Sekolah soal Siswa Dirundung hingga Mata Rabun-Tak Mampu Jalan: Sudah Dimediasi
·waktu baca 2 menit

Pihak SMP Negeri 19 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) angkat bicara soal dugaan bullying atau perundungan yang dialami salah satu siswanya berinisial MH (13).
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 19 Tangsel, Sriwida, mengatakan pihak sekolah baru mendapatkan informasi adanya dugaan bullying pada Selasa (21/10).
Ketika itu orang tua korban memberi tahu bahwa anaknya mendapatkan bullying dari teman sekelasnya.
“Ketika sore di tanggal 21 (Oktober) itu kami baru mendapatkan informasi dari orang tuanya by phone,” kata Sriwida di rumah korban yang berada di wilayah Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Senin (10/11).
Sriwida menjelaskan, saat itu orang tua mengeluhkan bahwa anaknya mengalami gangguan penglihatan yang diduga akibat tindakan bullying.
“Mata sebelah kanan tidak bisa melihat, pusing kalau jalan,” jelasnya.
Setelah mendapatkan informasi itu, pihak sekolah langsung menggelar mediasi pada Rabu (22/10). Mediasi itu dihadiri oleh perwakilan pihak terduga pelaku maupun korban.
Sementara Kepala SMPN 19 Tangsel, Frida Tesalonik, menyebut dalam mediasi itu disepakati bahwa pihak terduga pelaku akan bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan korban.
“Ya, tanggal 22 kita mediasi. Sudah melahirkan kesepakatan kedua belah pihak. Pelaku sudah bertanggung jawab untuk membiayai pengobatan korban,” jelasnya.
Korban Alami Mata Rabun hingga Tak Mampu Berjalan
Kakak korban, Rizki, menerangkan bahwa pihak keluarga terduga pelaku sudah pernah menanggung biaya scaning dan satu kali terapi.
“Pihak keluarga pelaku kemarin bertanggung jawab untuk scaning dan terapi satu kali. Untuk pengobatan sekarang di RS katanya ngga ada uang,” pungkasnya.
Rizki menjelaskan, korban sendiri dikabarkan sudah mendapatkan bullying sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dugaan bullying yang dialami bervariatif, mulai dari ditendang hingga dipukul bagian kepala menggunakan bangku berbahan besi.
“Yang paling parah dipukul kursi kepalanya. Si korban baru cerita semua pas kejadian sudah parah. Kalau yang lainnya ngga pernah cerita, ini beraniin cerita karena udah ngerasa sakit parah,” terangnya.
Rizki menyebut, adiknya sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Kota Tangsel.
Karena kondisinya semakin parah, kini adiknya telah dirujuk ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Badannya lemas hingga tak mampu berjalan.
“Kondisi sekarang sangat memprihatinkan badan udah ga bisa dibawa jalan, pada lemas semua seluruh tubuhnya, mata sedikit rabun, sering pingsan dan ga mau makan,” pungkasnya.
