Serba-serbi Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU
·waktu baca 6 menit

Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 dalam Muktamar ke-34 PBNU di Lampung. Gus Yahya mengalahkan petahana Said Aqil Siroj.
Pemilihan berlangsung di Gedung Serba Guna Universitas Lampung, Lampung, Jumat (24/12). Voting yang berlangsung sejak dini hari itu berlangsung ketat antara Gus Yahya dan Said Aqil.
Panitia yang membacakan kertas hasil voting bergantian menyebut "Gus Yahya..." atau "Kiai Said..". Suasana di arena muktamar tampak tegang.
Namun, hasil suara menunjukkan Gus Yahya unggul 337 suara jauh dari sang petahana Said Aqil yang mendapat 210 suara. Tidak sah 1 suara. Pendukung pun bersorak.
"KH Said Aqil Siroj MA 210 (suara), KH Yahya Cholil Staquf 337 (suara). Ada yang batal 1, total suara masuk 548 (suara)," ucap panitia membacakan hasil voting.
Mekanisme Pemilihan
Proses pemilihan dimulai dari pengusulan PWNU dan PCNU se-Indonesia, kemudian dilakukan penyaringan tahap pertama.
Hasil putaran pertama, Gus Yahya mendapatkan suara 327 suara, Said Aqil Siroj 203 suara, As’ad Said Ali mendapatkan 17 suara, Marzuki Mustamar 2 suara, Ramadhan Buayo 1 suara, abstain 1 suara dan batal 1 suara. Total suara 558.
Hanya dua nama yang memenuhi syarat yaitu Said Aqil dan Gus Yahya. Sesuai mekanisme di Tatib Muktamar, hasil penyaringan caketum itu dikonsultasikan kepada Rais Aam untuk musyawarah.
Namun, karena tak menemui titik temu, maka digelar pemilihan langsung secara voting hingga akhirnya Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU yang baru.
Selawat Iringi Kemenangan Gus Yahya
Setelah perolehan suara selesai, para anggota Muktamar pun bertakbir. Selepasnya langsung berselawat bersama.
"Salatullah salamullah 'ala taha rasulillah. Salatullah salamullah 'ala yasiin habibillah," demikian mereka bersenandung.
Pendukung berkumpul di area depan untuk memfoto hasil voting, maupun memfoto Said Aqil dan Gus Yahya yang duduk di depan.
Sosok Gus Yahya, Ketua Umum PBNU yang baru
Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Pada jabatan publik ia pernah menjabat jubir Gus Dur hingga Wantimpres Jokowi di 2018.
Ia juga merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Gus Yahya merupakan kakak dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas (Gus Yaqut). Keduanya lahir dan besar dari keluar santri.
Pendidikan formal Gus Yahya di pesantren. Ia pernah menjadi murid KH Ali Maksum di Madrasah Al-Munawwir Krapyak di Yogyakarta. Di jenjang perguruan tinggi, Gus Yahya melanjutkannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada.
Ayah Gus Yahya merupakan tokoh NU sekaligus salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yaitu KH Muhammad Cholil Bisri. Ibunya bernama Muchisnah. Selain itu, Gus Yahya juga merupakan keponakan dari Pengasuh Pondok Raudlatut Thalibin, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.
Gus Yahya dibesarkan dalam tradisi keilmuan dan budaya Nahdliyin, tercatat ia bahkan pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah.
Kader NU, Nusron Wahid, menilai Gus Yahya kandidat yang layak menggantikan Said Aqil yang sudah 2 periode memimpin PBNU.
“[Tokoh muda] yang paling siap dan mempersiapkan diri Gus Yahya. Saya berharap potensi generasi muda NU bersama-sama membawa angin perubahan di dalam NU menuju transformasi dan penyegaran yang lebih fresh,” kata Nusron.
Sebelum menjadi jubir Gus Dur, kedekatan Gus Yahya dengan Presiden ke-4 ini bermula dari pamannya, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang dekat dengan Gus Dur.
Ia pertama kali bertemu Gus Dur secara langsung lewat pamannya pada 1987. Gus Yahya mengaku sudah mengagumi Gus Dur lewat pemberitaan dan cerita pamannya sejak kecil. Sebelum resmi terpilih, ia pernah mengatakan akan menghidupkan kembali visi misi Gus Dur di NU jika menjadi Ketum.
Gus Yahya berpandangan seharusnya saat ini NU meneladani visi dan pikiran Gus Dur semasa hidup. Apalagi Gus Dur melakukan perjuangan peradaban yang seharusnya dilanjutkan oleh NU.
"Kalau kita pikirkan, kita pelajari Gus Dur, pergaulan dan pemikirannya, pergulatan pergerakannya, pergulatan politiknya, kita bisa. Kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Gus Dur melakukan perjuangan peradaban," kata dia.
