Seluk Beluk WIV, Lab di China yang Dituduh Penyebab Pandemi Corona

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19), duduk di dalam mobil saat tiba di Institut Virologi Wuhan di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19), duduk di dalam mobil saat tiba di Institut Virologi Wuhan di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Laporan terbaru yang dirilis oleh surat kabar Wall Street Journal (WSJ) mengenai Institut Virologi Wuhan (Wuhan Institute of Virology, WIV) kembali memicu perdebatan soal asal-usul SARS-CoV-2 atau virus corona.

Pasalnya, laporan intelijen Amerika Serikat mengungkap sebanyak tiga peneliti di Lab WIV harus mendapatkan perawatan di rumah sakit pada November 2019 atau tepatnya sebulan sebelum diumumkannya kasus virus corona pertama di Wuhan.

Dengan adanya laporan intelijen ini, teori konspirasi kebocoran lab sebagai penyebab utama pandemi dunia ini kembali menyeruak.

WIV, Fasilitas Penelitian Virus dengan Lab Tercanggih di China

Perjalanan Wuhan Institute of Virology diawali dari pendahulunya, Wuhan Institute of Microbiology (Institut Mikrobiologi Wuhan), yang pembangunannya direncanakan mulai 1956.

Sejak berdirinya sang pendahulu, nama institut ini terus menerus berganti. Hingga akhirnya pada 1978, nama WIV ini resmi melekat sebagai jati diri laboratorium yang disebut sebagai salah satu yang tercanggih di China dan bahkan di dunia.

Petugas keamanan berdiri di luar Institut Virologi Wuhan ketika anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki COVID-19 di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Dikutip dari laman resmi WIV, institut ini sudah melakukan berbagai penelitian serta gebrakan ilmu pengetahuan penting soal virus pada serangga, virus pada hewan, hingga preservasi klasifikasi virus sepanjang tahun 1980 hingga 1990-an.

Kemudian, saat wabah SARS merebak di China pada 2003, China beserta WIV dan Akademi Sains China melakukan berbagai penelitian serta upaya pencegahan da pengendalian penyakit tersebut.

WIV ini juga dikenal melakukan berbagai penelitian soal virus-virus corona (selain SARS-CoV-2) yang berasal dari kelelawar, seperti virus RaTG13, virus corona yang ditemukan pada kelelawar tapal kuda di barat daya China.

WIV, sejak beredarnya virus corona penyebab COVID-19 pada akhir 2019 lalu, sudah melakukan berbagai penelitian soal virus ini.

Pedagang menggunakan masker saat menawarkan udang untuk dijual di Pasar Baishazhou Wuhan, Provinsi Hubei, China. Foto: AFP/Hector RETAMAL

Dikutip dari Cision, Deputi Direktur Jenderal WIV, Guan Wuxiang, mengatakan bahwa penelitian dimulai sejak mereka menerima sampel “pneumonia yang tak diketahui” dari Rumah Sakit Wuhan Jinyintan.

WIV yang berlokasi di Provinsi Hubei, China, ini diketahui terletak hanya sekitar 14 km dari pasar basah Huanan.

Dikutip dari portal berita Axios,WIV merupakan rumah bagi Laboratorium Biosafety Nasional Wuhan atau lab Biosafety Level-4 (BSL-4). Lab dengan BSL-4 adalah lab dengan tingkat keselamatan biologi tertinggi.

Oleh karenanya, WIV menjadi satu-satunya institut yang diizinkan untuk menangani patogen-patogen yang dikenal paling berbahaya, salah satunya adalah virus Ebola dan Lassa.

Lab BSL-4 ini dikenal langka di seluruh dunia, dan negara yang memiliki lab BSL-4 dalam jumlah terbanyak adalah Amerika Serikat.

Menurut Science Mag, sebelum COVID-19, virus-virus corona selain SARS-CoV-2 diketahui diteliti pada lab dengan biosafety yang lebih rendah, yakni BSL-2 atau BSL-3.

Penelitian Asal-usul SARS-CoV-2 di Wuhan

Peter Ben Embarek dan Marion Koopmans, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona menghadiri konferensi pers studi bersama WHO-China di Wuhan, Hubei, China. Foto: Aly Song/REUTERS

Sejak Januari 2021, tim peneliti WHO melakukan penelitian di Wuhan untuk menggali asal-usul virus SARS-CoV-2. Penelitian ini dilandaskan 4 skenario:

  1. Satu orang terpapar virus tersebut lewat kontak langsung dengan spesies inang, yakni kelelawar tapal kuda.

  2. Transmisi ke manusia lewat spesies perantara yang saat ini belum diketahui.

  3. COVID-19 menyebar akibat skenario 1 atau 2, lalu ditularkan lewat produk makanan beku.

  4. Skenario bahwa virus ini bocor atau kabur dari WIV. WIV diketahui sebagai virus yang telah meneliti berbagai virus corona lainnya (selain SARS-CoV-2).

Hasilnya, Tim WHO yang menggelar penelitian di Wuhan, China, menyebut, kelelawar membawa virus itu ke manusia lewat hewan perantara. Tidak disebut hewan apakah itu.

Tim WHO pun mengesampingkan dugaan bahwa SARS-CoV-2 muncul dari lab ini.

Kegiatan yang dilakukan dalam lab ini sendiri sangat dirahasiakan. Bahkan, pada penelitian gabungan yang dilakukan oleh WHO di Wuhan untuk mencari tahu asal-usul SARS-CoV-2, WHO mengungkapkan bahwa lab ini tidak sepenuhnya menjabarkan data-data yang mereka miliki.

"Data dirahasiakan dari penyelidik WHO yang melakukan perjalanan ke China untuk meneliti asal-usul virus corona," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip dari Reuters pada akhir Maret 2021.

Kelelawar Lamotte roundleaf (Hipposideros lamottei). Foto: Wikimedia Commons

Laporan Intelijen AS

Hal inilah yang menyebabkan pertanyaan mengenai asal-usul SARS-CoV-2 terus bergulir. Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh intelijen AS soal jatuh sakitnya tiga peneliti di WIV itu semakin memicu perdebatan.

China dan pihak WIV menolak keras dugaan tersebut. Pada Senin (24/5/2021), jubir Menlu China Zhao Lijian, turut merespons laporan WSJ. Dia tak percaya ada tiga staf WIV yang sakit sebulan sebelum COVID-19 muncul.

"Ini sepenuhnya tidak benar," ucap Zhao seperti dikutip dari Reuters.

"AS terus meningkatkan soal teori kebocoran lab. Apakah karena mereka peduli soal investigasi atau hanya untuk mengalihkan perhatian?" sambung Zhao.

Menyusul adanya laporan intelijen tersebut, juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, angkat bicara. Menurutnya, tim teknis sedang mempertimbangkan langkah lanjutan terkait investigasi lanjutan asal virus corona apakah itu muncul di pasar hewan atau memang karena kebocoran laboratorium.

kumparan post embed