Sengketa Pemilu, Pantai Gading Terancam Perang Saudara

Pantai Gading memanas akibat sengketa pemilu. Negara di Afrika Barat itu terancam kembali terjerembab ke dalam perang saudara.
Kerusuhan pecah di hampir seluruh Pantai Gading usai Presiden petahana Alassane Ouattara menang pemilu. Kemenangan Ouattara diraih usai menghapus aturan seseorang kandidat hanya boleh menjabat presiden selama dua periode.
Kemenangan Ouattara bahkan direbut dengan suara mencapai 94 persen. Kelompok oposisi menuduh Ouattara curang karena menghapus aturan periode jabatan.
Pada Senin (9/11) sampai Selasa (10/11) sebanyak tiga warga sipil tewas akibat pertikaian antarmasyarakat yang dipicu sengketa pemilu. Insiden berdarah itu terjadi di Kota M’Batto.
Sementara di berbagai kota lainnya, korban tewas mencapai sembilan orang. Total sudah 50 orang lebih kehilangan nyawa karena sengketa pemilu.
PBB menyebut, 8.000 lebih warga Pantai Gading mengungsi ke negara lain. Mereka mengkhawatirkan kondisi negara yang semakin memanas setelah pemilu pada 31 Oktober 2020 lalu.
Untuk meredakan konflik, Ouattara mengajak rivalnya Henri Konan Bodie berunding. Belum ada kepastian kapan perundingan tersebut terlaksana.
“Dialog iya, tapi hukum harus ditegakkan,” kata Ketua Umum Partai PDCI N’Goran Djiedri seperti dikutip dari AFP. PDCI adalah partai tempat Bodei bernaung.
Pantai Gading baru satu dekade sembuh dari perang saudara. Pada 2010, perang saudara pecah usai Ouattara menang pemilu untuk pertama kalinya.
Kala itu perang saudara di Pantai Gading menyebabkan sekitar 3.000 nyawa warga sipil melayang.
