Sekolah ICM Minta Maaf Terkait Dugaan Pelecehan-Bullying, Buka Layanan Pengaduan

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Edukasi Sejahtera (YES) Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung, buka suara terkait dugaan pelecehan seksual dan bullying yang terjadi di sekolah tersebut. Dalam keterangannya ia menyampaikan langkah yang diambil pihaknya dalam menyikapi peristiwa tersebut, termasuk meminta maaf kepada semua pihak yang terdampak.
"Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua, dan yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya," kata Tamsil dalam keterangannya dikutip Senin (28/9).
"Pertama, permohonan maaf dan keprihatinan kami. Kepada siswa dan keluarga yang terdampak, saya menghaturkan permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya," tambah keterangan yang dibagikan di akun Instagramnya.
Tamsil menerangkan tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dengan luka fisik maupun psikis. Apalagi, lanjutnya, trauma yang membuatnya harus meninggalkan lingkungan belajar.
"Tidak ada pula kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit akibat tindakan yang mencederai kemanusiaan dan keselamatan anak. Saya sudah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan, menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral," tuturnya.
Wakil Ketua DPD RI itu memastikan akan memberikan pendampingan dan pemulihan sepenuhnya kepada korban dugaan pelecehan dan keluarga korban. Proses keadilan juga akan dikawal sampai tuntas.
"Saya menegaskan, tidak ada ruang sedikit pun di ICM bagi tindakan yang mencederai kemanusiaan, keselamatan anak, dan akhlakul karimah. Pengelolaan sekolah berasrama memang tidak sederhana. Tetapi kerumitan itu tidak akan pernah kami jadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab," tuturnya.
Berikut pernyataan lengkap Tamsil Linrung selaku Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Sekolah ICM:
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Saya mengikuti dengan saksama pemberitaan dan perbincangan publik mengenai peristiwa di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), yaitu dugaan tindak pelecehan yang dalam penanganan aparat penegak hukum, dan insiden perundungan dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus lalu. Sebagai pendiri dan Ketua Dewan Pembina, saya merasa perlu menyampaikan sikap. Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua, dan yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya.
Pertama, permohonan maaf dan keprihatinan kami. Kepada siswa dan keluarga yang terdampak, saya menghaturkan permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dengan luka fisik maupun psikis, apalagi trauma yang membuatnya harus meninggalkan lingkungan belajar. Tidak ada pula kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit akibat tindakan yang mencederai kemanusiaan dan keselamatan anak. Saya sudah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan, menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral.
Kepada korban dugaan pelecehan dan keluarganya, kami memastikan pendampingan dan pemulihan diberikan sepenuhnya, serta proses keadilan dikawal sampai tuntas. Saya menegaskan, tidak ada ruang sedikit pun di ICM bagi tindakan yang mencederai kemanusiaan, keselamatan anak, dan akhlakul karimah. Pengelolaan sekolah berasrama memang tidak sederhana. Tetapi kerumitan itu tidak akan pernah kami jadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab.
Kedua, proses penanganan peristiwa perundungan. Fungsi Dewan Pembina bukan mengelola operasional sekolah sehari-hari. Itu ranah manajemen. Peran kami adalah memastikan nilai-nilai yang menjadi fondasi dan pilar ICM benar-benar ditegakkan. Manajemen sekolah telah melakukan pemeriksaan internal, memberikan sanksi kepada siswa dan pembina yang terkait, memfasilitasi pertemuan antar orang tua, serta melaporkan kejadian ini kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah, dan itulah yang akan kami telusuri lebih dalam.
Ketiga, mengenai dugaan pelecehan. Sikap kami tegas. Kami mendukung penuh proses yang bergulir di ranah aparat penegak hukum. Tidak ada intervensi dari saya, dari yayasan, atau dari siapa pun. Tidak ada perlakuan istimewa bagi siswa mana pun, apa pun latar belakang orang tuanya.
Keempat, soal perlakuan yang setara. ICM sejak awal didirikan sebagai sekolah yang terbuka bagi anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk melalui program beasiswa penuh hingga uang saku bulanan bagi siswa dari kalangan dhuafa, yang kami jalankan bersama lembaga pengelola zakat nasional. Prinsip saya sederhana, begitu seorang anak masuk gerbang sekolah, ia tunduk pada aturan yang sama. Identitasnya cuma satu, sebagai pelajar yang ingin tumbuh dan berkembang bersama ICM. Terlepas dari siapa pun orang tuanya. Relasi personal, jabatan, atau kedekatan politik tidak memengaruhi bagaimana persoalan seorang anak ditangani. Ukurannya adalah fakta, aturan, dan kepentingan terbaik bagi anak.
