Sekjen PBB Tiba di Pakistan, Kunjungi Korban Banjir dan Serukan Dukungan Global

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Foto: Maxim Shemetov/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Foto: Maxim Shemetov/REUTERS

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Jumat (9/9) melakukan kunjungan selama dua hari ke Pakistan yang baru-baru ini dilanda bencana banjir parah.

Dalam kunjungannya, Guterres menyerukan perlunya peningkatan dukungan global terhadap dampak bencana banjir yang menewaskan ribuan orang dan mempengaruhi jutaan penduduk di Pakistan tersebut.

Sepertiga wilayah dari negara di Asia Selatan itu terendam air akibat curah hujan terparah dalam satu dekade terakhir. Dilansir France24, pemerintah Pakistan mengatakan perlunya biaya setidaknya Rp 148 triliun untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur yang rusak.

Sejumlah warga korban banjir mulai menempati tenda di sebuah kamp darurat di Hyderabad, Sindh, Senin (5/9/2022). Foto: Akram Shahid/AFP

Jumlah ini terbilang mustahil mengingat utang Pakistan yang cukup tinggi. Saat ini, pemerintah Pakistan menempatkan bantuan seperti makanan dan tempat tinggal sebagai prioritas utama.

“Kunjungan ini akan berkontribusi untuk meningkatkan respons internasional yang sepadan dan terkoordinasi terhadap kebutuhan kemanusiaan dan lainnya dari 33 juta warga Pakistan yang terkena dampak,” kata Kementerian Luar Negeri Pakistan, Jumat (9/9).

X post embed

Guterres akan bertemu dengan para pemimpin Pakistan untuk berbagi perspektif mengenai tanggapan nasional dan internasional atas bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Sehari sebelum kunjungan tersebut, Pakistan telah menerima bantuan tenda dan terpal yang diberikan oleh PBB sebesar Rp 2 miliar.

Pakistan Jadi Salah Satu Negara di Dunia yang Rentan terhadap Dampak Perubahan Iklim

Menurut laporan dari Badan Manajemen Bencana Pakistan, banjir tahun ini berdampak pada 33 juta orang. Artinya, satu dari tujuh warga negara itu menderita kerugian karena banjir.

“Semuanya tenggelam, semuanya hanyut,” tutur salah satu korban banjir di Provinsi Sindh, Ayaz Ali.

Sejak Juni lalu, hujan monsun tanpa henti disertai banjir bandang di Pakistan telah menelan lebih dari 1.100 korban jiwa dan merendam sepertiga wilayah negara itu. Jutaan rumah warga rusak serta lahan pertanian vital tergenang air.

Orang-orang mengendarai gerobak keledai di sepanjang jalan yang banjir, menyusul hujan selama musim hujan di Hyderabad, Pakistan, Rabu (24/8/2022). Foto: Yasir Rajput/REUTERS

Perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di dunia disinyalir menjadi penyebab utamanya.

Padahal, Pakistan hanya menyumbang kurang dari satu persen emisi gas rumah kaca global. Namun negara itu berada di urutan kedelapan sebagai negara yang paling rentan terhadap dampak dari perubahan iklim.

Menteri Perencanaan Pakistan, Ahsan Iqbal, pada Senin (29/8) sebelumnya mengatakan, pihak yang harus bertanggung jawab atas bencana banjir di negaranya adalah masyarakat dunia.

Iqbal menegaskan bahwa masyarakat dunia berutang kepada Pakistan yang harus menanggung akibat dari perubahan iklim ini. Ia menyalahkan dampak dari pembangunan tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh negara-negara maju.

Buruh membersihkan apel di sebuah kebun di daerah yang dilanda banjir di pinggiran Quetta, Balochistan, Pakistan, Selasa (6/9/2022). Foto: Banaras Khan/AFP

“Jejak karbon kami adalah yang terendah di dunia,” kata Iqbal.

“Komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk membantu kami, meningkatkan infrastruktur kami, untuk membuat infrastruktur kami lebih tahan iklim, sehingga kami tidak mengalami kerugian seperti itu setiap tiga, empat, lima tahun,” tegas dia.

Para ahli melaporkan, dampak banjir kali ini terhadap Pakistan sangat mengkhawatirkan. Apabila tidak dikelola dan diatasi dengan baik, dampaknya bisa menghancurkan negara.

Penyebabnya dikarenakan sebelum dilanda bencana ini, Pakistan sudah berada di tengah-tengah krisis ekonomi, inflasi tinggi, penurunan harga mata uang dan defisit.

Penulis: Thalitha Yuristiana.