Serba-serbi Pasien Corona di Sumut yang Dipukuli saat akan Isoman
ยทwaktu baca 4 menit

Berdar sebuah video memperlihatkan seorang pria di Tobasa, Sumatera Utara, dipukuli warga. Dalam video tersebut, pria bernama Salamat Sianipar itu dipukuli menggunakan balok kayu dan hendak diikat.
Penggunaan balok kayu terlihat seakan warga menghindari menyentuh Salamat. Ia terlihat tergeletak di aspal jalan, ditahan oleh sejumlah orang menggunakan kayu lalu diikat.
Video itu diunggah oleh Joshua Banjarnahor di akun Instagramnya. Ia merupakan analis pencarian dan pertolongan di Basarnas. Dia mengatakan kejadian itu terjadi pada Kamis (22/7).
Di unggahan lainnya, ia menjelaskan bahwa Salamat hendak pulang ke kediamannya usai beberapa hari isolasi mandiri akibat positif COVID-19. Ia isolasi mandiri ditempatkan oleh aparat desa di sebuah gubuk jauh dari pemukiman warga.
Saat hendak pulang dan melanjutkan isolasi mandiri di kediamannya, Salamat malah ditolak, dan justru dipukuli oleh warga.
"Saya dapat laporan pada hari Kamis lalu Bapak Salamat Sianipar di ikat dan dipukuli seperti hewan oleh warga, dikarenakan ingin isoman di rumahnya di Desa Sianipar, Kecamatan Silaen Tobasa," kata Joshua.
Josua menjelaskan mengenai kronologi yang ia dan tim dapatkan di lapangan. Salamat sebelumnya melakukan rapid test antigen dan hasilnya reaktif.
Salamat lalu melakukan isolasi mandiri jauh dari pemukiman warga, di dekat hutan. Beberapa hari isolasi mandiri di lokasi tersebut, ia memilih pulang dan melanjutkan isolasi di kediamannya.
"Namun apa daya perlakuan biadab didapatinya dari warga," kata Joshua. Dia tidak menjelaskan berapa lama Salamat telah melakukan isolasi mandiri.
Joshua menyebut, setelah aksi kekerasan itu terjadi, Salamat dibawa ke rumah sakit Porsea dalam keadaan luka-luka.
Ia sempat lari dan sembunyi di sawah karena depresi, tetapi berhasil ditemukan oleh anggota Polres Tobasa dan ormas Pemuda Batak Bersatu (PBB). Salamat sudah dibawa kembali ke RS Porsea untuk jalani perawatan.
"Untuk orang-orang yang melakukan pengeroyokan akan ditindak dan kami juga berkoordinasi dengan pihak Polres Tobasa. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan Bapak Salamat segera sembuh. Saya juga berharap kepada Dinas terkait untuk lebih mengedukasi warga terkait COVID. Ingat covid bukan aib, enggak ada yang mau kena," kata dia.
Kepala Desa di Sumut: Pria yang Dipukuli Tak Betah saat Jalani Isoman
Kepala Desa Sianipar mengatakan, Salamat tidak betah menjalani isolasi mandiri. Hingga akhirnya, ia kembali ke rumah orang tuanya.
Kepala desa itu menyebut, aparat setempat telah memberikan tempat untuk isolasi mandiri di daerah Gunung Silabi. Hanya saja, tidak ada aliran listrik dan air di lokasi.
"Setelah berembug dengan orang tua dan istri Salamat Sianipar atas persetujuan keluarga, karena ada katanya dekat ladangnya, ada di situ yang dekat dengan air jadi atas persetujuan keluarga Saudara Salamat Sianipar kami tempatkan di lokasi itu," ujar kepala desa itu.
Pemerintah desa telah memberikan bahan makanan seperti beras satu karung, telur, buncis, garam, dan minyak goreng untuk keperluan isolasi mandiri selama 14 hari.
"Tetapi Saudara Salamat Sianipar tidak betah. Di sana tetangannya dan perangkat desa Kepala Dusun Tiga menelepon saya selaku Kepala Desa bahwa Salamat Sianipar jam 19.25 (Kamis, 22/7) sudah kembali ke rumah orang tuanya lagi," tambahnya.
Karena hal itu, ia kemudian langsung mengecek lokasi rumah Sianipar yang jaraknya 1,8 kilometer dari rumahnya. Ia dan sejumlah warga sekitar mencoba membujuk agar Sianipar kembali ke lokasi isolasi.
Penjelasan Bupati Toba
Sementara Bupati Kabupaten Toba, Poltak Sitorus, menegaskan Salamat tidak dianiaya. Warga hendak menangkap pria itu karena kabur saat menjalani isoman.
"Bukan untuk kekerasan, hanya mengamankan. Saya lihat masyarakat desa juga sangat peduli dengan Pak Selamat Sianipar ini," kata Poltak.
Kepala Desa Pardomuan, Toba, Timbang Sianipar, mengatakan peristiwa itu berawal saat Salamat diungsikan ke sebuah tempat dari lokasi isolasi. Keputusan itu sudah disetujui oleh pihak keluarga.
Selain itu, pemerintah desa juga telah menyediakan kebutuhan isoman Salamat, mulai dari beras hingga sabun.
"Beras 1 karung, telur 1 papan, dencis 2 kaleng, garam, minyak goreng, sabun mandi, sudah kami siapkan untuk saudara Selamat Sianipar," ujar Timbang.
Hanya saja, saat menjalani isoman, Salamat tidak kerasan hingga akhirnya pulang ke rumah. Hal itu dibenarkan oleh istrinya, Risma Sitorus.
Suaminya ingin memeluk Risma dan anaknya. Karena hal itu, warga mencoba mengamankan Salamat.
"Anakku mau dipeluk, 'nggak mau, Pak'. Lari kami. Jadi warga yang ngapakannya (menangkapnya), kami udah lari ke bawah," tutur Risma.
