Seskab Teddy: Pertamax BBM Non Subsidi, Ikuti Harga Dunia Sejak Maret

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya mengungkap alasan penyesuaian harga BBM Pertamax, yang naik. Ia menyebut, Pertamax merupakan BBM non-subsidi sehingga harganya harus mengikuti harga minyak dunia.

"Pertamax adalah BBM Non-subsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia," kata Teddy dalam unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet, Jumat (12/6).

Teddy menegaskan, BBM yang bersubsidi tidak ikut naik.

"Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM Subsidi tidak naik. Pertalite Rp 10.000. Solar Rp 6.800," lanjutnya.

Teddy menuturkan, harga dunia sudah naik sejak bulan Maret. Sementara, pemerintah sudah menahan kenaikan harga selama berbulan-bulan.

Seskab Teddy Indra Wijaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret. Tetapi Pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," ucap dia.

Meskipun Pertamax di Indonesia mengalami kenaikan harga, Teddy menegaskan bahwa harga di Indonesia masih jauh lebih murah dibanding negara lain.

"Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," tutup Teddy.

Berikut perbandingan harga BBM RON 92/95 di negara ASEAN:

  • Indonesia Rp 16.260

  • Filipina Rp 22.158

  • Laos Rp 31.945

  • Thailand Rp 28.910

  • Myanmar Rp 25.085

  • Singapura Rp 42.971