Kelima, simpang siur di media sosial. Saya membaca informasi yang beredar seputar kedua peristiwa ini, termasuk mengenai identitas dan latar belakang keluarga pihak-pihak tertentu. Saya tidak akan mengonfirmasi atau membuka identitas anak mana pun dalam kedua kasus ini, baik yang menjadi korban maupun yang diduga terlibat. Mereka adalah anak di bawah umur yang identitasnya dilindungi hukum, dan sepatutnya dilindungi pula oleh kita semua yang peduli pada pendidikan. Saya mengajak semua pihak lebih bijaksana dan menahan diri.
Keenam, langkah-langkah konkret. Sebagai wujud komitmen moral dan kelembagaan, saya telah memutuskan langkah-langkah berikut:
Pemulihan korban sebagai prioritas utama. Yayasan menanggung sepenuhnya pendampingan psikologis dan pemulihan bagi seluruh korban, tanpa syarat apa pun.
Evaluasi menyeluruh atas sistem, bukan berhenti pada individu yang terlibat. Mencakup keberadaan dan kesiapan pembina di lapangan, SOP kegiatan luar kelas maupun asrama, mekanisme pengaduan siswa dan orang tua, hingga fasilitas pengamanan.
Langkah mitigasi, tidak ada toleransi pembelajaran atau bimbingan satu per satu di ruang tertutup. Setiap kegiatan siswa didampingi minimal dua guru/pembina dewasa. Ini SOP yang sudah berjalan sejak awal. Saya pastikan implementasinya.
Ruang aman untuk bersuara. Kami membuka layanan pengaduan di mana setiap orang tua atau siswa dapat menyampaikan laporan, dan setiap siswa berhak mendapat layanan konseling. Semua laporan akan kami tindak lanjuti.
Ketujuh, kepada para orang tua. Bapak dan Ibu yang saya hormati, saya memahami kegelisahan yang Bapak dan Ibu rasakan hari ini. Setiap orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah menaruh harapan yang sangat besar. Bahwa anaknya akan tumbuh cerdas, saleh, dan yang terpenting, aman. Kekhawatiran itu wajar, dan kami tidak akan menganggapnya ringan.
Sejak awal, ICM dirancang sebagai kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Sekolah punya wadah dimana guru dan orang tua bertemu, berkomunikasi mengenai perkembangan anak didik dan berbagai dinamika yang terjadi, secara rutin setiap term. Bahkan juga dapat dilakukan setiap saat.
Bapak dan Ibu adalah mitra kami dalam mendidik. Karena itu, saya tidak meminta Bapak dan Ibu untuk langsung percaya. Saya mengajak Bapak dan Ibu untuk melihat, menilai, dan mengawasi langsung perbaikan yang kami lakukan, sebagai bagian dari semangat kolaborasi yang menjadi fondasi ICM:
Kami akan bertemu langsung dengan seluruh orang tua untuk menjelaskan setiap langkah dan mendengarkan masukan.
Kami membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua dan pemerintah sehingga Bapak dan Ibu menjadi bagian dari sistem perlindungan anak di ICM.
Kami akan menyampaikan laporan perkembangan secara berkala kepada seluruh orang tua, sampai seluruh pembenahan tuntas.
Pintu sekolah terbuka. Bapak dan Ibu dapat berkunjung dan berdialog dengan pengelola kapan pun diperlukan.
Kedelapan, kepada anak-anakku para siswa ICM. Kalian berhak merasa aman, dan kalian berhak bersuara. Kami akan selalu mendengarkan.
Kesembilan, sedikit catatan pribadi. Saya bicara sejenak sebagai orang yang dulu menyemai mimpi bernama ICM. Mimpi itu sederhana. Kami membangun ICM dari nol agar setiap anak yang masuk lewat gerbangnya, pulang dalam keadaan lebih baik dari saat ia datang. Lebih berilmu, lebih berakhlak, dan yang paling utama, merasa aman. Ketika ada anak-anak yang tersakiti di bawah naungan ICM, yang terluka bukan hanya mereka, tapi juga kepercayaan yang kami rawat bertahun-tahun. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan bagi kami.
Tapi saya juga memilih melihatnya sebagai ujian, bukan aib yang harus ditutupi. Saya berterima kasih kepada para orang tua, alumni, dan masyarakat yang menyuarakan keprihatinan mereka. Itu pertanda bahwa banyak orang masih menaruh harapan pada ICM sebagai rumah pendidikan yang layak dipercaya. Harapan itulah yang akan kami jawab, bukan dengan kata-kata hari ini saja, melainkan dengan langkah-langkah di atas yang bisa disaksikan dan ditagih oleh siapa pun. Sampai tuntas.
Saya berdiri pada kepentingan masa depan anak-anak ICM, serta kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan yang kita bangun menjadi tempat paling aman bagi mereka.
Wabillahi taufik wal hidayah
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
