Serangan Israel Hantam Gerbang RS di Gaza: 1 Petugas Medis Tewas, 9 Warga Luka

Serangan udara Israel menghantam pintu masuk utara Rumah Sakit Lapangan Kuwait di wilayah Muwasi, Gaza, pada Selasa (15/4). Gempuran itu menewaskan satu petugas medis dan melukai sembilan orang lainnya.
Menurut juru bicara rumah sakit Saber Mohammed, seluruh korban luka adalah pasien dan staf medis.
Dua dari pasien masih dalam kondisi kritis. Belum ada komentar langsung dari militer Israel mengenai serangan membabi buta ini.
Rumah Sakit Lapangan Kuwait berada di wilayah Muwasi, zona yang sebelumnya diumumkan Israel sebagai “zona aman”, tempat ratusan ribu pengungsi tinggal di tenda-tenda setelah kehilangan tempat tinggal akibat perang yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Fasilitas medis/kesehatan dilarang diserang menurut hukum humaniter internasional.
Rumah Sakit Jadi Target Berulang
Selama konflik berlangsung, rumah sakit di Gaza beberapa kali menjadi target serangan militer Israel. Mereka selalu menuduh Hamas menggunakan fasilitas kesehatan untuk kepentingan militer.
Tuduhan dibantah oleh tenaga kesehatan, yang menyebut serangan tersebut merusak sistem layanan medis dan membahayakan warga sipil.
Minggu lalu, Israel menyerang Rumah Sakit Al-Ahli atau RS Baptis —fasilitas utama yang masih memberikan layanan kritis di Gaza utara —setelah memerintahkan evakuasi. Serangan merusak ruang gawat darurat, apotek, dan bangunan lain di sekitar rumah sakit.
Seorang pasien dilaporkan meninggal saat proses evakuasi. Keuskupan Episkopal Yerusalem, pengelola rumah sakit, mengutuk serangan tersebut.
Israel mengeklaim menyerang pusat komando Hamas di dalam rumah sakit, meski belum memberikan bukti atas tuduhan tersebut.
Serangan dan Sandera
Di hari serangan terbaru ke RS itu, serangan yang sama membuat Hamas kehilangan kontak dengan unit yang menjaga Edan Alexander, tentara Israel-Amerika berusia 21 tahun yang sebelumnya muncul dalam video pada pekan lalu.
Hamas menyatakan lokasi penyanderaan Alexander terkena serangan langsung.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengulang penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina saat berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui sambungan telepon.
Macron sebelumnya menyatakan Prancis berencana mengakui negara Palestina sebelum pertengahan tahun ini.
Pada hari yang sama, kantor Perdana Menteri mengumumkan kunjungan Netanyahu ke Gaza utara, kunjungan terbarunya ke wilayah tersebut sejak perang pecah.
Di dalam negeri, Netanyahu sering didemo masyarakat agar segera mengakhiri perang di Gaza sehingga sandera bisa dipulangkan.
