Seperti Apa Kehidupan Perempuan Saudi?

Kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia disambut meriah. Ia hadir dengan membawa 1.500 orang anggota rombongan, termasuk di antaranya delegasi dewan parlemen, para menteri, dan 25 pangeran.
Dari banyaknya rombongan yang ikut serta, sang ratu tidak terlihat mendampingi. Kenapa begitu?
Sebetulnya, ujar dosen Sastra Arab di Universitas Indonesia Yon Mahmudi, dari segi hukum tidak ada larangan bagi ratu atau wanita di Arab untuk ikut bepergian. Meski demikian, para wanita memang tidak boleh diperlihatkan ke hadapan publik.
“Tidak ada larangan. Para menteri yang ikut juga diperbolehkan membawa istri mereka. Tapi memang tidak boleh diperlihatkan langsung ke masyarakat,” ujar Yon kepada kumparan, Jumat (3/3).
Di Semenanjung Arab, ruang gerak perempuan tak sebebas di negara lain. Keterbatasan gerak atas perempuan, menurut masyarakat Arab, merupakan bentuk perlindungan dan penghormatan bagi kaum hawa.
Seperti apa sih kehidupan para perempuan di Arab Saudi? Berikut kami rangkumkan beberapa di antaranya dari berbagai sumber.
Dilarang menyetir

Tidak ada hukum resmi yang melarang perempuan mengendarai mobil di Arab Saudi. Meski demikian, pemerintah Saudi dan pemangku keputusan melarang wanita mengendarai mobil berdasarkan hukum Islam.
Larangan tersebut diyakini merupakan wujud perlindungan agar perempuan tak keluar rumah seorang diri.
Meski begitu, larangan mengemudi ini menuai berbagai kontra dari kelompok wanita. Pada 2011, sebuah kelompok bernama Women2Drive menggelar kampanye. Mereka berupaya meluruhkan hukum dan larangan tersebut.
Salah satu Pangeran Saudi, Alwaleed bin Talal, juga pernah mendesak pemerintah Kerajaan Saudi untuk mencabut larangan mengemudi bagi perempuan tersebut.
Dilansir The Guardian, 1 Desember 2016, Talal mengatakan sudah saatnya perempuan diizinkan mengemudi. Menurutnya, larangan mengemudi yang ditetapkan pemerintah adalah bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
“Setop perdebatan. Saatnya bagi perempuan untuk mengemudi,” tulis Pangeran Talal via akun Twitter-nya.
Namun, banyaknya protes yang dilayangkan tampaknya hanya menjadi angin lalu. Hingga saat ini, pemerintah setempat masih berkukuh tidak mengizinkan wanita di Arab mengendarai kendaraan roda empat.
Berperan cukup penting di pemerintahan

Sejak zaman dahulu, perempuan sebenarnya memiliki peranan penting dalam kehidupan politik di tanah Arab. Di lingkungan kerajaan misalnya, pendapat wanita sangat diperhitungkan dalam memilih petinggi negara.
Revolusi pemimpin di tanah Arab lantas terjadi. Jika biasanya peranan wanita di dunia politik hanya terbatas di belakang panggung, pada 2005 wanita mulai diberi kepercayaan untuk memegang berbagai jabatan penting di pemerintahan.
“Seperti menjadi wakil menteri pendidikan atau perwakilan majelis kota,” kata Yon.
Hadirnya wanita di kursi pemerintahan ini bukan tanpa sebab. Berbagai protes yang dilayangkan oleh sekelompok wanita untuk menuntut kesetaraan gender membuat pemerintah setempat bebenah. Wanita akhirnya mulai diberikan kepercayaan untuk tampil di panggung politik.
Mulai boleh bekerja

Tahun 2012 silam menjadi momen bersejarah bagi wanita di Arab Saudi. Kala itu Raja Abdullah bersedia menandatangani sebuah undang-undang baru terkait hak wanita.
Wanita mulai diizinkan untuk bekerja, meski terbatas hanya di toko-toko pakaian dalam dan kosmetik saja.
“Wanita di sana banyak yang protes ketika belanja pakaian dalam atau kosmetik tapi yang melayani pria, kan kikuk. Akhirnya ya Raja Arab setuju untuk membuat perubahan,” kata Yon.
Meski lapangan kerja yang diberikan pemerintah terbatas, pendidikan wanita di Arab Saudi tergolong tinggi, bahkan bisa lebih tinggi dari laki-laki. Lapangan pekerjaan yang sedikit justru memacu wanita di Arab untuk berlomba-lomba meraih pendidikan setinggi mungkin.
“Laki-laki di Arab habis SMA banyak yang langsung kerja. Kalau wanita, sedikit pilihan untuk bekerja karena lapangan pekerjaannya terbatas. Jadi biasanya mereka semangat buat lanjut pendidikan di perguruan tinggi. Yang menikah juga ada. Tapi dilihat dari survei, pernikahan wanita di Arab tidak tergolong muda-muda banget. Di usia normallah,” kata Yon.
Begitulah sekilas potret kehidupan wanita di tanah Arab. Bagaimana menurut pendapatmu?
