Sekolah Rakyat Trenggalek Tempa Gadis Kembar Optimistis Gapai Cita-Cita

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah, murid kembar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek, Jawa Timur. Foto: Biro Humas Kemensos/ Alpenta Mulia Sitompul
zoom-in-whitePerbesar
Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah, murid kembar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek, Jawa Timur. Foto: Biro Humas Kemensos/ Alpenta Mulia Sitompul

Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi sejumlah anak yang mengalami masalah keluarga agar selalu optimistis meraih cita-cita di masa depan.

Gadis kembar asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah nasibnya kurang beruntung karena kehilangan kasih sayang sang ibu. Imah dan Sanah, panggilan keduanya pun memilih menimba ilmu jenjang sekolah menengah pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek.

Pilihan tersebut dinilai tepat karena sang ayah Agus Sugono sehari-hari berjualan cimol di Alun-Alun Trenggalek dengan penghasilan tak menentu. Sementara itu, Karyatun, sang ibu disinyalir bekerja di luar kota. Imah dan Sanah sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Karyatun.

"Terakhir ketemu masih kelas 4 SD. Habis itu enggak pernah ketemu lagi," kata Imah.

Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah, murid kembar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek, Jawa Timur. Foto: Biro Humas Kemensos/ Alpenta Mulia Sitompul

Sejak saat itu, Imah dan Sanah hanya tinggal dengan sang ayah dan adiknya. Imah bercerita, sikap ibunya pun berubah setelah bekerja di luar kota.

Sang ibu tak pernah mengirimkan uang untuk keluarganya. Bahkan, Imah mengungkapkan, ibunya pun bersikap tak acuh kepada anak-anaknya. Suatu ketika sang ibu kembali ke kampung halaman tempat mereka berdomisili. Namun, Karyatun lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya di satu wilayah yang sama.

Imah dan Sanah sudah mencoba untuk menemui ibunya itu, tetapi kehadiran mereka ditolak. "Ibu enggak mau ketemu kita. Terus ibuku tuh katanya ngomong ke orang-orang enggak kenal sama kita. Kita udah dibuang seperti sampah, gitu katanya orang-orang," ujar Imah dengan suara bergetar.

Meski kondisi keluarganya tak lagi utuh, Imah dan Sanah tidak ingin larut terlalu lama dalam kesedihan. Mereka pun memilih bangkit dan bersemangat dalam menyelesaikan pendidikan formal.

Imah dan Sanah memiliki cita-cita yang sama, yakni menjadi pengusaha. Keduanya ingin membantu sang ayah agar memiliki kehidupan dan kondisi ekonomi yang lebih baik.

"Kita dari dulu sudah biasa jualan kecil-kecilan, kayak jual risol gitu. Soalnya pengin bantu bapak nyari duit," ucap Imah.

Kini, Imah dan Sanah tengah menimba ilmu di SRT 50 Trenggalek untuk merajut cita-cita. Sejak masuk Sekolah Rakyat, anak kembar ini mengaku tidak khawatir mengenai kebutuhan perlengkapan sekolah hingga makanan.

"Di sini semuanya sudah disediakan. Aku juga bisa makan enak tiap hari. Senang sekali di Sekolah Rakyat," ucap Imah.