Gus Yahya mengakui, selama ini telah berupaya membangun strategi untuk kembali menghidupkan Gus Dur.
"Terima Kasih Guru Saya, KH Said Aqil"
Setelah resmi terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya mengucapkan terima kasih kepada pesaingnya, Said Aqil Siroj.
"Yang paling awal saya haturkan terima kasih saya kepada guru saya, yang mendidik saya, menggembleng dan menguji saya, tetapi juga membuka jalan untuk saya dan membesarkan saya, yaitu Prof Dr KH Said Aqil Siroj," ucap Gus Yahya.
"Saya tidak tahu apakah akan cukup umur saya untuk membalas jasa-jasa beliau," imbuhnya.
Gus Yahya bersyukur Muktamar ke-34 berlangsung damai dan aman, tidak seperti Muktamar ke-33 yang sempat dikhawatirkan Ketua SC, M Nuh. Menurutnya, Muktamar yang kadang-kadang membuat orang di luar ketar-ketir, tapi nyatanya begitu dinikmati oleh peserta Muktamar yang berlangsung sejak kemarin.
"Ini adalah salah satu nikmat NU yang terus dirasakan dari generasi ke generasi, kita berkeyakinan bahwa muktamar itu adalah sumber barokah bagi NU," tuturnya.
Dia berterima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja untuk melangsungkan muktamar ini dengan baik. Juga berterima kasih kepada peserta muktamar dari seluruh daerah yang datang.
"Terima kasih kepada para muktamirin pengurus wilayah dan cabang di seluruh Indonesia yang telah menerima lamaran kerja saya. Namun lebih dari itu, terima kasih atas persetujuan dan kesepakatan bahwa kita akan bekerja bersama-sama sesudah ini," ucap Gus Yahya.
Gus Yahya Siap 'Hidupkan' Gus Dur
Gus Yahya memastikan siap membangkitkan visi misi Presiden RI ke-4 yang juga pernah menjadi Ketum NU, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam program-programnya ke depan.
Hal ini sesuai cita-cita Gus Yahya yang sejak lama ingin 'menghidupkan' Gus Dur melalui kepemimpinannya di NU.
"Selalu saya ulang-ulang, agenda ke depan ini adalah agenda menghidupkan Gus Dur. Kita tahu, bahwa ini bukan konsep yang sederhana tapi imajinasi masyarakat, imajinasi teman-teman semua tentang Gus Dur. Saya kira akan bisa menangkap apa yang saya maksud dengan menghidupkan Gus Dur," kata Gus Yahya.
Dalam memajukan NU, Gus Yahya menilai apa yang dilakukan Gus Dur adalah hal yang istimewa. Menurutnya tak mungkin ada seseorang yang mampu menggantikan Gus Dur.
Tetapi Gus Yahya menilai, semua masyarakat NU masih membutuhkan fungsi, peran, dan kehadiran Gus Dur. Sebab itu ia mengajak warga NU untuk membangun strategi agar NU sebagai organisasi bisa hadir dengan visi misi Gus Dur.
"Sehingga masyarakat, ketika merasakan apa yang dilakukan NU, layanan diberikan NU, masyarakat bisa merasakan kembali seolah-olah Gus Dur hadir lagi di antara kita," tandas dia.
Gus Yahya Tegaskan Tak Ada Intervensi Pemerintah di Muktamar PBNU
Terkahir, Gus Yahya menegaskan, tidak ada intervensi pemerintah dalam proses pemilihan ketum PBNU yang baru. Dia menyebut pelaksanaan muktamar hanya berlangsung dua hari sehingga tak mungkin terjadi intervensi.
"Ya enggak adalah (intervensi pemerintah). Intervensi dari mana. Enggak sempat dong intervensi dua hari," kata Gus Yahya.
Gus Yahya menyadari banyak tugas besar yang akan diembannya selama lima tahun ke depan. Namun, ia mengaku telah bersepakat dengan pengurus PBNU di wilayah untuk menghasilkan cara yang efektif dalam bekerja.
"Saya tahu ada pekerjaan-pekerjaan berat sekali yang harus dilakukan. Tapi saya juga sangat berbesar hati, karena sebelum ini saya sudah membuat kesepakatan dengan seluruh jajaran, dengan pengurus wilayah dan pengurus cabang NU seluruh Indonesia untuk memulai satu cara kerja sedemikian rupa," ucapnya.
"Sehingga kita semua bisa sungguh-sungguh bekerja bersama-sama menyangga beban bersama-sama, bergerak seirama untuk mencapai tujuan bersama," tutup dia.
