Selain Indonesia, Empat Negara Ini Juga Dilanda Badai COVID-19
·waktu baca 5 menit

Badai COVID-19 saat ini tak hanya menerpa Indonesia. Sejumlah negara di dunia juga menghadapi nasib yang serupa: lonjakan kasus harian yang meroket, kematian akibat corona yang terus meningkat, hingga rumah sakit dan fasilitas kesehatan kewalahan.
Hampir seluruh negara dengan situasi COVID-19 memburuk itu diadang oleh varian Delta, yakni varian virus corona yang pertama diidentifikasi di India. India sendiri telah berhasil melewati tsunami COVID-19 yang berlangsung sejak bulan Maret-Juni 2021.
kumparan telah merangkum beberapa negara yang saat ini tengah berjibaku dengan menggilanya pandemi COVID-19.
Tunisia
Tunisia tengah berjuang menghadapi tsunami COVID-19. Rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan dengan peningkatan kasus harian, sementara jumlah pasien meninggal akibat virus tersebut terus melonjak tinggi.
Per Selasa (6/7), Tunisia mencatat penambahan kasus harian hingga 7.930 kasus dan 119 kematian. Angka tersebut mencetak rekor penambahan kasus harian tertinggi sepanjang pandemi di negara tersebut.
Tunisia secara resmi mencatat lebih dari 449 ribu kasus COVID-19 dan 15 ribu kematian sejak awal pandemi tahun lalu.
Keadaan semakin tak terkendali. Bahkan, jenazah pasien yang meninggal terpaksa dibiarkan di kamar perawatan karena kamar mayat penuh.
"Beberapa pasien telah meninggal tanpa kita sadari," kata Imen Fteiti, seorang perawat di rumah sakit Ibn Jazzan di pusat Kota Kairouan pada Rabu (7/7), seperti dikutip dari AFP.
Portal berita The National News melaporkan, penyebaran varian Delta yang masif di negara ini menyebabkan lonjakan kasus yang tak tertahankan.
Bahkan, menurut WHO, Tunisia menjadi negara Afrika yang paling terdampak COVID-19.
Beberapa pasien mau tak mau harus bersebelahan dengan jenazah korban COVID-19 di kamar rawat hingga 24 jam lamanya. Musababnya tidak ada cukup staf untuk memindahkan jenazah tersebut, terlebih ke kamar mayat yang melebihi kapasitas.
Saat ini, lebih dari 600 pasien corona dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) yang tersedia di seluruh Tunisia.
Bahkan, pemerintah telah mendirikan rumah sakit lapangan untuk menangani krisis yang mereka sebut sebagai tsunami corona ini. Ketersediaan tempat tidur ICU dan pasokan oksigen tidak mencukupi lagi.
"Kami telah mencapai titik di mana kami tidak tahu siapa yang harus dibantu terlebih dahulu," kata Fteiti.
Di Kairouan, 5.500 liter oksigen dibutuhkan setiap harinya saat ini untuk mengobati pasien COVID-19. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan dengan pekan lalu sebelum terjadi lonjakan kasus, di mana menurut pejabat kesehatan daerah, hanya diperlukan sekitar 400-500 liter oksigen.
Sementara itu, hanya ada 45 tempat tidur ICU dan 250 tabung oksigen di rumah sakit Kairouan, baik itu RS swasta maupun umum.
Sejak 20 Juni, pihak berwenang telah memberlakukan lockdown total di enam wilayah di Tunisia, termasuk Kairouan.
Bangladesh
Bangladesh tengah diterpa badai COVID-19 yang menyebabkan rumah sakit kewalahan. Pemerintah negara tersebut akhirnya memutuskan untuk memperpanjang lockdown nasional hingga 14 Juli mendatang.
Dikutip dari Reuters, wilayah Bangladesh yang berbatasan dengan India mengalami lonjakan kasus corona yang sangat buruk. Per Selasa (6/7), tercatat penambahan kasus harian corona hingga 11.525 infeksi dan kematian sebanyak 163 jiwa.
