Semangat Gotong Royong dalam Memaknai Nilai Pancasila

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fasilitator di Kolaborasi Indonesia Daring. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Fasilitator di Kolaborasi Indonesia Daring. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)

Rangkaian hari ketiga Webinar Kolaborasi Indonesia Daring dilangsungkan kemarin (30/9) dengan mengusung tema "Pancasila Sebagai Nilai Inti". Fasilitator yang hadir pada hari ketiga adalah Yasraf Amir Piliang (Dosen ITB), H.S. Dillon (Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan), Natalia Soebagjo (Mantan Brand Chairman Tranparansi Indonesia), serta M. Rahmat Yananda (CEO Makna Informasi) yang bertindak sebagai moderator.

H.S. Dillon di awal mengajak masyarakat untuk melihat Pancasila sebagai pewujudan keadilan sosial dan tidak semata konsensus elit. Ia pun menyebutkan, kemanusiaan yang adil dan beradab menurut Bung Karno adalah dengan melaksanakan gotong royong, karena masyarakat Indonesia senasib dan sepenanggungan dalam perjalanan sejarahnya.

"Semua negara sedang berupaya mencapai pembangunan yang berkeadilan, salah satunya Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan suatu nilai tambah, suatu bagian dari keadilan untuk bisa mencapai keadilan sosial berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Itu yang harus kita perhatikan," kata salah satu fasilitator, Natalia Soebagjo, menambahkan pernyataan Dillon sebelumnya.

Selama ini, gotong royong banyak dilihat dalam bentuk fisik. Padahal yang berkembang saat ini adalah gotong royong otak atau brain working.

"Kolaborasi Indonesia merupakan salah satu bentuk kerja dengan otak. Kalau kita ingin memanifestasikan nilai-nilai Pancasila, anak muda saat ini sudah melakukan gotong royong. Yang diubah adalah mindsetnya menjadi mengolah otak kita untuk memecahkan masalah secara bersama," kata Yasraf di Balai Kartini, Jakarta, kemarin (30/9).

Dillon memiliki pandangan lain dengan melihat gotong royong bukan semata kegiatan fisik, namun juga harus adanya pemahaman kesetaraan untuk meningkatkan harkat kemanusiaan.

"Nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan. Gotong royong adalah kita memperlakukan orang dengan setara karena senasib dan sepenanggungan tanpa melihat suku, agama dan ras," ujar Dillon.

Para peserta Webinar Kolaborasi Indonesia. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Para peserta Webinar Kolaborasi Indonesia. (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)

Yasraf melihat saat ini dunia barat sedang gencar melakukan gotong royong yang dikembangkan oleh kebanyakan anak muda. Di Indonesia pun kondisinya serupa. Banyak perusahaan maupun startup baru yang dikembangkan anak muda dengan gotong royong sebagai usaha menjalankan nilai-nilai Pancasila.

"Nilai-nilai co sedang berkembang pesat terutama di (kalangan) anak muda, seperti co-creation, coworking space, collaboration, cognitariat dan lainnya. Anak muda sedang menjalankan nilai-nilai Pancasila, tetapi kita tidak memahami itu," tambah Yasraf.

Turut hadir salah satu pemrakarsa Kolaborasi Indonesia, Erry Riyana Hardhapamekas, yang memberikan kesimpulan akhir webinar hari ketiga.

"Pancasila merupakan konsensus elit, makanya memerlukan bahasa kelompok masing-masing. Kedua, gotong royong yang lebih ke kerjasama otak atau brain work. Kemudian pekerjaan rumah setelahnya adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai inti Pancasila dengan memanfaatkan teknologi. Kita butuh media publik, keseimbangan 3 pilar bangsa. Bentuk nyata yang diteladankan juga diperlukan dan tidak abstrak," tutup Erry di akhir acara webinar.

Webinar Kolaborasi Indonesia Daring merupakan inisiasi dari Kolaborasi Indonesia yang bertujuan mengumpulkan opini publik, menawarkan gagasan, ide dan pemikiran untuk kemajuan bangsa Indonesia. Diskusi daring ini berlangsung selama 3 hari, mulai hari Kamis - Sabtu, 28 - 30 September 2017.

Webinar dapat diakses melalui sebuah fitur belajar online interaktif, Classmiles. Layanan pembelajaran online ini menyediakan banyak ruang kelas virtual dan memungkinkan komunikasi interaktif antara guru dan siswa serta antar siswanya.