pakistan. Ia pun menyalahkan negara maju atas musibah itu.

Dikutip dari AFP, hampir 1.400 orang tewas dalam banjir yang menggenangi area yang seluas Inggris dan memusnahkan tanaman, menghancurkan rumah, bisnis, jalan, dan jembatan.

Guterres berharap kunjungannya dapat memberikan menggalang dukungan untuk Pakistan, yang menurut data pusat pemulihan banjir pemerintah menelan biaya sementara bencana lebih dari 30 miliar dolar AS.

"Saya sudah melihat banyak bencana kemanusiaan di dunia, tapi saya tidak pernah melihat pembantaian iklim dalam skala ini," kata Guterres dalam konferensi pers di kota pelabuhan Karachi, setelah menyaksikan kerusakan terparah di selatan Pakistan.

Foto udara menunjukkan daerah pemukiman yang terendam banjir di kota Dera Allah Yar di distrik Jaffarabad, provinsi Balochistan pada Selasa (30/8/2022). Foto: Fida Hussain/AFP

"Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata atas apa yang saya lihat hari ini," lanjutnya.

Pakistan diguyur hujan lebat yang sering kali menghancurkan selama musim hujan tahunan, yang sangat penting bagi pertanian dan pasokan air. Namun, curah hujan yang intens seperti tahun ini tidak pernah dirasakan selama beberapa dekade, sementara gletser yang mencair dengan cepat di utara selama berbulan-bulan menambah tekanan pada saluran air.

"Negara-negara kaya secara moral bertanggung jawab dalam membantu negara berkembang seperti Pakistan untuk pulih dari bencana seperti ini, dan untuk beradaptasi untuk membangun ketahanan terhadap dampak iklim yang sayangnya akan terulang di masa depan," ujarnya, sembari menyebut negara-negara G20 menyebabkan 80% dari emisi hari ini.

Pakistan bertanggung jawab atas kurang dari 1% emisi gas rumah kaca global, namun berada di posisi kedelapan dalam daftar yang dikumpulkan NGO Germanwatch tentang negara-negara yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem yang disebabkan perubahan iklim.

Selama kunjungan singkatnya, Guterres berhenti di beberapa kamp darurat dan bertemu korban banjir yang putus asa, termasuk wanita yang melahirkan dalam semalam. Guterres juga mengunjungi Mohenjo-daro, situs warisan dunia UNESCO berusia 4.500 tahun, yang mengalami kerusakan air akibat hujan musiman yang tidak berhenti.