Kini, total kasus COVID-19 Bangladesh mencapai 966.406 dan pasien meninggal berjumlah 15.392 jiwa, dikutip dari Worldometers.
Rumah sakit kebanjiran pasien COVID-19, terutama di kota-kota yang berbatasan langsung dengan negara India. Dalang dari lonjakan kasus ini disebut adalah varian Delta.
Kantor berita AFP melaporkan, rumah sakit di Kota Khulna mengalami krisis suplai oksigen dan tempat tidur perawatan. Banyak dari mereka yang terlantar di koridor rumah sakit dalam keadaan sesak napas.
Saking tingginya angka kematian akibat COVID-19, para relawan gali kubur di kota tersebut mengaku kewalahan.
Mohammad Babu, seorang penggali kubur di Permakaman Khulna, mengungkapkan bahwa selama 32 tahun ia bekerja, ia tak pernah merasa sesibuk ini.
“Jumlah pemakaman di tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang dulu-dulu,” ujar dia.
Selain lockdown, Bangladesh mempercepat vaksinasi demi menahan laju penularan corona. Namun, program vaksinasi COVID-19 Bangladesh kini sedang tertahan usai India menghentikan ekspor vaksin AstraZeneca.
Fiji
Fiji, sebuah negara kepulauan di selatan Samudra Pasifik, semakin kewalahan menghentikan laju penyebaran virus corona. Semakin cepatnya penularan COVID-19 ini disebabkan kemunculan varian Delta.
Akibat menyebarnya virus corona varian Delta, pada Selasa (6/7), Fiji melaporkan penambahan 636 kasus dan enam kematian.
Bagi negara kecil seperti Fiji, penambahan sebanyak itu adalah malapetaka. Bahkan, kamar mayat serta berbagai rumah sakit di Fiji terisi penuh dan membeludak.
Salah satu rumah sakit terbesar di Ibu Kota Suva, RS Memorial Perang Kolonial, seluruh kamar perawatan berjumlah 500 telah dijadikan ruang khusus perawatan pasien COVID-19.
Pemerintah Fiji bahkan sudah mengakui, banyak pasien COVID-19 yang terlambat mendapat perawatan karena rumah sakit terisi penuh. Beberapa di antaranya meninggal di rumah.
"Sayangnya kami melihat warga sakit berat meninggal di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit sebelum medis memberikan pertolongan yang bisa menyelamatkan nyawa," kata keterangan Kementerian Kesehatan Fiji seperti dikutip dari Reuters.
Meski kasus corona semakin besar, Pemerintah Fiji memastikan tak akan lockdown. Cara yang diambil untuk meredam penyebaran corona adalah memperluas vaksinasi.
Saat ini sebanyak 54 persen warga Fiji sudah menerima satu dosis vaksin COVID-19. Fiji menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sinopharm.
Afrika Selatan
Afrika Selatan juga tengah berjibaku dengan badai COVID-19, dengan penambahan kasus harian yang selalu mencapai di atas angka 10 ribu kasus. Negara ini tengah dilanda gelombang ketiga pandemi dengan jutaan warganya belum divaksinasi.
Per Selasa (6/7), Afrika Selatan mencatat penambahan kasus hingga 15.500 infeksi dan 457 kematian akibat COVID-19.
Sementara pada Sabtu (3/7) pekan lalu, penambahan kasus harian sempat mencapai titik tertinggi kedua, dengan 26 ribu infeksi dalam kurun waktu 24 jam.
Peningkatan kasus yang signifikan ini sungguh menyulitkan Afrika Selatan. Fasilitas kesehatan dan rumah sakit kewalahan, dengan penuhnya tempat tidur perawatan dan kurangnya tenaga kesehatan untuk merawat para pasien.
Bahkan, pada 26 Juni lalu, sejumlah ilmuwan mengatakan varian Delta mulai menjadi varian dominan di negara yang menjadi tempat lahir virus corona varian Beta (B.1351) ini.
Baru 5% dari total populasi Afsel yang sudah divaksinasi, atau sekitar 3,3 juta orang. Lambannya progress vaksinasi ini disebabkan oleh kegagalan birokrasi dan disertai “nasib buruk”.
