Serunya Lomba Panjat Gedebok Pisang Warga Pulo Gebang, Berebut Perabotan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Momen Pemenang Lomba Panjat Gedebok Pisang Mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Gedebok Pisang pada Peringatan HUT ke-81 RI di RT. 004/02, Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Momen Pemenang Lomba Panjat Gedebok Pisang Mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Gedebok Pisang pada Peringatan HUT ke-81 RI di RT. 004/02, Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Warga RT 04 RW 02, Kelurahan Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, punya cara unik untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Jika biasanya lomba HUT RI identik dengan panjat pinang, kali ini warga menggunakan gedebok pisang sebagai media perlombaan.

Perlombaan ini tak kalah seru, batang pisang yang telah dilumuri sabun membuat peserta harus bekerja keras untuk mencapai puncak.

Mereka saling bertumpu dan mengandalkan pundak teman agar bisa memanjat hingga menggapai hadiah yang digantung.

Lomba yang Menantang

Lomba Panjat Gedebok Pisang Dewasa-Anak pada Peringatan HUT ke-81 RI di RT. 004/02, Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Salah satu peserta, Amar (11), harus dua kali terjatuh sebelum akhirnya berhasil mencapai puncak. Tubuh kecilnya sempat kehilangan keseimbangan karena batang yang licin.

"Licin sama susah," kata Amar saat ditemui kumparan usai perlombaan, Senin (17/8).

Amar bersama dua rekannya kemudian mencoba lagi. Strateginya sederhana, satu peserta menjadi pijakan, sementara peserta lain memanjat melalui pundak temannya.

Setelah serangkaian kegagalan, Amar akhirnya berhasil mencapai bagian atas. Ia mengambil sejumlah hadiah yang tersedia, mulai dari uang, handuk, sajadah, payung, hingga sandal.

"Senang banget," ujar Amar dengan riang.

Variasi dari Panjat Pinang

Ketua pelaksana perlombaan, Ahmad R. Ilham (18), mengatakan lomba panjat gedebok pisang sengaja dibuat sebagai variasi dari panjat pinang.

Ide tersebut juga muncul dari keinginan warga untuk membuat perayaan tahun ini berbeda dari sebelumnya.

Teknis perlombaan dilakukan secara berkelompok. Dua orang peserta terlebih dahulu berusaha mencapai hadiah. Jika belum berhasil dalam waktu yang ditentukan, panitia akan menambahkan satu peserta dari kalangan remaja untuk membantu.

"Untuk gedebok pisang itu maknanya kita di situ bisa mendapatkan nilai kebersamaan dan kerja sama dan kerja keras juga untuk membantu dan men-support satu sama lain," kata Ilham dengan semangat.

Hadiah yang dipasang pun dibuat dekat dengan kebutuhan warga. Ada kipas, penanak nasi, tumbler, peralatan masak, alat salat, sandal, hingga uang tunai.

Hadiah Patungan Warga

Momen Pemenang Lomba Panjat Gedebok Pisang Mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Gedebok Pisang pada Peringatan HUT ke-81 RI di RT. 004/02, Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ketua Karang Taruna RT 04 RW 02, Rasyadi Pratama (17), mengatakan hadiah tersebut berasal dari patungan warga dan donatur.

"Bentuk semacam kayak kipas, perabotan-perabotan rumah tangga, uang tunai ada, seperti alat salat, tempat minum," ujarnya.

Bagi warga, lomba tersebut akhirnya bukan sekadar soal siapa yang paling cepat mencapai puncak. Peserta harus saling membantu karena tidak akan mudah menaklukkan batang pisang yang licin seorang diri.

Mahesa (12), salah satu peserta, juga merasakan hal serupa. Ia mengikuti sejumlah perlombaan, termasuk panjat pinang. Menurutnya, pengalaman tersebut mengajarkan peserta untuk saling membantu.

"Seru, karena kita bisa belajar saling membantu, saling tolong-menolong," kata Mahesa.

Panitia menilai lomba panjat gedebok pisang menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik dalam rangkaian perayaan kemerdekaan di lingkungan tersebut. Tahun ini, warga menggelar berbagai perlombaan untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga bapak-bapak.

Semangat yang muncul dari lomba tersebut menjadi bagian dari cara warga memaknai kemerdekaan.