Setelah Nepal Diterjang Banjir Bandang

Sebanyak 579 orang tewas dan 1.924 orang dilaporkan hilang usai banjir bandang menerjang Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8). Hingga kini, pencarian terhadap korban bencana alam ini masih terus dilakukan.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengunjungi sejumlah wilayah yang terdampak paling parah. Ia meminta pemerintah daerah segera memberikan bantuan kepada keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan membuka jalan yang tertutup.
Sementara itu, Perdana Menteri China Li Qiang mengunjungi wilayah terdampak di Tibet untuk memantau langsung upaya penanganan bencana
Berikut serba-serbi bencana tersebut:
Gletser Runtuh, Bendungan Es Jebol
Bencana ini diduga berawal dari jauh dari lokasi terdampak. Gletser di Pegunungan Himalaya, yang mencair karena pemanasan global, runtuh hingga membentuk bendungan es, yang kemudian jebol memicu gelombang banjir bandang di Nepal.
Ahli gempa dan geofisika dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan analisis ilmiah di balik rangkaian bencana yang menewaskan ratusan orang tersebut.
Menurut Daryono, pemanasan suhu atmosfer yang terakumulasi di dataran tinggi mempercepat dinamika kriosfer atau perubahan lapisan es secara ekstrem. Akibatnya es meleleh secara intensif menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi di batas antara es dan batuan penopangnya.
"Air lelehan tersebut menguraikan daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas struktural massa es raksasa yang berada di lereng-lereng terjal pegunungan," tulis Daryono dalam keterangannya.
Pemanasan suhu atmosfer yang menyebabkan lelehan es ini diduga karena adanya perubahan iklim global.
Ketidakstabilan itu lantas membuat es padat bercampur batuan berukuran masif mengalami keruntuhan mendadak alias glacier collapse—jatuh bebas dari ketinggian lebih dari satu kilometer menuju dasar lembah terjal.
Benturan berkecepatan tinggi ini, kata Daryono, melepaskan energi kinetik luar biasa besar—setara guncangan tektonik skala magnitudo 5,0-5,2.
Energi itulah yang menghancurkan material es menjadi pecahan mikroskopis, lumpur, dan lelehan air akibat konversi suhu dari gesekan mendadak.
Runtuhan es dan longsoran material tersebut kemudian menyumbat alur sungai utama di lembah bawah, membentuk bendungan alami dari es dan longsoran (landslide dan ice dam). Penyumbatan ini menjebak aliran sungai sekaligus pasokan air lelehan baru dari hulu.
Dalam hitungan jam, terbentuk danau raksasa sementara di balik "benteng" debris tersebut, menciptakan tekanan hidrostatik ekstrem yang terus mendorong dinding penahan dari dalam.
"Ketika struktur penahan yang tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika (breach)," jelas mantan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG itu.
Bendungan Jebol sebabkan Banjir Bandang
Jebolnya bendungan alami ini memicu gelombang banjir bandang (outburst flood) berupa dinding air pekat bercampur lumpur, batuan raksasa, dan debris padat, yang bergerak ke hilir dengan kecepatan sangat tinggi. Muka air sungai melonjak drastis hanya dalam hitungan menit.
Daya hancur aliran debris yang massa jenisnya jauh lebih berat dari air biasa dengan mudah merobohkan tanggul bantaran sungai, menghancurkan jembatan, dan menyapu bersih permukiman warga di tepi aliran.
"Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan," terang Daryono.
Longsor Bentuk Danau Baru
Sebuah danau baru terbentuk setelah material longsor membendung aliran air di kawasan perbatasan China-Nepal. Namun, danau tersebut kini justru memunculkan potensi bencana baru karena airnya dikhawatirkan dapat memicu banjir di wilayah hilir.
Danau itu terbentuk setelah longsor menerjang kawasan perbatasan Gyirong pada Rabu (26/8).
Media pemerintah China, CCTV, melaporkan danau baru yang terbentuk akibat longsor tersebut berpotensi jebol. Jika hal itu terjadi, air dalam jumlah besar dikhawatirkan mengalir ke wilayah hilir dan menyebabkan banjir baru.
CCTV menyebut permukaan air danau diperkirakan terus naik dalam beberapa hari ke depan, dengan puncak kenaikan diprediksi terjadi pada 1 September 2026.
"Menurut perkiraan, aliran masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik selama tiga hari ke depan di tengah curah hujan yang terus berlanjut, meningkatkan risiko jebol yang dapat menyebabkan banjir di hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di daerah-daerah termasuk Pelabuhan Gyirong dan tempat lain di hilir," kata laporan media pemerintah China lainnya, Xinhua, seperti dikutip Reuters.
Prakiraan cuaca yang dirilis otoritas China menunjukkan hujan deras diperkirakan mengguyur kawasan bencana dalam tiga hari ke depan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volume air di danau dan memperbesar risiko jebol.
