Sepaham dengan Airlangga, Ical Ingin Golkar-1 Dipilih lewat Musyawarah

Partai Golkar akan mengadakan Munas pada awal Desember untuk memilih calon ketua umum. Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie alias Ical berharap agar pemilihan ketum berlangsung secara musyawarah mufakat.
Sikap Ical ini senada dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto yang menginginkan pemilihan ketum secara musyawarah.
"Saya tuh penginnya musyawarah untuk mufakat. Jadi kalau calonnya ada beberapa, kan kalau bermusyawarah kan baik. Tenaga kan bisa disimpan untuk berkompetisi dengan pihak lain. Paling baik musyawarah mufakat," kata Ical di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, Kamis (14/11).
Ical mengatakan, dengan mekanisme musyawarah setiap calon ketum dapat saling berunding untuk menyusun agenda partai ke depan dengan baik. Mantan Ketum Golkar ini menilai konsolidasi partai juga akan terbina lebih baik jika mekanisme pemilihan ketum melalui musyawarah.
"Kemudian saya harapkan calon-calon yang muncul nanti lakukan musyawarah mufakat kemudian menyusun satu organisasi yang terbaik," tambah Ical.
Setelah itu, Ical berharap nantinya ketum terpilih dapat segera menyusun strategi untuk kemenangan partai dalam pemilu 2024. Ia juga berharap partainya dapat memunculkan calon presiden atau wakil presiden dari unsur partai Golkar.
"Yang menang harus merangkul yang lain. Karena itu akan jadi kekuatan di Partai Golkar. Targetnya 2024 Golkar harus menang dan harus bisa mencalonkan presiden atau wakil presiden dari kader Golkar," tutup Ical.
Jelang Munas, Golkar kembali memanas setelah Wakorbid Pratama Bambang Soesatyo (Bamsoet) akan tetap maju sebagai calon ketum. Padahal, setelah dilantikan sebagai ketua MPR, Bamsoet memiliki sebuah kesepakatan dengan Ketum Airlangga Hartanto.
Airlangga dan Bamsoet juga saling berseberangan soal mekanisme pemilihan ketum Golkar dalam Munas. Airlangga menilai mekanisme pemilihan ketum haruslah melalui musyawarah. Sementara itu, Bamsoet menginginkan pemilihan ketum melalui voting.
