Semringah Santri Penghafal Al-Quran Kali Pertama Masuk Mal di Kota Bandung
ยทwaktu baca 3 menit

Sejak pagi, bocah berusia 10 tahun, Muhammad Wahidin, sudah berbaris tertib bersama rekan sebayanya di depan mal yang terletak di pusat Kota Bandung.
Senyum pun tersirat di wajahnya. Dengan memakai peci, pakaian dominan putih, dan membawa setangkai bendera merah putih berukuran kecil, dia terlihat begitu bersemangat dan antusias untuk memasuki mal.
Di dalam mal, Wahidin kemudian bergegas mengambil air wudu dan kembali ke barisannya. Dia lalu duduk bersila dan membacakan ayat suci Al-Quran secara bergiliran dengan teman-temannya. Lantunan ayat suci Al-Quran pun mengalun merdu di mal yang biasanya disesaki oleh para pencari hiburan.
"Iya (pertama kali). Sebelumnya belum pernah (masuk mal)" kata Wahidin ketika ditemui pada Senin (22/8).
Wahidin merupakan salah satu anak penghafal Al-Quran. Dia mulai berkenalan dan mempelajari Al-Quran sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Dia lalu tertarik untuk mempelajari kitab suci itu lebih jauh pada tahun 2020 lalu.
"Dari mulai tahun 2020 tertarik jadi Hafiz Quran," ucap dia.
Untuk lebih jauh mengenal Al-Quran, Wahidin sempat mondok cukup lama di daerah Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Darul Hidayah yang terletak di Kota Cimahi.
Kini, Wahidin mengaku sudah menghafal 13 juz dalam Al-Quran. Dia pun bertekad untuk menghafal seluruh isi Al-Quran atau menjadi Hafiz sebelum usianya menginjak dewasa.
"Insya Allah (sekarang) sudah 13 juz. Sampai beres," kata dia.
Di lokasi yang sama, Founder DeEP-F, Dewa Eka Prayoga mengatakan, kegiatan bernama 'Fun Day Santri Huffadz' tersebut diadakan dengan maksud mengajak para santri penghafal Al-Quran untuk turut serta bersenang-senang masuk ke mal dan menikmati wahana permainan yang ada di mal.
"Sebenarnya awalnya tuh adalah event tahunan yang hanya satu kali dalam setahun yaitu di bulan Ramadhan, tapi teman-teman pada merindukan mungkin suasana seperti ini maka kita buat lagi pasca kemerdekaan. Kita bekerja sama dengan Muhsinin Club dan Surgakan Indonesia dengan Al-Quran atau Sidaq," ucap dia.
Dewa menambahkan, terdapat sekitar 500 santri dari beragam jenjang pendidikan dan berasal dari berbagai pondok pesantren di Jabar yang mengikuti kegiatan itu. Santri yang mengikuti kegiatan itu merupakan utusan terbaik dari pondok pesantrennya masing-masing.
Ada pun sebelum menjajal berbagai wahana permainan, tiap santri terlebih dahulu harus menyetorkan hafalan surat minimal 3 juz kepada petugas yang dipilih secara acak. Dari pemantauannya, kegiatan itu mendapatkan respons positif dari para santri.
"Kemungkinan besar utusan dari berbagai pesantren itu adalah santri terbaiknya, ada 10 atau berapa orang yang diutus," kata dia.
Diharapkan, dengan adanya kegiatan itu, para santri dapat merasa bahagia dan memperoleh pengalaman berbeda. Di sisi lain, para petugas yang ikut terlibat dalam kegiatan itu diharapkan dapat memperoleh berkah dengan membahagiakan para santri penghafal Al-Quran.
"Kita pengin membahagiakan mereka dengan memberi kebahagiaan yang lain, santri ini kadang untuk bisa masuk ke sebuah tempat itu kadang jadi bingung karena dunia berbeda," tandas dia.
